Raden Margono, Kakek Prabowo, Dirikan BNI Bank Pertama Indonesia
Di balik megahnya industri perbankan Tanah Air, tersimpan nama besar yang jarang terungkap: Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo. Sosok ningrat Jawa yang sa
Di balik megahnya industri perbankan Tanah Air, tersimpan nama besar yang jarang terungkap: Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo. Sosok ningrat Jawa yang satu ini bukan hanya dikenal sebagai kakek dari Presiden Prabowo Subianto, melainkan juga arsitek utama berdirinya bank pertama milik bangsa Indonesia, Bank Negara Indonesia (BNI) 46. Perjuangannya melawan dominasi kolonial telah menancapkan tonggak krusial dalam sejarah moneter nasional.
Latar Belakang Seorang Aristokrat Visioner
Raden Margono lahir di lingkungan priyayi pada era kolonial Belanda. Pendidikan Baratnya tidak membuat ia kehilangan rasa kebangsaan; justru, kesadaran akan ketimpangan ekonomi yang diderita bumiputra mendorongnya terjun ke sektor keuangan. Kariernya diawali sebagai pegawai Volkscredietwezen, lembaga kredit rakyat bentukan pemerintah Hindia Belanda. Di sanalah ia menyaksikan langsung bagaimana akses permodalan hanya dinikmati segelintir elite Eropa dan Timur Asing.
“Rakyat kita butuh lembaga keuangan sendiri, bukan bank yang dikendalikan dari Amsterdam. Kemerdekaan politik tak berarti tanpa kedaulatan ekonomi,” demikian prinsip yang kerap disuarakan Margono di hadapan para pendiri republik.
Menyulut Api Pendirian Bank Nasional
Detik-detik proklamasi kemerdekaan 1945 menjadi momentum emas. Pemerintah Republik Indonesia yang baru terbentuk membutuhkan instrumen moneter yang merdeka untuk membiayai jalannya roda pemerintahan, membayar gaji pegawai, serta menggerakkan perekonomian yang porak-poranda akibat perang. Saat itu, satu-satunya bank sirkulasi adalah De Javasche Bank (DJB)—bank swasta milik Belanda yang masih beroperasi dengan logika kolonial.
Atas inisiatif Wakil Presiden Mohammad Hatta, Margono ditunjuk untuk menyusun cetak biru sebuah bank negara. Bermodal pengalaman panjang mengelola kredit rakyat serta jaringan kepercayaan di kalangan saudagar pribumi, Margono bergerak cepat. Ia menyadari bahwa waktu adalah kunci; setiap hari tanpa bank sendiri berarti denyut nadi ekonomi republik masih menggantung di tangan penguasa lama.
Dekrit Pendirian di Tengah Revolusi
Tepat pada 5 Juli 1946, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1946 dikeluarkan, menyatakan berdirinya Bank Negara Indonesia. Margono dipercaya memimpin sebagai direktur utama pertama. Pelantikan dilakukan di Yogyakarta yang kala itu menjadi ibu kota perjuangan. Modal awal disokong dari obligasi pemerintah dan sumbangan masyarakat, sekaligus menjadi cikal bakal bank sentral pertama Indonesia—sebelum akhirnya fungsi sirkulasi uang diambil alih oleh Bank Indonesia pada 1953.
BNI di masa itu bukan sekadar bank komersial; ia merupakan simbol perlawanan ekonomi. Kantor-kantor cabang dibuka di kota-kota strategis, bahkan di wilayah yang kerap terjadi baku tembak antara gerilyawan dan pasukan Belanda. Margono sendiri acap kali harus melakukan perjalanan rahasia demi menjamin distribusi Oeang Republik Indonesia (ORI) tetap sampai ke pelosok.
Benteng Terakhir Melawan De Javasche Bank
Setelah pengakuan kedaulatan pada 1949, Belanda berupaya mengembalikan De Javasche Bank sebagai bank sirkulasi yang menguasai rupiah. Margono tampil sebagai oposan terdepan. Ia menolak mentah-mentah konsep “penghidupan kembali” DJB yang hanya akan memperpanjang nafas kolonialisme dalam wajah baru. Dalam berbagai sidang di parlemen dan kabinet, ia mendesak pemerintah untuk segera menasionalisasi DJB dan meneguhkan BNI sebagai pilar perbankan bangsa.
Sikap keras Margono bukan tanpa risiko. Ia mendapat tekanan dari kalangan pemodal asing yang masih menguasai sektor ekspor-impor. Namun dengan dukungan tokoh nasionalis seperti Sjafruddin Prawiranegara dan Soemitro Djojohadikoesoemo (putranya sendiri yang juga ekonom terkemuka), ia berhasil mempertahankan mandat BNI. Puncaknya, pada 1 Juli 1953, pemerintah akhirnya membentuk Bank Indonesia yang menasionalisasi fungsi DJB, sementara BNI tetap eksis sebagai bank umum pelopor.
Warisan yang Melampaui Generasi
Saat ini, BNI menjadi salah satu bank terbesar dengan aset mencapai lebih dari Rp800 triliun (data 2025). Namun nilai perjuangan Raden Margono tak sekadar tersimpan di angka neraca keuangan. Namanya diabadikan di gedung-gedung penting, dan narasi kiprahnya kembali hidup ketika cucunya, Prabowo Subianto, dilantik sebagai Presiden ke-8 RI. Dalam beberapa kesempatan, Prabowo kerap mengutip ajaran sang kakek: “Republik ini harus berdiri di atas kaki sendiri, bukan di atas utang.”
Melihat kiprahnya yang begitu fundamental, tak berlebihan jika Raden Margono Djojohadikoesoemo disebut sebagai Bapak Perbankan Nasional. Ia bukan sekadar figur bayangan di balik berdirinya BNI, melainkan penjaga gawang kedaulatan ekonomi Indonesia di masa-masa paling rapuh.
[SOCIAL_TWEET]: Kakek Prabowo ternyata pendiri BNI! 🏦 Raden Margono Djojohadikoesoemo bukan hanya mendirikan bank pertama Indonesia, tapi juga jadi benteng terakhir melawan dominasi bank kolonial. Warisannya masih hidup sampai kini. #SejarahEkonomi #BNI #PrabowoSubianto[SOCIAL_TG]: 👀 Fakta mengejutkan! Pendiri BNI, bank pertama RI, adalah kakek Presiden Prabowo. Dari menentang DJB hingga dirikan bank di tengah revolusi—simak cerita heroiknya di sini! 🇮🇩
Comments (0)