Argentina Cetak Sejarah dengan Dua Gol di Laga Extra Time Beruntun
Babak perempat final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Swiss di Stadion MetLife, New Jersey, baru saja menorehkan lembaran anyar dalam buku rekor turnamen. La Albiceleste menundukkan tim asuhan Mu...
Babak perempat final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Swiss di Stadion MetLife, New Jersey, baru saja menorehkan lembaran anyar dalam buku rekor turnamen. La Albiceleste menundukkan tim asuhan Murat Yakin dengan skor 2-1, namun yang lebih bikin decak kagum bukan sekadar kemenangan itu. Gol penentu yang lahir di menit ke-112, hasil lesakan Lautaro Martínez, melengkapi sebuah capaian bersejarah: Argentina menjadi tim pertama sepanjang 96 tahun gelaran Piala Dunia yang sukses mencetak gol di dua babak extra time secara beruntun di fase gugur. Sebelumnya, di babak 16 besar, mereka juga menundukkan Denmark 2-1 berkat gol Julián Álvarez di menit ke-108. Dua gol tambahan dalam dua laga hidup-mati, dua kemenangan, dan satu tiket semifinal yang kini sah digenggam.
Kemenangan atas Swiss bukanlah parade tanpa cela. Argentina sempat unggul lebih dulu lewat eksekusi penalti Lionel Messi di menit ke-34, setelah Nicolás Tagliafico dijatuhkan di kotak terlarang. Penguasaan bola tim Tango mencapai 61 persen sepanjang 90 menit waktu normal, dengan 18 percobaan tembakan dan 7 di antaranya mengarah ke gawang. Namun Swiss yang tampil rapi dalam formasi 4-2-3-1 perlahan menemukan ritme. Menit ke-78, Breel Embolo menyamakan kedudukan melalui skema serangan balik cepat yang memanfaatkan celah di sisi kanan pertahanan Argentina. Skor 1-1 bertahan hingga peluit akhir waktu normal, memaksa laga berlanjut ke extra time untuk ketiga kalinya bagi Argentina di turnamen ini.
Di sinilah narasi sejarah mulai ditulis ulang. Jika pada babak 16 besar melawan Denmark, Argentina menunggu hingga menit ke-108 untuk memecah kebuntuan lewat tandukan Álvarez, kali ini mereka sedikit lebih cepat menuntaskan misi. Masuknya Leandro Paredes dan Giovani Lo Celso di menit-menit kritis memberi napas baru. Menit ke-112, umpan tarik Lo Celso dari sisi kiri gagal dijangkau bek Swiss, bola liar jatuh ke kaki Lautaro Martínez yang tanpa ampun melepaskan tembakan first-time ke pojok kiri bawah gawang Yann Sommer. Gol itu menjadi gol ke-4 Martínez di turnamen, sekaligus gol penentu yang mengkonfirmasi pencapaian belum pernah terjadi sebelumnya: dua kali berturut-turut Argentina mencetak gol di masa extra time, dan keduanya berbuah kemenangan.
Perbandingan Dua Laga Hidup-Mati
Menarik untuk menelisik lebih dalam bagaimana dua partai yang berujung serupa itu menyajikan dinamika berbeda. Ketika melawan Denmark di babak 16 besar, Argentina mendominasi penguasaan bola hingga 58 persen dan menciptakan 14 shots on target dari total 22 tembakan. Namun solidnya kiper Kasper Schmeichel dan disiplinnya blok pertahanan Kasper Hjulmand membuat laga harus masuk ke tambahan waktu. Gol Álvarez di menit ke-108 hadir dari assist Enzo Fernández lewat skema tendangan bebas yang cerdik. Statistik menunjukkan dari 14 umpan silang yang dilepaskan malam itu, baru satu yang berhasil dikonversi menjadi gol—dan itu terjadi di masa extra time.
