Air Mata Theerathon di Rajamangala: Thailand Gagal ke Ronde Tiga
Skor akhir 1-1 antara Thailand dan China di Stadion Rajamangala pada Selasa (6/6/2024) malam WIB bukan hanya mengakhiri pertandingan, melainkan juga mengubur mimpi Changsuek melangkah ke fase ketiga K...
Skor akhir 1-1 antara Thailand dan China di Stadion Rajamangala pada Selasa (6/6/2024) malam WIB bukan hanya mengakhiri pertandingan, melainkan juga mengubur mimpi Changsuek melangkah ke fase ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Sebuah hasil yang membuat bek senior Theerathon Bunmathan tak kuasa membendung air matanya di lapangan.
Pertandingan yang disaksikan lebih dari 40.000 pendukung tuan rumah ini berubah menjadi drama penuh tekanan. Thailand, yang membutuhkan kemenangan untuk mengunci tiket ke ronde selanjutnya, justru harus tertinggal lebih dulu oleh gol cepat Wu Lei pada menit ke-20.
Babak Pertama: Kejutan Dingin di Menit ke-20
Dengan formasi 4-3-3 menyerang, Thailand langsung mengambil inisiatif sejak peluit pertama. Starting XI Thailand menurunkan Kawin Thamsatchanan di bawah mistar, kuartet bek Tristan Do, Pansa Hemviboon, Kritsada Kaman, dan Theerathon Bunmathan sebagai kiri penuh ofensif. Trio gelandang Weerathep Pomphan, Thitipan Puangchan, dan Supachok Sarachat ditugaskan menyokong trisula lini depan Teerasil Dangda (kapten), Supachai Chaided, dan Pathompon Charoenrattanapirom.
Strategi pressing tinggi ala Masatada Ishii sempat membuat China terkurung. Penguasaan bola tuan rumah mencapai 58% di babak pertama, dengan 4 tembakan tepat sasaran dari total 9 percobaan. Namun, justru tamu yang memecah kebuntuan. Sebuah serangan balik cepat di menit ke-20, berawal dari sapuan bek China yang mengarah ke Wu Lei. Penyerang Espanyol itu lolos dari jebakan offside, memperdaya Kritsada Kaman, dan melepaskan tembakan mendatar yang tak mampu dihalau Kawin. Gol tersebut menjadi satu-satunya shots on target China sepanjang 45 menit pertama.
Thailand terus menggempur, Teerasil Dangda hampir menyamakan kedudukan pada menit ke-37 lewat sundulan memanfaatkan umpan silang Theerathon, namun bola membentur mistar. Kartu kuning pertama diberikan kepada pemain China, Tyias Browning, pada menit ke-42 karena menghentikan laju Supachok di depan kotak penalti. Skor 0-1 bertahan hingga turun minum.
Babak Kedua: Gol Balasan dan Harapan Tersisa
Memasuki paruh kedua, Ishii memasukkan Chanathip Songkrasin untuk menambah kreativitas. Hasilnya langsung terasa. Menit ke-50, sebuah kerja sama satu-dua apik antara Chanathip dan Supachok menghasilkan gol penyama. Supachok, yang menerima bola di tepi kotak, melepaskan tembakan first-time kaki kiri yang bersarang di sudut kanan bawah gawang Yan Junling. Assist berkelas dari Chanathip.
Stadion bergemuruh. Thailand terus menekan, menciptakan rentetan peluang. Statistik babak kedua menunjukkan dominasi makin absolut: penguasaan bola 62%, dengan total 12 tembakan dan 5 tepat sasaran. Namun, ketangguhan lini belakang China dan penampilan gemilang Yan Junling menggagalkan semua upaya. Peluang emas hadir di menit ke-78 saat Supachai Chaided tinggal berhadapan dengan kiper, namun sepakannya masih bisa ditepis.
Frustrasi mulai melanda. Theerathon Bunmathan, yang tampil ngotot di sisi kiri, menerima kartu kuning pada menit ke-85 akibat protes keras kepada wasit. Menit-menit akhir diwarnai umpan-umpan silang dari sayap, baik dari Theerathon maupun dari Tristan Do, tetapi rapatnya pertahanan China menggagalkan setiap upaya. Skor 1-1 tak berubah meski waktu tambahan 7 menit diberikan.
Statistik Kunci dan Air Mata Sang Legenda
Secara keseluruhan, Thailand unggul dalam hampir semua metrik: penguasaan bola 60% berbanding 40%, total tembakan 21-8, dan tembakan tepat sasaran 6-3. Namun, hanya satu yang bersarang. China, dengan pertahanan disiplin, sukses mencuri poin yang mereka butuhkan untuk melaju bersama Korea Selatan dari Grup C. Thailand mengakhiri babak kedua kualifikasi di peringkat ketiga dengan 8 poin, tertinggal 2 poin dari China di posisi kedua.
Setelah peluit panjang, sorotan kamera menangkap Theerathon Bunmathan terduduk di lapangan dengan air mata mengalir. Pemain yang telah membela Thailand sejak 2010 dan merupakan salah satu bek kiri terbaik Asia Tenggara itu tahu bahwa pada usianya yang 34 tahun, Piala Dunia 2026 adalah kans terakhirnya.
“Kami sudah memberikan segalanya. Seluruh pemain berjuang habis-habisan. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, ini sangat menyakitkan,”ujar Theerathon dengan suara bergetar di zona wawancara.
Pelatih Masatada Ishii pun tak bisa menyembunyikan kekecewaan.
“Statistik menunjukkan kami dominan. Kami menciptakan cukup peluang untuk menang. Tapi sepak bola bukan hanya soal angka, ada momen yang harus dimaksimalkan, dan malam ini kami gagal,”katanya. Thailand kini harus mengalihkan fokus ke Piala ASEAN FIFA 2024, sementara China dan Korea Selatan melaju ke ronde tiga. Untuk Theerathon, air mata di Rajamangala mungkin akan dikenang sebagai akhir dari mimpi Piala Dunia bersama Changsuek.
Baca juga:
Comments (0)