Oct 13, 2026
Olahraga

5 Pelatih Bergaji Fantastis yang Gagal Antar Timnya Lolos Fase Gugur

Skor akhir 4-2 atas Kosta Rika ternyata tidak cukup menyelamatkan Timnas Jerman dari jurang eliminasi. Di laga pamungkas Grup E Piala Dunia 2022, Der Panzer memang menang, tetapi hasil itu sia-sia set...

5 Pelatih Bergaji Fantastis yang Gagal Antar Timnya Lolos Fase Gugur

Skor akhir 4-2 atas Kosta Rika ternyata tidak cukup menyelamatkan Timnas Jerman dari jurang eliminasi. Di laga pamungkas Grup E Piala Dunia 2022, Der Panzer memang menang, tetapi hasil itu sia-sia setelah Jepang menumbangkan Spanyol dengan skor 2-1 di laga paralel. Jerman harus puas finis di peringkat ketiga klasemen Grup E dengan koleksi 4 poin dari tiga pertandingan — hasil identik Jepang dan Spanyol, tetapi kalah selisih gol. Inilah ironi: tim yang mencetak 6 gol di fase grup justru harus angkat koper lebih cepat.

Hansi Flick dan Ironi Gaji Rp94 Miliar Per Tahun

Nama Hansi Flick menjadi sorotan utama. Pelatih berusia 57 tahun itu tercatat menerima upah sekitar 5 juta pound sterling atau setara Rp94 miliar per tahun — salah satu yang tertinggi di antara seluruh pelatih peserta Piala Dunia 2022. Dengan bayaran sebesar itu, ekspektasi publik Jerman tentu bukan sekadar pulang di fase grup.

Menit ke-10, Jerman sebenarnya tampil dominan. Penguasaan bola mereka menyentuh angka 68 persen pada babak pertama melawan Kosta Rika, dengan shots on target mencapai 9 percobaan. Formasi 4-2-3-1 yang diusung Flick menempatkan Jamal Musiala sebagai playmaker di belakang Serge Gnabry. Statistik expected goals (xG) Jerman di tiga laga grup bahkan tertinggi di Grup E, namun efisiensi penyelesaian akhir menjadi masalah klasik mereka.

Kegagalan Jerman sejatinya sudah terasa sejak matchday pertama. Menit ke-83, mereka tumbang 1-2 dari Jepang setelah unggul lebih dulu melalui penalti Ilkay Gündogan. Kartu kuning yang menumpuk dan disiplin garis pertahanan yang rapuh menjadi catatan merah. Flick dinilai gagal mengantisipasi transisi cepat lawan, terutama saat lini tengah kehilangan kontrol setelah Joshua Kimmich digeser ke posisi bek kanan.

Daftar Pelatih Bergaji Tinggi yang Tersingkir Dini

Flick tidak sendiri. Beberapa nama pelatih dengan bayaran selangit mengalami nasib serupa di turnamen ini.

1. Hansi Flick (Jerman) — Rp94 miliar per tahun. Gagal lolos dengan 4 poin, finis ketiga Grup E. Penguasaan bola tinggi tapi minim efektivitas di sepertiga akhir lapangan.

2. Gerardo "Tata" Martino (Meksiko) — El Tri tersingkir dengan 4 poin di Grup C, kalah selisih gol dari Polandia. Formasi 4-3-3 yang ia pertahankan tidak mampu menghasilkan lebih dari 2 gol sepanjang fase grup.

3. Carlos Queiroz (Iran) — Meski gajinya lebih rendah, ekspektasi tinggi membebani. Iran finis ketiga Grup B dengan 3 poin, hanya menang sekali melawan Wales.

4. Roberto Martinez (Belgia) — Generasi emas De Rode Duivels kandas di fase grup dengan 4 poin. Martinez diketahui berpenghasilan tinggi sebelum kontraknya berakhir usai turnamen.

5. Otto Addo (Ghana) — Pelatih muda dengan bayaran kompetitif ini membawa Ghana finis juru kunci Grup H dengan 3 poin, meski sempat menahan imbang Portugal 2-3.

Jika dirata-rata, kelima pelatih ini mengantongi bayaran jauh di atas pelatih yang berhasil membawa timnya melaju. Sebuah ironi yang mempertanyakan kembali korelasi antara besaran gaji, kualitas taktik, dan hasil di lapangan.

"Kami kehilangan efisiensi. Kami menciptakan cukup peluang, tetapi di level ini Anda harus mengeksekusi. Tidak ada alasan soal gaji, ini murni soal performa di lapangan," ujar Hansi Flick dalam konferensi pers usai laga.

Analisis Taktik: Dominasi Tanpa Ketajaman

Data mencatat Jerman mencatatkan total 67,3 persen penguasaan bola rata-rata di fase grup, tertinggi kedua di seluruh turnamen setelah Spanyol. Namun conversion rate mereka hanya 12 persen — jauh di bawah Maroko yang mencapai 25 persen dengan penguasaan bola di bawah 40 persen.

Bandingkan dengan Kosta Rika, lawan terakhir Flick. Tim Amerika Tengah itu hanya memiliki 26 persen penguasaan bola dan 2 shots on target, tetapi mampu mencetak 2 gol. Inilah pelajaran pahit: dalam sepak bola modern, clean sheet dan efisiensi lebih berharga daripada dominasi statistik semata.

VAR juga sempat menjadi sorotan. Menit ke-58 melawan Kosta Rika, gol Kai Havertz sempat dianulir karena offside sebelum akhirnya disahkan setelah tinjauan. Keputusan ini memicu perdebatan, meski tidak mengubah nasib Jerman.

Pertanyaannya kini: apakah federasi sepak bola di negara-negara ini akan mengevaluasi kembali struktur gaji pelatih? Ataukah mereka akan terus membayar mahal demi harapan yang kandas di fase grup? Satu hal yang pasti — Piala Dunia 2022 menjadi pengingat keras bahwa gaji fantastis tidak otomatis melahirkan hat-trick kemenangan atau tiket ke fase gugur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User