Veda Ega Pratama Bangkit dari P26 ke P2 di Moto3 Hungaria

Budapest, Hungaria — Sebuah transformasi mengejutkan terjadi di sesi hari pertama Moto3 Hungaria 2026. Pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama, yang sempat terpuruk di posisi ke-26 pada sesi latihan be...

Veda Ega Pratama Bangkit dari P26 ke P2 di Moto3 Hungaria

Budapest, Hungaria — Sebuah transformasi mengejutkan terjadi di sesi hari pertama Moto3 Hungaria 2026. Pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama, yang sempat terpuruk di posisi ke-26 pada sesi latihan bebas pertama, tiba-tiba melesat menjadi yang tercepat kedua di sesi practice. Lompatan 24 posisi ini bukan sekadar perbaikan catatan waktu, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa dirinya dan tim Honda Team Asia siap bersaing di papan atas.

Keterpurukan di Sesi Latihan Bebas Pertama

Langit mendung menyelimuti Sirkuit Balaton Park saat sesi latihan bebas pertama (FP1) dimulai. Trek yang baru pertama kali masuk kalender Moto3 ini menyajikan kombinasi tikungan teknis dan lintasan lurus panjang. Veda, yang turun dengan motor Honda NSF250RW bernomor 71, tampak kesulitan menemukan ritme. Data telemetri menunjukkan ia beberapa kali kehilangan traksi di tikungan sektor dua, yang menyebabkan waktu tempuhnya melambat hingga 0,8 detik dari pembalap terdepan. Hasil akhir FP1 menempatkannya di posisi 26 dari 28 pembalap, sebuah awal yang jauh dari harapan tim dan pendukungnya di Tanah Air.

“Kami melihat banyak getaran di roda belakang saat Veda menikung,” ujar Tadayuki Okada, manajer tim Honda Team Asia, melalui komunikasi pit. Masalah ini diperkirakan berasal dari pemilihan ban dan setelan suspensi yang belum optimal untuk suhu trek yang hanya 16 derajat Celsius. Minimnya data balapan di sirkuit ini membuat banyak tim melakukan pendekatan coba-coba, dan Honda Team Asia tidak terkecuali.

Revolusi Setelan di Sesi Practice

Menjelang sesi practice, tim mekanik melakukan perubahan radikal. Mereka mengganti ban belakang dari kompon medium ke lunak, menaikkan ride height motor sebesar 2 milimeter, dan mengubah mapping mesin untuk torsi lebih halus di tikungan lambat. Hasilnya langsung terlihat saat Veda keluar pit lane. Pada lap ketiganya, ia mencatatkan waktu 1:44,321, langsung menempatkannya di posisi lima sementara. Senyum mulai merekah di wajah pembalap kelahiran Yogyakarta itu.

Puncaknya terjadi di menit-menit akhir sesi. Dengan cengkeraman ban yang mulai optimal, Veda melepaskan satu lap terbang yang nyaris sempurna. Sektor pertama dilaluinya dengan kecepatan rata-rata 192 km/jam, sektor kedua ia mencatatkan split time tercepat kedua, dan tikungan terakhir sebelum garis finish ia ambil dengan sudut kemiringan 59 derajat. Waktu 1:43,987 muncul di monitor, hanya terpaut 0,152 detik dari pembalap tercepat, Angel Piqueras dari Spanyol. Posisi kedua di practice menjadi milik sang pembalap Merah Putih.

“Motor terasa sangat berbeda. Saya bisa lebih percaya diri membawa motor ke tikungan karena roda belakang tidak lagi sliding. Tim melakukan pekerjaan luar biasa,” ujar Veda singkat setelah turun dari motor. Data mencatat top speed-nya mencapai 234 km/jam di trek lurus utama, selisih tipis dengan pembalap KTM yang biasanya superior di kecepatan puncak.

Faktor Penentu Lompatan 24 Posisi

Selain perubahan teknis, analisis lebih dalam menunjukkan bahwa adaptasi Veda terhadap layout sirkuit meningkat signifikan. Di FP1, ia butuh 5–6 lap untuk mempelajari titik pengereman, sementara di practice ia mampu langsung menekan limit hanya dalam 2 lap. Jam terbang sebagai pembalap Moto3 musim pertama memang masih membuatnya lebih lambat dalam membaca trek dibanding senior, namun kemampuannya memproses data telemetri dan menjalankan instruksi teknisi patut diacungi jempol.

Sektor tiga menjadi area di mana Veda mencatat gain terbesar. Dengan setelan baru, waktu tempuh di sektor ini membaik hingga 0,6 detik berkat peningkatan stabilitas saat perubahan arah cepat. Selain itu, catatan shifting yang lebih presisi di tikungan 8 dan 9 membuat akselerasi keluar tikungan lebih efektif. Penguasaan gas yang halus menjadi kunci, mengingat aspal Balaton Park yang masih licin karena minim jam terbang balapan motor.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah strategi penggunaan slipstream. Veda dengan cerdik mengikuti pembalap di depannya, Adrian Fernandez, di dua lap terakhir. Bantuan angin di trek lurus mengurangi drag motor dan memberinya keunggulan tambahan 0,1–0,2 detik. Tanpa slipstream, waktunya mungkin hanya cukup untuk posisi lima besar, namun keberanian menempel ketat pembalap lain adalah bagian dari seni balap yang mulai dikuasainya.

Prospek Kualifikasi dan Balapan

Dengan posisi kedua di practice, Veda mengamankan tiket langsung ke Q2, sesi kualifikasi penentuan grid 18 besar. Ini untuk pertama kalinya dalam karier Moto3-nya ia menembus Q2 tanpa melewati Q1, menandai kemajuan pesat dari musim ini. Balapan utama akan digelar pada hari Minggu pukul 11:00 waktu setempat, dengan prediksi cuaca cerah berawan. Temperatur yang lebih tinggi bisa jadi keuntungan bagi setelan motor yang sekarang lebih cocok dengan suhu hangat.

Tim Honda Team Asia optimistis raihan ini bisa menjadi batu loncatan untuk balapan kompetitif. “Target kami poin. Jika start dari baris depan, semuanya mungkin. Veda dalam kondisi mental yang baik,” kata Okada. Pengamat Moto3 menyebut peningkatan dramatis semacam ini jarang terjadi dan menjadi bukti potensi besar pembalap Indonesia tersebut. Namun, konsistensi di sesi berikutnya tetap menjadi tantangan.

Klasemen sementara kejuaraan masih dipimpin oleh Angel Piqueras, namun persaingan sangat ketat. Lompatan Veda dari P26 ke P2 bisa menjadi momentum psikologis yang ia butuhkan untuk bersaing di kelompok elite. Penggemar balap Indonesia kini menantikan apakah keajaiban ini akan berlanjut di kualifikasi dan balapan sesungguhnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User