Prabowo Subianto Terima Delegasi Imperial College di Istana Negara
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan resmi delegasi Imperial College London di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 22 Juni 2026. Pertemuan yang ber
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan resmi delegasi Imperial College London di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 22 Juni 2026. Pertemuan yang berlangsung hangat ini didampingi langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, menandai babak baru kolaborasi pendidikan dan riset antara Indonesia dan Inggris.
Kronologi Pertemuan Bersejarah
- Pukul 09.45 WIB — Rombongan delegasi Imperial College yang dipimpin oleh Presiden Imperial College, Profesor Hugh Brady, tiba di kompleks Istana Kepresidenan melalui Gerbang Utama. Mereka disambut oleh protokol kenegaraan dan langsung diarahkan ke Ruang Jepara.
- Pukul 10.15 WIB — Presiden Prabowo memasuki ruang pertemuan dan menyapa satu per satu anggota delegasi. Suasana penuh keakraban terlihat saat kedua belah pihak saling bertukar senyum dan jabat tangan.
- Pukul 10.30 WIB — Sesi diskusi resmi dimulai, dipandu oleh Menteri Brian Yuliarto yang memaparkan tiga pilar utama kerja sama potensial: peningkatan kualitas sumber daya manusia, transfer teknologi, dan penguatan ekosistem inovasi nasional.
- Pukul 12.00 WIB — Penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan Imperial College London, disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo.
- Pukul 12.30 WIB — Konferensi pers singkat digelar di serambi Istana, di mana Presiden dan pimpinan delegasi memberikan pernyataan kepada awak media.
Agenda Strategis: Kolaborasi Riset dan SDM
Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir dua jam itu, kedua pihak membahas secara mendalam pengembangan kerja sama di bidang kecerdasan buatan (AI), teknologi kesehatan, energi terbarukan, dan rekayasa material. Presiden Prabowo menekankan, Indonesia harus melompat jauh dalam kapasitas inovasi agar tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen solusi global.
"Kami tidak ingin bangsa ini hanya menjadi pasar. Saya tegaskan, kita harus menjadi pemain kunci dalam rantai pasok teknologi dunia. Kolaborasi dengan Imperial College adalah kunci untuk mewujudkan mimpi itu," ujar Presiden Prabowo.
Desk data yang dipaparkan Menteri Brian Yuliarto menunjukkan, angka kolaborasi riset internasional Indonesia saat ini baru mencapai 23% dari total publikasi ilmiah nasional. Targetnya, melalui kerja sama ini, persentase tersebut meningkat menjadi 40% dalam lima tahun ke depan. Selain itu, Indonesia menargetkan pertumbuhan 500 peneliti baru berdampak global melalui program pertukaran dan beasiswa bersama.
Empat Pilar Utama Kesepakatan
- Pendirian Pusat Inovasi Bersama (Joint Innovation Hub) di Jakarta, yang akan menjadi wadah kolaborasi peneliti Indonesia dan Inggris. Hub ini akan fokus pada tiga sektor prioritas: teknologi kesehatan, energi bersih, dan digitalisasi industri.
- Program Beasiswa Imperial-Indonesia, berupa pendanaan penuh bagi 100 mahasiswa S2 dan S3 per tahun untuk menempuh studi di London. Program ini akan dipadukan dengan skema wajib kembali dan membangun proyek riset nasional selama minimal tiga tahun.
- Pertukaran Peneliti dan Dosen yang menargetkan 200 peneliti Indonesia ke Imperial College serta 50 profesor tamu dari London ke universitas-universitas di Indonesia setiap tahunnya.
- Inkubasi Startup Teknologi, dengan pendampingan langsung dari Imperial College Enterprise Lab. Diharapkan, lahir minimal 20 startup berbasis riset dengan valuasi di atas Rp100 miliar dalam kurun tiga tahun.
Profesor Hugh Brady menyambut antusias inisiatif tersebut. Ia menegaskan bahwa Imperial College melihat Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Asia-Pasifik.
"Indonesia memiliki populasi muda yang besar, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, dan sumber daya alam melimpah. Ini adalah kombinasi langka. Kami bangga dapat berkontribusi pada transformasi pendidikan tinggi dan riset di Indonesia," tutur Brady di hadapan wartawan.
Respons Kementerian dan Target Waktu
Menteri Brian Yuliarto menambahkan, implementasi nota kesepahaman akan dimulai segera. Ia menargetkan Pusat Inovasi Bersama sudah beroperasi paling lambat Maret 2027. Sementara itu, beasiswa gelombang pertama dijadwalkan dibuka pada September 2026 dengan kuota awal 50 penerima.
"Kami akan membentuk satuan tugas lintas direktorat untuk memastikan semua program berjalan sesuai rencana. Tidak boleh ada proyek yang hanya seremonial. Semua harus terukur dampaknya," tegas Brian.
Pertemuan ini menjadi salah satu langkah konkret pemerintahan Prabowo dalam memperkuat diplomasi pendidikan tinggi, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Analis pendidikan mencatat, menggandeng institusi sekelas Imperial College—yang konsisten bertengger di peringkat 10 besar dunia versi QS World University Rankings—merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia serius membangun ekonomi berbasis pengetahuan.
Di penghujung acara, Presiden Prabowo dan Profesor Brady saling bertukar cenderamata. Presiden memberikan miniatur kapal Pinisi emas, simbol kejayaan maritim Indonesia, sementara pihak Imperial College menyerahkan replika Queen’s Tower, ikon kampus mereka di South Kensington.
Dengan fondasi kerja sama yang ambisius ini, publik berharap lahir generasi ilmuwan dan inovator Indonesia yang mampu bersaing di panggung global. (Foto: Badan Komunikasi RI)
[SOCIAL_TWEET]: Presiden Prabowo resmi gandeng Imperial College London! Pusat inovasi bersama, beasiswa 100 mahasiswa/tahun, & target 40% kolaborasi riset global. Langkah besar menuju Indonesia Emas 2045. #Prabowo #ImperialCollege #PendidikanIndonesia[SOCIAL_TG]: 🎓🇮🇩 Breaking! Presiden Prabowo + Imperial College London deal! ✅ Joint Innovation Hub di Jakarta ✅ 100 beasiswa S2/S3 per tahun ✅ 200 peneliti bertukar tiap tahun Mulai September 2026. Indonesia siap jadi pemain teknologi global! 🚀
Comments (0)