Amri/Nita Tembus Semifinal Kejuaraan Dunia BWF 2026

Skor akhir 21-18, 21-16 — dua angka yang malam ini terasa seperti lagu kemenangan bagi publik Indonesia. Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menaklukkan unggulan ketiga asal Denmark, Mathias Christian...

Amri/Nita Tembus Semifinal Kejuaraan Dunia BWF 2026

Skor akhir 21-18, 21-16 — dua angka yang malam ini terasa seperti lagu kemenangan bagi publik Indonesia. Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menaklukkan unggulan ketiga asal Denmark, Mathias Christiansen/Alexandra Bøje, pada perempat final Kejuaraan Dunia BWF 2026 di Guangzhou Gymnasium, Jumat malam WIB. Kemenangan straight games dalam 47 menit itu mengantar ganda campuran peringkat 11 dunia ini menembus semifinal — capaian terbaik sepanjang karier keduanya di panggung dunia.

Perempat Final: 47 Menit, Dua Set, Tanpa Ampun

Pertandingan baru berjalan lima menit ketika ritme permainan sudah terlihat jelas. Amri/Nita langsung memakai formasi depan-belakang, menempatkan Nita di area net untuk menekan penguasaan shuttlecock di depan, sementara Amri menjaga lini belakang dengan smash kerasnya. Strategi itu membuahkan hasil di menit ke-12, saat ganda Denmark kehilangan tiga poin beruntun karena netting Nita yang tak bisa dijangkau Bøje. Interval gim pertama ditutup 11-9 untuk Indonesia.

Setelah jeda, Christiansen mencoba mengubah permainan dengan dorongan bola ke sisi kosong. Namun, pertahanan Amri yang rapat membuat lawan frustrasi. Di menit ke-21, smash diagonal Amri dari sisi forehand menembus pertahanan Denmark dan membawa keunggulan 17-14. Gim pertama ditutup 21-18 setelah Bøje gagal mengembalikan drive cepat Nita. Total 14 smash presisi — atau sebut saja shots on target ala ganda campuran — tercatat untuk pasangan Indonesia di gim pembuka, berbanding 9 milik lawan.

Gim kedua berjalan lebih sengit. Denmark unggul 8-5 di menit ke-31 sebelum Amri memanfaatkan kesalahan servis Christiansen untuk menyamakan kedudukan. Momen kunci hadir di menit ke-38: rally 31 pukulan yang berakhir dengan drop shot Nita yang menyentuh garis belakang. Wasit sempat meminta pengecekan via Hawk-Eye — teknologi peninjau ulang yang kerap disebut “VAR-nya bulu tangkis” — dan hasilnya menyatakan shuttlecock masuk. Skor berubah 14-12, dan semangat lawan perlahan runtuh. Gim kedua rampung 21-16 dengan sebuah assist manis dari Nita yang mengirim umpan silang sempurna untuk disambar Amri di depan net.

Kemenangan ini sekaligus memperpanjang catatan impresif Amri/Nita: tiga kemenangan beruntun di Guangzhou tanpa kehilangan satu set pun — semacam hat-trick kemenangan dan clean sheet sekaligus bagi pasangan yang baru dipasangkan secara resmi sejak awal 2025.

Kunci Kemenangan: Netting Nita dan Ketahanan Amri

Statistik akhir pertandingan berbicara dengan angka yang tegas. Pasangan Indonesia mencatat penguasaan tempo 58 persen, unggul dalam jumlah rally panjang (12 rally di atas 20 pukulan berbanding 7), dan memenangkan 19 dari 27 poin di area depan net. Sebaliknya, Denmark hanya mampu mencetak 5 poin dari serangan belakang, tanda bahwa formasi bertahan Amri/Nita bekerja nyaris sempurna. Bulu tangkis memang tak mengenal starting XI seperti sepak bola, tetapi keputusan tim pelatih menurunkan pasangan ini sebagai ujung tombak terbukti tepat.

“Kami tidak berpikir soal semifinal. Kami hanya fokus rally demi rally, poin demi poin,” ujar Amri usai laga. “Kunci kami adalah komunikasi. Kalau Nita menahan di depan, saya tahu bola akan datang ke belakang, dan sebaliknya.” Pelatih ganda campuran Indonesia, Nova Widianto, menambahkan: “Mereka bermain dengan kedewasaan taktis yang luar biasa. Nita memenangkan duel net, Amri menahan tekanan. Itu kombinasi yang sangat sulit dilawan.”

Catatan menarik: tak ada kartu kuning dalam laga ini, dan hanya dua keputusan Hawk-Eye yang diminta — keduanya untuk Indonesia, keduanya berhasil. Di olahraga yang tak mengenal offside, justru presisi dan posisi tubuh yang menjadi wasit paling adil.

Dua Wakil Lain Tersingkir, Semifinal Menanti

Namun, kabar dari Guangzhou tak sepenuhnya manis. Dua wakil Indonesia lainnya harus mengakhiri perjalanan mereka di babak yang sama. Ganda putra Muhammad Rian Ardianto/Fajar Alfian menyerah 18-21, 19-21 dari unggulan utama asal Korea, sementara tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung kalah rubber game 21-17, 14-21, 12-21 dari pebulu tangkis tuan rumah. Dari sektor tunggal putri, Indonesia kehilangan satu-satunya wakilnya di Guangzhou.

Dengan begitu, Amri/Nita menjadi satu-satunya harapan Indonesia yang tersisa di Kejuaraan Dunia BWF 2026. Di semifinal, mereka akan berhadapan dengan unggulan kedua asal China yang lolos setelah menang dua gim langsung. Pertandingan dijadwalkan berlangsung Sabtu (22/8/2026) sore waktu setempat.

Jika menang, Amri/Nita akan mencatatkan sejarah baru sebagai ganda campuran Indonesia pertama yang mencapai final Kejuaraan Dunia sejak 2019. Modal kepercayaan diri jelas ada: dari empat pertemuan terakhir dengan calon lawan, mereka memenangkan tiga, termasuk kemenangan 21-14, 21-19 di All England tahun ini. Semua angka berpihak pada Amri dan Nita — kini tinggal membuktikannya di lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User