Spanyol Kampiun Piala Dunia 2026, Argentina Tunduk di Final
Skor akhir 2-1. Spanyol menahbiskan diri sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan juara bertahan Argentina di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Juli 2026. Lionel Scaloni ...
Skor akhir 2-1. Spanyol menahbiskan diri sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan juara bertahan Argentina di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, pada 20 Juli 2026. Lionel Scaloni berdiri lama di tepi lapangan, kedua tangan di pinggang, menatap kosong ke arah tribun — ekspresi yang menjadi gambar paling mewakili malam pahit bagi La Albiceleste. Statistik berbicara: Argentina unggul penguasaan bola 58 persen berbanding 42 persen, melepaskan 15 tembakan dengan 4 shots on target, sementara Spanyol jauh lebih efisien dengan 12 tembakan dan 7 shots on target. Efisiensi, bukan dominasi, yang membawa trofi kembali ke Eropa untuk pertama kalinya sejak 2018.
Babak Pertama: Jebakan Offside Spanyol dan Pukulan Menit ke-23
Kedua pelatih menurunkan starting XI dengan formasi 4-3-3. Scaloni mengandalkan Emiliano Martínez di bawah mistar, lini belakang Molina, Romero, Otamendi, dan Tagliafico, plus lini tengah De Paul, Enzo Fernández, dan Mac Allister, dengan trisula Messi, Julián Álvarez, dan Nico González. Luis de la Fuente menjawab dengan Unai Simón, Carvajal, Le Normand, Laporte, Cucurella, trio Pedri-Rodri-Gavi, serta Lamine Yamal, Oyarzabal, dan Nico Williams. Menit ke-23, momen yang mengubah segalanya: Lamine Yamal menerima assist dari Nico Williams di sisi kanan, memotong ke dalam, dan melepaskan tendangan kaki kiri melengkung ke tiang jauh yang tak bisa dijangkau Emiliano Martínez. 1-0. Itu adalah gol kelima Yamal di turnamen ini — catatan yang menjadikannya pemain termuda dengan lima gol dalam satu edisi Piala Dunia. Argentina merespons dengan tekanan tinggi. Menit ke-31, tendangan bebas Lionel Messi nyaris menyamakan kedudukan, tetapi Unai Simón menepisnya dengan satu tangan. Masalah Argentina di babak pertama jelas: tiga kali terjebak offside karena garis pertahanan Spanyol yang digeser tinggi. Hingga jeda, Argentina belum mencatat satu pun shots on target dari dalam kotak penalti.
Babak Kedua: Gol Balasan, Keputusan VAR, dan Kartu Merah
Scaloni mengubah ritme usai turun minum, dan hasilnya datang di menit ke-54. Messi menusuk dari lini kedua, melepaskan umpan terobosan, dan Julián Álvarez menuntaskannya dengan sepakan first time ke pojok gawang. Itu menjadi assist kesekian Messi di pentas Piala Dunia, mempertegas statusnya sebagai pengumpan terbanyak sepanjang sejarah turnamen. 1-1. Stadion bergemuruh, tetapi kebahagiaan Argentina hanya bertahan 13 menit. Menit ke-67, Spanyol menghukum transisi yang ceroboh: Rodri memutus serangan, Nico Williams berlari di sisi kiri, dan assist kedua pemain sayap itu disambut sundulan Mikel Oyarzabal di tiang jauh. 2-1. Spanyol menutup ruang dengan disiplin, dan meskipun Yamal sempat mengancam mencetak hat-trick seperti yang ia catat di semifinal melawan Prancis, kali ini satu gol sudah cukup baginya. Argentina mencoba bangkit, lalu menit ke-78 segalanya semakin berat: Enzo Fernández diganjar kartu kuning kedua — yang berujung kartu merah — setelah tekel terlambat ke Pedri. Bermain dengan sepuluh pemain, harapan Argentina menggantung pada momen kontroversial di menit ke-83: gol Lautaro Martínez dianulir setelah pemeriksaan VAR menemukan posisi offside beberapa sentimeter. Keputusan itu memicu protes keras dari bangku cadangan, dan Scaloni sendiri menerima kartu kuning. Spanyol mengunci kemenangan dengan tenang; skor akhir 2-1 bertahan hingga peluit panjang.
Ekspresi Scaloni dan Pertaruhan Masa Depan
Gambar-gambar seusai laga menunjukkan Scaloni menunduk dalam diam, sesekali merangkul pemain yang roboh di lapangan. Sejak mengambil alih tim pada 2018, pelatih asal Santa Fe itu membangun generasi emas: Copa América 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, dan Copa América 2024. Sepanjang Piala Dunia 2026, Argentina nyaris tak pernah tertinggal — sampai malam ini. Spanyol mematahkan rentetan itu dengan permainan posisi yang matang: 612 operan sukses dari 689 percobaan, sementara Argentina hanya 487. Kartu kuning tercatat empat untuk Argentina dan dua untuk Spanyol; tidak ada clean sheet bagi kedua kiper, dengan Emiliano Martínez melakukan lima penyelamatan dan Unai Simón tiga.
"Statistik tidak pernah memenangkan trofi. Kami menguasai bola, tetapi mereka mencetak gol di momen yang tepat. Ini kekalahan yang menyakitkan, dan kami harus belajar darinya," ujar Scaloni dalam konferensi pers seusai laga.
Bagi Spanyol, gelar ini menjadi yang kedua setelah 2010, sekaligus bukti regenerasi total dari skuad emas 2010 ke generasi Yamal dan Pedri. Bagi Argentina, pertanyaan besar menggantung: akankah Scaloni bertahan hingga Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko? Malam di East Rutherford mungkin menjadi akhir dari sebuah era — atau awal dari pembalasan berikutnya. Yang pasti, malam itu milik Spanyol, dan wajah kecewa Scaloni akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan para pendukung Argentina.
Comments (0)