Vonis Seumur Hidup Hui Ka Yan dan Runtuhnya Dominasi Guangzhou Evergrande
Skor akhir untuk Hui Ka Yan tidak ditentukan di lapangan hijau, melainkan di ruang sidang: penjara seumur hidup. Pengadilan China menjatuhkan vonis tersebut kepada pendiri Evergrande Group, pria yang ...
Skor akhir untuk Hui Ka Yan tidak ditentukan di lapangan hijau, melainkan di ruang sidang: penjara seumur hidup. Pengadilan China menjatuhkan vonis tersebut kepada pendiri Evergrande Group, pria yang selama lebih dari satu dekade membiayai kemegahan Guangzhou Evergrande hingga dua kali menjuarai Liga Champions Asia. Kerajaan sepak bola yang dibangun dari uang tanpa batas itu kini resmi tutup buku, berbarengan dengan runtuhnya imperium properti terbesar di China yang menanggung utang lebih dari 2 triliun yuan.
Hui Ka Yan memang bukan nama asing di panggung olahraga Asia. Lewat kucuran dana yang nyaris tanpa batas, ia mengubah Guangzhou Evergrande dari klub kasta kedua menjadi tim paling ditakuti di Liga Super China, lalu menjadi juara benua. Namun di balik gemerlap trofi, tersimpan praktik keuangan yang akhirnya menyeretnya ke balik jeruji besi.
Dari Klub Kasta Kedua ke Penguasa Liga Super
Kisah ini dimulai pada 2010, ketika Evergrande Group mengambil alih Guangzhou FC yang saat itu masih berkompetisi di kasta kedua. Setahun berselang, tim promosi itu langsung menjadi juara Liga Super China pada musim perdananya — awal dari rentetan delapan gelar liga dalam sembilan musim (2011–2017 dan 2019). Starting XI Guangzhou saat itu dihuni sederet bintang tim nasional seperti Zheng Zhi, Gao Lin, dan Zhang Linpeng, diperkuat pemain asing kelas dunia.
Kedatangan gelandang Argentina Dario Conca pada 2011 menjadi pernyataan ambisi: kontrak dua setengah tahun senilai sekitar 25 juta dolar AS, salah satu yang termahal di Asia kala itu. Pada 2013, Elkeson tiba dan langsung menjadi top skor Liga Super dengan 24 gol, membantu Guangzhou memecahkan rekor poin tertinggi Liga Super kala itu dengan 77 poin di bawah arahan pelatih Italia Marcello Lippi dengan formasi 4-3-3 yang agresif.
2013: Mahkota Asia Pertama Lewat Aturan Gol Tandang
Puncaknya datang pada 2013. Guangzhou melaju ke final Liga Champions Asia setelah menghancurkan Kashiwa Reysol 8-1 secara agregat — 4-1 di leg pertama, dengan hat-trick Muriqui yang kemudian menjadi top skor turnamen dengan 13 gol. Final melawan FC Seoul berjalan dramatis: leg pertama di Korea Selatan berakhir 2-2, leg kedua di Guangzhou 1-1. Agregat 3-3, dan Guangzhou keluar sebagai juara karena unggul gol tandang.
Pertandingan final berjalan keras, dan wasit beberapa kali mengeluarkan kartu kuning. Statistik musim itu menjadi penguat dominasi: penguasaan bola yang konsisten di atas lawan, shots on target yang berdatangan dari berbagai arah, serta solidnya lini belakang. Zheng Zhi dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Asia 2013, dan Lippi menjadi Pelatih Terbaik Asia. Di Piala Dunia Antarklub, Guangzhou sempat merepotkan Bayern Munich sebelum takluk 0-3 — gol Ribéry pada menit ke-40, Mandžukić menit ke-44, dan Götze menit ke-47 — pada era sebelum teknologi VAR hadir.
2015: Clean Sheet Beruntun ala Scolari
Dua tahun kemudian, giliran Luiz Felipe Scolari membawa Guangzhou kembali ke puncak Asia. Final 2015 melawan Al Ahli dari Uni Emirat Arab dimenangi dengan clean sheet di dua leg: 0-0 di kandang lawan, lalu 1-0 di Guangzhou lewat sundulan Elkeson pada menit ke-54 memanfaatkan assist dari tendangan sudut Huang Bowen. Scolari menata pertahanan dengan garis tinggi dan trap offside yang disiplin, membuat Al Ahli kesulitan menembus area penalti meski duel penguasaan bola berjalan ketat.
Ricardo Goulart menjadi top skor turnamen dengan 8 gol sekaligus pemain terbaik. Paulinho menjadi motor lini tengah sebelum diboyong Barcelona dengan klausul 40 juta euro pada 2017, lalu kembali ke Guangzhou pada 2019. Belanja klub terus meroket: Jackson Martínez ditebus dari Atletico Madrid dengan rekor 42 juta euro pada 2016, menjadikan Guangzhou salah satu klub dengan belanja termahal di Asia.
Kartu Kuning, Lalu Kartu Merah Terakhir
Kartu kuning pertama bagi Hui Ka Yan datang pada 2021, ketika krisis utang Evergrande meledak: gaji pemain tertunggak, para bintang hengkang, dan klub terpaksa berganti nama menjadi Guangzhou FC. Pada 2022, tim yang pernah dua kali jadi juara Asia itu terdegradasi ke kasta kedua — degradasi pertama dalam sejarah klub. Hui Ka Yan sendiri ditahan pada akhir September 2023, dan kini vonis seumur hidup menjadi kartu merah terakhir bagi pria kelahiran 1958 itu.
Majelis hakim menjatuhkan hukuman seumur hidup atas dakwaan utama perolehan pinjaman secara curang, dengan sejumlah dakwaan lain yang dijalankan secara berbarengan. Evergrande Group didenda 4,1 miliar yuan, Hui Ka Yan didenda 47 juta yuan, sementara aset yang terbukti terkait kejahatan ikut disita. Dari puncak kejayaan dua trofi Liga Champions Asia, kini hanya tersisa cerita tentang betapa rapuhnya kerajaan yang dibangun di atas utang.
Pelajaran untuk Sepak Bola Asia
Kisah Guangzhou Evergrande adalah pengingat paling gamblang bahwa uang tanpa tata kelola hanyalah bom waktu. Delapan gelar liga, dua mahkota Asia, rekor transfer, dan starting XI bertabur bintang tidak menyelamatkan klub dari kehancuran ketika sumber dana utama tumbang. Sepak bola Asia kini belajar: yang bertahan lama bukanlah klub dengan belanja paling boros, melainkan yang dibangun di atas pendapatan berkelanjutan, akademi yang sehat, dan manajemen yang bersih.
Vonis seumur hidup Hui Ka Yan menutup babak kelam itu. Bagi Guangzhou FC yang kini berjuang di luar Liga Super, jalan kembali masih panjang — dan kali ini harus ditempuh tanpa uang ajaib dari pria yang pernah menganggap trofi sebagai barang belanjaan.
Comments (0)