Swiss Tahan Argentina 1-1, Duel Perempat Final Berlanjut ke Extra Time
Hasil mengejutkan tersaji di laga perempat final Piala Dunia 2026. Argentina yang difavoritkan lolos harus menerima kenyataan pahit setelah ditahan imbang Swiss 1-1 dalam waktu normal 90 menit. Kedua ...
Hasil mengejutkan tersaji di laga perempat final Piala Dunia 2026. Argentina yang difavoritkan lolos harus menerima kenyataan pahit setelah ditahan imbang Swiss 1-1 dalam waktu normal 90 menit. Kedua tim kini harus melanjutkan pertarungan ke babak tambahan untuk menentukan siapa yang berhak melaju ke semifinal.
Bertanding di hadapan lebih dari 70.000 penonton, Argentina sejatinya tampil dominan sejak peluit awal dibunyikan. Penguasaan bola sebesar 62% berbanding 38% jelas memperlihatkan superioritas tim asuhan Lionel Scaloni dalam mengontrol ritme permainan. Namun, Swiss membuktikan bahwa efisiensi adalah segalanya di level tertinggi sepak bola dunia.
Argentina Unggul Lebih Dulu, Dominasi Belum Berbuah Aman
Menit ke-24, publik Argentina bergemuruh. Sebuah skema permainan cepat dari sisi kiri berhasil dimaksimalkan Julian Alvarez. Menerima umpan tarik brilian dari Alejandro Garnacho yang menusuk hingga garis samping kotak penalti, Alvarez melepaskan tembakan first-time yang tak mampu dijangkau kiper Gregor Kobel. Skor 1-0 untuk Argentina.
Itu adalah gol kelima Alvarez di turnamen ini, menyamai catatan Gabriel Batistuta di edisi 1998. Assist dari Garnacho kian menegaskan kematangannya di usia 22 tahun. Pemain Manchester United itu mencatatkan tiga assist sepanjang Piala Dunia ini, terbanyak kedua setelah Bruno Fernandes.
Argentina terus menekan. Menit ke-35, Lautaro Martinez nyaris menggandakan keunggulan. Sayang, sundulannya dari umpan silang Nahuel Molina masih tipis menyamping di sisi kanan gawang Swiss. Statistik mencatat, Argentina melepaskan 8 tembakan di babak pertama, dengan 4 mengarah tepat sasaran. Swiss hanya mencatatkan 3 tembakan, tanpa satu pun on target.
Formasi 4-2-3-1 yang diterapkan Scaloni bekerja efektif di 45 menit awal. Mac Allister dan Enzo Fernandez mengunci lini tengah, sementara pergerakan Garnacho dan Rodrigo De Paul dari second line terus merepotkan barisan belakang Swiss. Koeman dan Akanji beberapa kali kewalahan mengantisipasi pergerakan tanpa bola para penyerang Argentina.
Babak Kedua: Kebangkitan Swiss yang Mengejutkan
Memasuki babak kedua, situasi berubah drastis. Swiss meningkatkan intensitas pressing dan mulai berani memainkan bola-bola direct ke jantung pertahanan Argentina. Masuknya Noah Okafor menggantikan Ruben Vargas di menit ke-58 menambah dimensi kecepatan di lini depan tim asuhan Murat Yakin.
Petaka bagi Argentina datang di menit ke-71. Sebuah skema bola mati hasil pelanggaran terhadap Breel Embolo di luar kotak penalti berujung petaka. Granit Xhaka, kapten Swiss yang tampil sebagai jenderal lapangan tengah, mengeksekusi tendangan bebas dengan sempurna. Bola meluncur deras melewati pagar hidup dan bersarang ke pojok kanan gawang Emiliano Martinez yang hanya bergeming. Skor imbang 1-1. Itu adalah shots on target pertama Swiss dalam laga ini — dan langsung berbuah gol.
Data Opta mencatat, Xhaka adalah pemain Swiss pertama yang mencetak gol dari tendangan bebas langsung di Piala Dunia sejak Hakan Yakin pada edisi 2006 silam. Assist — jika bisa disebut demikian — dari pelanggaran yang dilakukan Cristian Romero terhadap Embolo menjadi titik balik momentum pertandingan.
Menit ke-79, Swiss nyaris berbalik unggul. Serangan balik cepat yang dibangun Xhaka dari lini tengah menemui Zeki Amdouni di sisi kanan. Umpan silang mendatar ke kotak enam yard disambut Okafor, namun Emiliano Martinez melakukan refleks gemilang menghalau bola dengan kakinya. Penyelamatan krusial yang menjaga Argentina tetap bernapas.
Argentina merespons. Kembali Scaloni memasukkan Paulo Dybala dan Giovani Lo Celso untuk menambah kreativitas di 15 menit terakhir. Skema berganti menjadi 4-1-4-1 dengan Mac Allister sebagai pivot tunggal. Namun, solidnya pertahanan Swiss dengan formasi 5-4-1 dalam fase bertahan membuat La Albiceleste frustrasi. Total 15 tembakan Argentina di babak kedua hanya menghasilkan 3 on target — statistik yang menunjukkan betapa efektifnya blokade pertahanan Swiss.
Statistik dan Drama Menuju Extra Time
Hingga peluit akhir waktu normal, statistik memperlihatkan cerita dua babak yang kontras. Argentina mencatatkan total 23 tembakan (7 on target), penguasaan bola 62%, dan 689 operan. Swiss hanya 8 tembakan (2 on target) dengan penguasaan 38% — namun satu tembakan on target di babak kedua sudah cukup untuk memaksa perpanjangan waktu.
Disiplin juga menjadi kunci Swiss. Meski bertahan dalam tekanan, mereka hanya menerima satu kartu kuning (Denis Zakaria, menit ke-67), sementara Argentina mendapat dua kartu kuning (Cristian Romero menit ke-19, Nahuel Molina menit ke-82). Akumulasi kartu bisa menjadi faktor krusial di extra time, terutama bagi Romero yang sudah berstatus one yellow away from suspension.
Kedua tim kini bersiap melanjutkan duel ke 30 menit tambahan. Argentina punya rekor apik di extra time sepanjang era Scaloni — final Piala Dunia 2022 melawan Prancis adalah bukti mental juara mereka. Namun, Swiss juga bukan lawan enteng. Mereka belum terkalahkan dalam enam laga terakhir, dengan empat kemenangan dan dua hasil imbang. Clean sheet juga menjadi spesialisasi mereka: hanya kebobolan tiga gol dalam lima pertandingan di turnamen ini sebelum bertemu Argentina.
Pertanyaan kini menggantung: mampukah Argentina menemukan kembali ketajamannya, atau justru Swiss yang akan mencuri kemenangan dan menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia 2026? Satu hal pasti — 30 menit ke depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi juara bertahan.
Baca juga:
Comments (0)