Ferran Torres Angkat Trofi, Spanyol Jawara Piala Dunia 2026

Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di partai puncak, dan trofi Piala Dunia 2026 akhirnya kembali ke Madrid. Pada 20 Juli 2026, Cibeles Square berubah menjadi lautan merah saat Ferr...

Ferran Torres Angkat Trofi, Spanyol Jawara Piala Dunia 2026

Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di partai puncak, dan trofi Piala Dunia 2026 akhirnya kembali ke Madrid. Pada 20 Juli 2026, Cibeles Square berubah menjadi lautan merah saat Ferran Torres mengangkat trofi juara di hadapan puluhan ribu pendukung La Roja. Perayaan ini menjadi titik akhir perjalanan panjang yang dimulai di turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sekaligus mengunci gelar kedua dalam sejarah Spanyol setelah edisi 2010 di Afrika Selatan.

Final yang Mengubah Sejarah

Di final yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, Spanyol menurunkan starting XI terbaiknya dengan formasi 4-3-3. Ferran Torres ditempatkan sebagai penyerang tengah, diapit Nico Williams di sisi kiri dan Lamine Yamal di sisi kanan. Pelatih Spanyol mempercayakan lini tengah bertiga kepada Pedri sebagai pengatur irama, sementara Rodri menjadi jangkar di depan lini belakang, persis seperti cetak biru taktik yang dipakai sejak fase grup.

Menit ke-12, petaka bagi Argentina. Yamal melepaskan umpan terobosan menusuk pertahanan, dan Ferran Torres menyambutnya dengan tendangan first-time ke sudut jauh gawang. Gol menit ke-12 itu menjadi gol pembuka sekaligus membungkam puluhan ribu pendukung Argentina di tribun. Skor 1-0, dan sejak detik itu Spanyol mengambil alih kendali pertandingan sepenuhnya.

Data penguasaan bola babak pertama mencatat Spanyol unggul 67 persen berbanding 33 persen untuk Argentina. La Roja melepaskan delapan tembakan dengan empat shots on target, sementara Argentina hanya mampu mencatat dua tembakan dan satu mengarah ke gawang. Meski dominan, gol kedua tidak kunjung lahir hingga wasit meniup peluit turun minum dengan skor tetap 1-0.

Babak Kedua, VAR, dan Keputusan Krusial

Babak kedua berjalan jauh lebih sengit. Menit ke-58, Argentina menyamakan kedudukan lewat sundulan bek tengahnya memanfaatkan sepak pojok. Skor berubah 1-1 dan tekanan langsung beralih ke pertahanan Spanyol. Namun, menit ke-66, VAR menjadi pusat perhatian ketika gol kedua Argentina dianulir karena offside setelah peninjauan berlangsung lebih dari dua menit. Keputusan itu memicu protes keras dari bangku cadangan, tetapi wasit bersikukuh dengan hasil monitor lapangan.

Spanyol bangkit kembali dengan tenang. Menit ke-71, Pedri mencetak gol kedua lewat sepakan voli sempurna menyambut umpan silang Nico Williams dari sisi kiri. Skor 2-1. Argentina mencoba keluar menekan dengan memasukkan dua penyerang tambahan, tetapi justru celah di lini belakang mereka terbuka lebar. Menit ke-83, Ferran Torres menjadi kreator dengan assist terukur yang melepaskan Nico Williams dari jebakan offside, dan pemain sayap itu menuntaskan peluang satu lawan satu dengan tenang. Skor akhir 3-1.

Statistik lengkap pertandingan mencatat penguasaan bola 64-36, shots on target 7-3, dan akurasi umpan 91 persen untuk Spanyol. Kartu kuning diberikan dua kali untuk pemain Spanyol dan tiga kali untuk Argentina, sementara catatan offside berakhir 1-2. Semua angka tersebut menggambarkan satu hal: Spanyol memenangkan final bukan dengan keberuntungan, melainkan dengan penguasaan dan ketenangan taktis.

Ferran Torres: Pahlawan di Dua Front

Jika Piala Dunia ini memiliki satu nama yang paling menonjol, itu adalah Ferran Torres. Penyerang berusia 26 tahun itu menutup turnamen dengan enam gol dan tiga assist, catatan tertinggi dalam kontribusi gol langsung di antara seluruh pemain. Dari fase grup hingga final, ia tidak pernah absen dari starting XI dan menjadi titik tumpu serangan Spanyol dengan pergerakan tanpa bola yang sulit dibaca para bek lawan.

Di final, kontribusinya tercatat nyaris sempurna: satu gol, satu assist, tiga tembakan tepat sasaran, dan dua peluang kunci yang diciptakan untuk rekan setimnya. Penampilan tersebut membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan, penghargaan yang melengkapi koleksi individu pribadinya di turnamen ini. Saat upacara di Cibeles Square tiba, ia menjadi sosok terakhir yang mengangkat trofi, disambut gemuruh pendukung yang memadati alun-alun hingga ke Paseo del Prado.

Perayaan yang Menutup Penantian Panjang

Perayaan di Cibeles Square pada 20 Juli 2026 berlangsung lebih dari lima jam tanpa henti. Para pemain, staf pelatih, dan keluarga bergantian naik ke panggung sementara lagu kebangsaan berkumandang di tengah hujan konfeti merah dan kuning. Ferran Torres mengangkat trofi emas itu tiga kali, dan setiap kali disambut teriakan massa yang memecahkan rekor keramaian alun-alun kota Madrid.

Bagi Spanyol, gelar ini menutup penantian selama 16 tahun sejak kemenangan di Johannesburg pada 2010. Namun yang jauh lebih penting, generasi baru La Roja yang dipimpin Yamal, Pedri, dan Ferran Torres telah membuktikan bahwa estetika sepak bola penguasaan bola tidak pernah mati. Skor akhir 3-1 ini akan dikenang sebagai awal dari era baru sepak bola Spanyol.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User