Spanyol Samai Rekor Tak Terkalahkan Italia Usai Kalahkan Prancis

Skor akhir 2-1 untuk La Furia Roja. Spanyol memastikan tempat di partai puncak setelah menumbangkan Prancis dalam laga semifinal yang berlangsung sengit hingga peluit terakhir. Kemenangan ini bukan se...

Spanyol Samai Rekor Tak Terkalahkan Italia Usai Kalahkan Prancis

Skor akhir 2-1 untuk La Furia Roja. Spanyol memastikan tempat di partai puncak setelah menumbangkan Prancis dalam laga semifinal yang berlangsung sengit hingga peluit terakhir. Kemenangan ini bukan sekadar tiket final — ini adalah momen bersejarah yang menempatkan Spanyol sejajar dengan Italia sebagai pemilik rekor 37 pertandingan beruntun tanpa kekalahan di kancah internasional.

Di hadapan lebih dari 65.000 penonton, anak asuh Luis de la Fuente menunjukkan karakter juara sejati. Tertinggal lebih dulu, mereka membalikkan keadaan lewat dua gol yang lahir dari skema permainan kolektif yang sudah menjadi DNA sepakbola Spanyol selama satu setengah dekade terakhir.

Catatan 37 Laga Tanpa Kalah: Perjalanan yang Dimulai Dua Tahun Silam

Rekor 37 pertandingan tanpa kekalahan ini bukan prestasi yang lahir dalam semalam. Rangkaian hasil impresif Spanyol dimulai sejak November 2022, selepas kegagalan di Piala Dunia Qatar yang menyisakan luka mendalam. Sejak saat itu, Spanyol bertransformasi menjadi mesin kemenangan yang nyaris tanpa cela: 29 kemenangan dan 8 hasil imbang dalam rentang waktu hampir empat tahun.

Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa adalah konsistensi yang ditunjukkan melawan lawan-lawan kelas berat. Dalam 37 laga tersebut, Spanyol menghadapi Jerman dua kali, Kroasia, Italia, Inggris, dan kini Prancis — semuanya berakhir tanpa kekalahan. Penguasaan bola rata-rata mereka selama periode ini menyentuh angka 63,4%, dengan rata-rata shots on target mencapai 5,8 per pertandingan. Angka yang menggambarkan dominasi, bukan sekadar keberuntungan.

Italia sebelumnya mencatatkan rekor serupa pada periode 2018 hingga 2021 di bawah asuhan Roberto Mancini — sebuah capaian yang mengantarkan Gli Azzurri meraih gelar Euro 2020. Kini Spanyol berdiri di level yang sama, dengan peluang melampaui rekor tersebut jika mampu menghindari kekalahan di partai final nanti.

Menit demi Menit: Bagaimana Spanyol Menjinakkan Les Bleus

Menit ke-14, publik Spanyol sempat terdiam. Kylian Mbappé, yang kembali dipercaya sebagai starter setelah sempat diragukan karena masalah kebugaran, melepaskan tusukan mematikan dari sisi kiri. Umpan silang mendatarnya berhasil dituntaskan menjadi gol oleh Randal Kolo Muani dari jarak enam meter. Prancis unggul 1-0. Statistik sementara menunjukkan Spanyol tertinggal dalam penguasaan bola — 52% berbanding 48% — situasi yang sangat langka bagi tim yang biasa mendominasi.

Namun respons Spanyol tak butuh waktu lama. Menit ke-21, skema umpan pendek cepat dari lini tengah yang dimotori Rodri dan Pedri berhasil membongkar blok pertahanan Prancis. Lamine Yamal, pemain termuda yang tampil di fase semifinal turnamen besar dalam 68 tahun terakhir, menerima bola di sisi kanan, memotong ke dalam, dan melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti yang bersarang di sudut atas gawang Mike Maignan. Skor 1-1. Yamal mencatatkan namanya di papan skor pada usia 16 tahun 362 hari — sebuah pencapaian yang mengguncang dunia.

Menit ke-36, Dani Olmo membawa Spanyol berbalik unggul. Bermula dari pressing tinggi yang memaksa Jules Koundé kehilangan bola di area pertahanan sendiri, Olmo melakukan kombinasi satu-dua dengan Álvaro Morata sebelum menceploskan bola ke gawang melalui sentuhan klinis kaki kanan. VAR sempat memeriksa potensi offside dalam proses gol tersebut, namun konfirmasi akhir memastikan gol sah. Skor 2-1 bertahan hingga turun minum.

Babak Kedua: Tembok Pertahanan dan Statistik Kunci

45 menit kedua menjadi panggung bagi lini belakang Spanyol. Prancis, yang meningkatkan intensitas serangan, mencatatkan total 8 shots on target sepanjang laga — lima di antaranya terjadi di babak kedua. Namun Unai Simón tampil sebagai tembok terakhir yang sulit ditembus. Tiga penyelamatan krusial dilakukan kiper Athletic Bilbao itu, termasuk tepisan satu tangan terhadap sundulan Dayot Upamecano pada menit ke-67 dari situasi sepak pojok.

Aymeric Laporte dan Robin Le Normand membentuk duet bek tengah yang solid, memenangkan 78% duel udara dan mencatatkan 11 clearance sepanjang pertandingan. Rodri, yang ditunjuk sebagai pemain terbaik pertandingan, menyelesaikan 94% umpan sukses dari 112 sentuhan bola — angka yang menunjukkan betapa vitalnya perannya sebagai pengatur tempo dari posisi gelandang bertahan.

Penguasaan bola berakhir dengan skor 55% untuk Spanyol, 45% untuk Prancis. Total shots 14-12 untuk keunggulan tipis Les Bleus, namun shots on target menunjukkan efisiensi Spanyol: 6 berbanding 8. Formasi 4-3-3 yang diterapkan De la Fuente terbukti ampuh, terutama dalam transisi bertahan-menyerang yang dilakukan dalam hitungan detik setiap kali bola direbut dari kaki pemain Prancis.

Mengukir Sejarah, Menatap Final

37 laga tanpa kekalahan. Sebuah angka yang hanya pernah dicapai Italia di era modern sepakbola internasional. Tapi Spanyol belum selesai. Rekor ke-38 bisa tercipta di final, dan jika itu terjadi, mereka akan berdiri sendiri di puncak sebagai tim dengan rekor tak terkalahkan terpanjang dalam sejarah sepakbola Eropa.

"Kami tidak memikirkan rekor saat bertanding. Yang ada di kepala para pemain hanyalah bagaimana memenangkan setiap duel, setiap laga, dan membawa pulang trofi untuk rakyat Spanyol. Rekor adalah konsekuensi dari kerja keras kolektif,"

Statistik membuktikan bahwa era keemasan baru tengah berlangsung. Dengan pemain-pemain muda seperti Yamal, Pedri, Gavi, dan Nico Williams yang masih jauh dari puncak karier, plus kehadiran pemain matang seperti Rodri dan Morata, fondasi tim ini dibangun untuk jangka panjang. Dari 37 pertandingan tanpa kekalahan, 15 di antaranya adalah clean sheet — bukti bahwa keseimbangan antara menyerang dan bertahan telah ditemukan.

Satu laga lagi. Satu kemenangan lagi. Dan Spanyol bukan hanya akan menggenggam trofi, tapi juga menahbiskan diri sebagai tim terhebat yang pernah ada dalam sejarah sepakbola internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User