Bellingham Bungkam Kritik Tuchel, Inggris Lolos Semifinal Usai Taklukkan Haaland

Skor akhir 2-1 memastikan Timnas Inggris melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Norwegia dalam laga sengit di Lusail Stadium, Minggu (12/7) malam. Namun, hasil ini bukan sekadar tike...

Bellingham Bungkam Kritik Tuchel, Inggris Lolos Semifinal Usai Taklukkan Haaland

Skor akhir 2-1 memastikan Timnas Inggris melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Norwegia dalam laga sengit di Lusail Stadium, Minggu (12/7) malam. Namun, hasil ini bukan sekadar tiket empat besar; ini adalah panggung Jude Bellingham untuk membungkam kritik pedas yang datang dari mantan pelatih Chelsea dan Borussia Dortmund, Thomas Tuchel.

Sejak peluit awal dibunyikan, Inggris tampil dengan formasi 4-2-3-1, menempatkan Bellingham sebagai playmaker di belakang Harry Kane. Norwegia, dengan formasi 4-3-3, mengandalkan trio Erling Haaland, Martin Ødegaard, dan Alexander Sørloth untuk menusuk dari sisi sayap. Pertandingan langsung memanas: menit ke-7, Bellingham sudah mengirim umpan terobosan yang nyaris disambut Kane, tetapi bendera offside menghentikan momentum.

Babak Pertama: Dominasi Inggris yang Belum Menghasilkan Gol

Inggris memegang kendali penguasaan bola hingga 62% di 45 menit pertama, namun rapatnya pertahanan Norwegia membuat peluang emas sulit tercipta. Declan Rice dan Jordan Henderson menjadi tembok ganda yang memutus aliran bola ke Haaland, memaksa striker Manchester City itu hanya mencatatkan satu sentuhan di kotak penalti pada babak pertama. Justru Inggris yang nyaris unggul pada menit ke-23 ketika tendangan curling Bellingham dari luar kotak penalti membentur tiang kiri gawang Ørjan Nyland.

Namun, kebuntuan pecah di menit ke-34. Umpan silang akurat Bukayo Saka dari sisi kanan disambut tandukan terarah Kane yang tak mampu dijangkau Nyland. Gol ke-60 Kane di level internasional itu membawa Inggris memimpin 1-0. Statistik shots on target saat itu: Inggris 4, Norwegia 0. Tuchel yang menyaksikan dari tribune media tak bisa menyembunyikan ekspresi datarnya saat kamera menyorot.

Babak Kedua: Haaland Bangkit, Bellingham Menjawab

Memasuki babak kedua, Norwegia meningkatkan intensitas. Hanya tiga menit setelah restart, Haaland menunjukkan mengapa ia menjadi momok paling menakutkan. Berawal dari serangan cepat yang dibangun Ødegaard, Haaland melepaskan tendangan first-time di menit ke-48 yang bersarang telak di pojok kiri gawang Jordan Pickford. Skor berubah 1-1, dan penguasaan bola Norwegia melonjak menjadi 44% dari sebelumnya 38%. Haaland hampir mencetak gol kedua di menit ke-57, tetapi VAR menganulirnya karena offside tipis.

Di titik inilah Bellingham membuktikan ketangguhan mentalnya. Kritik Tuchel sebelum pertandingan—yang menyebut Bellingham "terlalu individualistis dan mudah kehilangan bola di laga besar"—mungkin terngiang di benaknya. Menit ke-68, serangan balik cepat Inggris yang dibangun dari sektor kiri menghasilkan gol indah. Umpan satu-dua antara Bellingham dan Phil Foden mengecoh lini belakang Norwegia. Bellingham, dari posisi gelandang serang, melepaskan tembakan menyusur tanah yang menaklukkan Nyland. 2-1 untuk Inggris, dan Bellingham berlari ke sudut lapangan dengan gestur menutup telinga—sebuah pesan yang jelas ditujukan pada kritik yang diterimanya.

Selepas gol itu, Norwegia meningkatkan tekanan. Tercatat 9 total shots Norwegia di babak kedua, 4 di antaranya on target, sementara Inggris hanya menambah 2 shots. Pickford melakukan penyelamatan krusial di menit ke-81, menggagalkan sundulan Leo Østigard. Pertandingan ditutup dengan kartu kuning untuk Kieran Trippier (menit ke-89) dan Andreas Hanche-Olsen (menit ke-90+2) setelah bentrokan keras di lini tengah.

Statistik dan Analisis: Mengapa Bellingham Jadi Pembeda

Data akhir menunjukkan penguasaan bola Inggris 57% berbanding 43% milik Norwegia. Namun, yang paling mencolok adalah expected goals (xG): Inggris 1.47, Norwegia 1.62. Artinya, secara kualitas peluang, Norwegia justru lebih tajam. Namun, aksi individu Bellingham—yang menghasilkan angka xGOT (expected goals on target) sebesar 0.34 dari tendangan golnya—menjadi kunci. Itu adalah nilai xGOT tertinggi di antara semua pemain yang berlaga malam itu.

"Saya mendengar apa yang dikatakan. Tapi saya kira orang yang tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya melawan pemain seperti Erling [Haaland] tidak akan mengerti tekanan di lapangan. Dia [Tuchel] tidak tahu rasanya lawan Haaland. Kami lolos, dan itu yang terpenting," ujar Bellingham dalam sesi jumpa pers usai laga.

Komentar itu sontak menjadi perbincangan. Tuchel, yang musim lalu melatih di level klub dan kerap memberikan analisis tajam untuk televisi Jerman, belum memberikan respons. Namun, statistik Bellingham malam itu berbicara lantang: 92% akurasi umpan, 3 dribel sukses dari 4 percobaan, 2 tekel krusial, dan tentu saja satu gol penentu.

Startegi Gareth Southgate yang kembali menempatkan Bellingham sebagai gelandang serang bebas—bukan sebagai false nine seperti di fase grup—terbukti tepat. Formasi 4-2-3-1 memberi ruang bagi Bellingham untuk mengeksploitasi celah antara lini tengah dan pertahanan Norwegia yang sering naik terlalu tinggi. Sementara itu, duel antara Haaland dan John Stones menjadi subplot menarik. Stones mencatatkan 7 clearance dan 3 intersep, terbanyak di antara pemain bertahan Inggris, meski tetap tak bisa mencegah gol sang striker.

Dengan hasil ini, Inggris akan menunggu pemenang antara Argentina dan Portugal di semifinal. Bellingham, yang kini telah mengoleksi 4 gol dan 3 assist di Piala Dunia 2026, semakin kokoh dalam perburuan Ballon d'Or. Kritik Tuchel mungkin hanya menjadi bahan bakar tambahan bagi pemain 23 tahun itu untuk terus membara. Malam itu, di depan 88.000 penonton, satu hal pasti: Jude Bellingham tidak pernah segan menjawab di atas rumput.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User