Beralih ke perempat final, dominasi Argentina justru sedikit menurun. Penguasaan bola mereka 61 persen, tapi efektivitas serangan menurun karena Swiss memainkan garis pertahanan tinggi dan pressing agresif. Argentina hanya mencatatkan 7 shots on target, lebih sedikit dari laga sebelumnya. Namun, tingkat konversi peluang di extra time justru meningkat. Lautaro Martínez mencetak gol dari situasi open play yang lebih mengandalkan insting predator daripada skema terstruktur. Pelatih Lionel Scaloni juga melakukan tiga pergantian pemain ofensif yang membuat Argentina bermain dengan empat penyerang di 15 menit terakhir, sebuah risiko yang akhirnya terbayar lunas.
Mengapa Rekor Ini Begitu Spesial?
Sepanjang sejarah Piala Dunia, hanya ada segelintir tim yang mampu mencetak gol di babak extra time dalam satu turnamen, apalagi melakukannya di dua partai beruntun. Sebelum Argentina, rekor terbaik dicatat oleh Jerman Barat di 1990 yang mencetak gol di extra time saat mengalahkan Belanda di 16 besar, namun gagal mengulanginya di perempat final kontra Cekoslowakia (menang lewat adu penalti). Rekor lainnya milik Italia di 1994 yang menang lewat gol Roberto Baggio di extra time melawan Nigeria, lalu kemudian juga menang di perempat final lewat gol tambahan melawan Spanyol—tapi gol kontra Spanyol lahir di menit ke-88 waktu normal, bukan extra time. Artinya, Argentina benar-benar menciptakan preseden baru: dua laga gugur berturut-turut di Piala Dunia, semuanya dituntaskan dengan gol di masa tambahan.
Data shots on target di extra time menjadi kunci. Dalam dua laga tersebut, Argentina melepaskan total 5 tembakan tepat sasaran di masa tambahan, sementara lawan mereka cuma mencatatkan 1. Efisiensi ini tidak lepas dari kebugaran luar biasa para pemain. Pelatih fisik Argentina, Luis Martín, memang dikenal menerapkan program high-intensity interval training yang membuat Messi dan kolega tetap bertenaga hingga menit ke-120. Bahkan di laga kontra Swiss, Messi yang sudah berusia 39 tahun masih mampu melakukan sprint sejauh 1,2 kilometer sepanjang extra time, lebih jauh dari rata-rata pemain Swiss di periode yang sama.
Respon Ruang Ganti dan Statistik Penting
Usai laga, Scaloni tak bisa menyembunyikan kebanggaannya. “Kami tidak hanya bermain untuk menang, tapi juga menunjukkan bahwa mentalitas juara tidak pernah mengenal kata lelah. Dua kali extra time, dua kali kami menemukan jalan. Ini bukan kebetulan,” ujarnya dalam konferensi pers. Sementara itu, kapten Messi menambahkan, “Rasanya seperti déjà vu, tapi ini lebih manis karena kami tahu ini belum pernah terjadi sebelumnya.”
Beberapa statistik kunci yang menopang rekor ini:
Menit gol penentu: 108’ (Álvarez vs Denmark), 112’ (Martínez vs Swiss)
Assist: Enzo Fernández (vs Denmark), Giovani Lo Celso (vs Swiss)
Total kartu kuning: Argentina hanya menerima 3 kartu dalam dua laga, menunjukkan disiplin tinggi
Clean sheet di extra time: Argentina tidak kebobolan satu pun gol di masa tambahan pada dua partai itu
Jarak tempuh tim: Rata-rata 126 km per laga, 8 persen di atas rata-rata kontestan lain di fase gugur
Penyelamatan Emiliano Martínez: 4 saves krusial, termasuk 2 di extra time laga kontra Swiss
Rekor ini sekaligus menjawab kritik yang sempat meragukan ketahanan fisik Argentina di fase gugur. Setelah babak grup yang relatif mulus, banyak analis memprediksi skuad Tango akan kedodoran jika dipaksa main 120 menit. Kenyataannya, mereka justru tampil makin garang. Kini, Argentina bersiap menghadapi semifinal melawan juara Grup F, dan para penggemar tentu bertanya-tanya: mampukah mereka memperpanjang narasi dramatis ini ke level berikutnya? Yang pasti, dua gol di dua extra time telah mengubah status mereka dari sekadar juara bertahan menjadi mesin penghancur rekor yang tak kenal ampun.
Baca juga:
Comments (0)