Skor Akhir Spanyol 2-1 Argentina: La Roja Juara Piala Dunia 2026
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Spanyol. Menit ke-89, wasit meniup peluit panjang di Stadion New York/New Jersey, dan Lionel Scaloni langsung menundukkan kepala di pinggir lapangan. La Roja berhasil m...
Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Spanyol. Menit ke-89, wasit meniup peluit panjang di Stadion New York/New Jersey, dan Lionel Scaloni langsung menundukkan kepala di pinggir lapangan. La Roja berhasil merengkuh gelar juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina dalam laga final yang penuh drama dan data statistik yang mencengangkan. Pertandingan yang digelar pada 20 Juli 2026 itu bukan hanya soal kejayaan generasi muda Spanyol, tapi juga tentang bagaimana taktik presisi mengalahkan fighting spirit juara bertahan.
Menit ke-31, Spanyol membuka keran gol melalui tendangan klinis Pedri setelah menerima assist manis dari Lamine Yamal. Starting XI La Roja yang diturunkan Luis de la Fuente dalam formasi 4-3-3 berhasil menguasai ritme permainan sejak awal. Penguasaan bola Spanyol di babak pertama mencapai 58 persen, dengan 6 shots on target yang terus menguji ketenangan Emiliano Martínez. Argentina, yang membalas dengan formasi 4-4-2 andalan Scaloni, kesulitan keluar dari tekanan high press yang diterapkan trio gelandang Spanyol.
Babak Pertama: Mesin Possession Spanyol Menyiksa Defense Argentina
Formasi 4-3-3 Spanyol benar-benar membuat starting XI Argentina bekerja ekstra keras tanpa bola. Lamine Yamal dan Nico Williams menempati posisi sayap yang lebar, memaksa full-back Argentina, Nahuel Molina dan Nicolás Tagliafico, untuk tidak bisa naik membantu serangan. Menit ke-18, Spanyol nyaris mencetak gol kedua saat Fermín López melepaskan tendangan voli dari luar kotak penalti, tapi bola masih melambung tipis di atas mistar gawang.
Argentina baru mendapatkan shots on target pertama mereka di menit ke-29 ketika Rodrigo De Paul mencoba peruntungan dari 25 yard. Namun, Unai Simón dengan sigap melakukan penyelamatan krusial. Hingga jeda babak, skor 1-0 untuk Spanyol mencerminkan dominasi statistik: 9 tendangan total dengan 6 mengarah ke gawang, dibandingkan Argentina yang baru melepaskan 2 shots on target dari total 4 percobaan. Penguasaan bola 58-42 persen jelas menunjukkan siapa yang mengendalikan orkestra di lantai dansa East Rutherford.
Babak Kedua: VAR, Offside, dan Gol Penentu La Roja
Masuk ke babak kedua, Scaloni melakukan adjustment taktis dengan memasukkan Leandro Paredes untuk memperkuat lini tengah. Hasilnya, Argentina tampil lebih agresif. Menit ke-58, Julián Álvarez menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah menerima assist dari Enzo Fernández. Striker Manchester City itu dengan dingin mengecoh Unai Simón dalam situasi one-on-one, memaksa La Roja untuk kembali memainkan permainan possession mereka.
Namun, kegembiraan Argentina tidak bertahan lama. Menit ke-77, Spanyol kembali unggul lewat gol header Mikel Merino usai menerima umpan silang presisi dari Alejandro Grimaldo. Formasi Argentina yang mulai terbuka usai mencetak gol sama rata menjadi bumerang. Scaloni kemudian mempertaruhkan dengan memasukkan Paulo Dybala dan Lautaro Martínez, beralih ke formasi 3-4-3 all-out attack.
Drama puncak terjadi di menit ke-84. Lautaro Martínez menggetarkan jala gawang Spanyol dan langsung merayakan gol. Namun, wasit meminta VAR untuk memeriksa posisi. Setelah review selama tiga menit, layar stadion menampilkan keputusan offside. Garis semi-automated offside menunjukkan bahwa Lautaro berada lebih dulu dari bek terakhir saat umpan diarahkan kepadanya. Gol dianulir, dan Scaloni terlihat frustrasi di bench.
Analisis Taktik: Pressing Intens dan Transisi Cepat Jadi Kunci
Dari sisi statistik akhir, Spanyol menutup laga dengan penguasaan bola 54 persen dan total 14 shots on target dari 22 percobaan. Sementara Argentina mencatat 8 shots on target dari 13 tendangan. Meski kalah dalam duel possession, La Albiceleste sebenarnya lebih efisien dalam transisi, tapi ketajaman final third Spanyol menjadi pembeda. Starting XI Spanyol yang rata-rata berusia 24 tahun berhasil menjalankan instruksi pressing trap dengan disiplin tinggi, membuat Lionel Messi hanya menyentuh bola 38 kali di area berbahaya sepanjang 90 menit.
Kartu kuning muncul di menit ke-65 untuk Cristian Romero setelah melakukan tackle keras terhadap Pedri yang sedang melakukan counter attack. Wasit juga hampir mengeluarkan kartu merah di menit ke-81 saat Nicolás Otamendi terlibat insiden di kotak penalti, tapi VAR memutuskan tidak ada pelanggaran cukup berat untuk penalti maupun kartu. Clean sheet pun gagal diraih kedua tim, tapi Unai Simón tercatat melakukan 7 penyelamatan penting, menjadikannya salah satu pahlawan tersembunyi di balik keberhasilan Spanyol.
"Kami kecewa, tapi statistik tidak berbohong. Mereka lebih baik dalam penguasaan bola dan shots on target. Saya bangga pada pemain, tapi hari ini bukan milik kami," ujar Lionel Scaloni usai laga.
Kekalahan ini memastikan Argentina gagal meraih hat-trick gelar Piala Dunia dan memperpanjang puasa gelar mereka setelah sukses di Qatar 2022. Bagi Spanyol, ini adalah gelar kedua mereka sejak 2010, dan sebuah pembuktian bahwa revolusi taktik dengan formasi fluid 4-3-3 mampu mengalahkan pengalaman dan mentalitas juara. Scaloni yang tampak memperhatikan dari pinggir lapangan saat Spanyol mengangkat trofi akan kembali ke Buenos Aires dengan banyak PR untuk regenerasi starting XI Albiceleste.
Comments (0)