Taufiq Pasiak Beberkan Alasan Orang Baik Memilih Diam

JAKARTA — Kita kerap menyaksikan ironi: orang-orang yang dikenal ringan tangan menolong sesama justru memilih bungkam saat menyaksikan ketidakadilan atau k

Taufiq Pasiak Beberkan Alasan Orang Baik Memilih Diam

JAKARTA — Kita kerap menyaksikan ironi: orang-orang yang dikenal ringan tangan menolong sesama justru memilih bungkam saat menyaksikan ketidakadilan atau ketika suara mereka paling dibutuhkan. Fenomena mengapa orang baik memilih diam ternyata bukan sekadar soal karakter, melainkan memiliki akar neurobiologis dan sosial yang kompleks. Pengamat otak dan perilaku, Taufiq Fredrik Pasiak, menguraikan bahwa keputusan untuk diam kerap lahir dari kalkulasi otak yang memprioritaskan keselamatan dan harmoni sosial.

Mengapa Kebaikan Tak Selalu Bersuara

Menurut Pasiak, otak manusia dirancang untuk bertahan hidup, bukan semata-mata untuk menjadi pahlawan. Bagian otak yang disebut amigdala dan korteks prefrontal terus-menerus mengevaluasi risiko dari setiap tindakan. Ketika seseorang yang berkarakter baik menghadapi situasi konflik, otaknya secara otomatis menghitung potensi ancaman—mulai dari pengucilan sosial hingga pembalasan langsung. “Orang baik bukan tidak peduli. Mereka hanya mendapati bahwa berbicara saat itu justru bisa mengancam stabilitas mereka dan orang-orang yang mereka sayangi,” jelas Pasiak saat dihubungi di Jakarta, Kamis (29/5/2025).

Diamnya orang baik seringkali bukan bentuk persetujuan, melainkan strategi bertahan yang tertanam dalam sirkuit saraf kita. Otak belajar dari pengalaman: jika bicara membawa luka, maka diam adalah tameng.

Peta Biologis dan Sosial di Balik Keheningan

Lebih lanjut, Pasiak merujuk pada sejumlah mekanisme yang membuat orang baik lebih rentan memilih diam:

  • Fenomena Efek Penonton (Bystander Effect): Semakin banyak orang hadir, semakin lemah dorongan individu untuk bertindak karena tanggung jawab menyebar. Bagian otak yang terkait empati, insula anterior, justru bisa menurun aktivitasnya saat kerumunan besar terbentuk.
  • Ketidakpedulian Pluralistis (Pluralistic Ignorance): Orang baik sering keliru membaca situasi—mereka berpikir “yang lain tampak tenang, mungkin tidak ada masalah serius.” Padahal semua diam karena alasan yang sama, menciptakan lingkaran bisu.
  • Pengaruh Budaya Hierarkis: Dalam kultur yang menekankan keselarasan dan penghormatan terhadap otoritas, otak mengasosiasikan konfrontasi dengan ketidakpatuhan. Korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas kontrol diri menekan impuls untuk bersuara, lebih memilih penghindaran konflik.
  • Trauma Mikro dan Kelelahan Moral: Orang baik yang pernah diabaikan atau dihukum ketika mencoba bersuara akan menyimpan jejak memori di hippocampus. Setiap kali menghadapi situasi serupa, otak langsung mengaktifkan jalur “lebih baik diam” untuk mencegah rasa sakit yang sama.

Bukan Sekadar Pengecut, tetapi Kalkulasi Saraf

Pasiak menekankan bahwa diamnya orang baik tak bisa disederhanakan sebagai sikap pengecut. Neuroekonomi perilaku menunjukkan bahwa manusia terus-menerus menimbang untung-rugi—dopamin dan serotonin berperan dalam menilai imbalan sosial yang mungkin diperoleh. Saat bersuara dianggap berisiko kehilangan pekerjaan, pertemanan, atau keamanan pribadi, otak memilih jalur yang meminimalkan kerugian. Di sinilah ironi terjadi: sistem moral yang menginginkan kebaikan justru beradu dengan sistem pertahanan diri. “Yang menang biasanya adalah yang lebih cepat dan efisien menyelamatkan nyawa—otak belakang, bukan otak moral,” ungkapnya.

Membangun Keberanian Kolektif: Bisu yang Terputus

Lalu, bagaimana memutus rantai kebisuan orang baik? Pasiak menyarankan agar masyarakat menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis. Otak akan lebih berani bicara jika mendeteksi sinyal bahwa risiko sosial lebih rendah dari perkiraan. Pemimpin, institusi, dan komunitas perlu secara konsisten menunjukkan bahwa suara yang berbeda tidak akan dihukum. Pada tingkat individu, melatih regulasi emosi—seperti teknik pernapasan dan debiasing kognitif—dapat menguatkan kontrol prefrontal sehingga amigdala tidak selalu mengambil alih.

Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa orang baik yang diam bukanlah anomali; mereka adalah produk dari arsitektur otak yang kompleks dan lingkungan yang membentuknya. Dan sebagaimana otak bisa dilatih untuk diam, otak pun bisa dilatih untuk berani—asal ruang bicara disediakan tanpa ancaman.

[SOCIAL_TWEET]: "Diamnya orang baik seringkali bukan bentuk persetujuan, melainkan strategi bertahan yang tertanam dalam sirkuit saraf kita. Ilmuwan otak Taufiq Pasiak jelaskan mengapa kebaikan tak selalu bersuara. #psikologi #PerilakuManusia" [SOCIAL_TG]: "Otak orang baik diam bukan karena tak peduli, tapi karena sirkuit bertahan hidupnya lebih dulu bekerja. Baca penjelasan Taufiq Pasiak tentang neurobiologi kebisuan moral."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User