Port FC Menang 2-0, Pelatih Treephan Kecewa dengan Performa Tim

Skor akhir 2-0 untuk Port FC atas PSMS Medan di laga pembuka Grup A Piala Presiden 2026, Selasa malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, tak sedikit pun meredakan tekanan di benak Sarawut Treephan. S...

Port FC Menang 2-0, Pelatih Treephan Kecewa dengan Performa Tim

Skor akhir 2-0 untuk Port FC atas PSMS Medan di laga pembuka Grup A Piala Presiden 2026, Selasa malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, tak sedikit pun meredakan tekanan di benak Sarawut Treephan. Sang pelatih justru menyimpan kekecewaan yang teramat dalam, meski tiga poin sudah dikantongi. Penguasaan bola 67% berbanding 33%, 12 tembakan dengan 6 tepat sasaran — angka yang jauh lebih superior — tidak cukup untuk memuaskan ekspektasinya. “Ini bukan kemenangan yang saya inginkan. Kami menang, tapi saya melihat terlalu banyak lubang yang bisa dihukum oleh lawan yang lebih tajam,” gumamnya dingin di konferensi pers usai laga.

Babak Pertama: Dominasi Mandul dan Peluang Terbuang

Sejak peluit awal dibunyikan, Port FC langsung mengambil inisiatif dengan formasi 4-3-3 yang cair. Menit ke-7, umpan terobosan gelandang serang, Nattawut Suksum, nyaris disambar striker Brasil mereka, Thiago Cunha, namun kiper PSMS, M. Rizky Fauzan, sigap menutup ruang. PSMS Medan, yang turun dengan skema 5-4-1 bertahan, memang dirancang untuk meredam agresivitas tim asal Thailand itu. Strategi ini berjalan cukup efektif di 30 menit pertama. Port FC kesulitan menembus kotak penalti, hanya mencatatkan dua tembakan tepat sasaran dari sembilan percobaan sepanjang babak pertama. Sepanjang babak, umpan silang dari kedua fullback, Kevin Deeromram dan Nitipong Selanon, tak menemui target yang diharapkan. Kecepatan transisi tidak diimbangi kualitas pengambilan keputusan di lini akhir. Menit ke-34, peluang emas tercipta ketika Pakorn Prempak melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak, namun membentur mistar. Babak pertama berakhir 0-0, dan tanda-tanda frustrasi mulai terlihat dari gestur tubuh Treephan di pinggir lapangan.

Babak Kedua: Gol Datang, Kritik Justru Menguat

Memasuki babak kedua, Treephan menarik keluar gelandang bertahan, Siwakorn Tiatrakul, dan memasukkan penyerang muda, Teerasak Poeiphimai, untuk menambah daya gedor. Perubahan ini langsung berbuah hasil pada menit ke-58. Berawal dari pergerakan tanpa bola Pakorn di sisi kanan, ia mengirim umpan tarik ke titik penalti yang disambut tandukan keras Thiago Cunha. Gol pertama Port FC, assist: Pakorn Prempak, menit 58. Namun, alih-alih meredakan, gol ini justru memperlihatkan celah yang semakin dikhawatirkan Treephan. PSMS Medan tiba-tiba berani keluar menyerang. Menit ke-63, serangan balik cepat yang dipelopori winger lincah, Hariyanto Rasyid, memaksa kiper Watchara Buathong melakukan penyelamatan krusial. Beberapa kali lini belakang Port FC kehilangan konsentrasi, meninggalkan ruang di antara bek tengah yang bisa dieksploitasi.

Gol kedua baru lahir pada menit ke-78 lewat kaki Teerasak Poeiphimai. Menerima assist cerdik dari Nattawut, sang striker muda melepaskan tembakan mendatar yang tak mampu dijangkau Rizky. Skor 2-0, assist Nattawut Suksum untuk Teerasak Poeiphimai. Meski unggul dua gol, statistik shots on target menunjukkan penurunan efektivitas: hanya tiga tembakan tepat sasaran di babak kedua dari sepuluh percobaan. Justru PSMS yang tampil lebih hidup, mengoleksi tiga peluang emas di 20 menit akhir, yang beruntung tidak berbuah gol karena ketangguhan lini belakang Port FC dalam situasi kacau. Data xA (expected assists) menunjukkan bahwa kualitas peluang PSMS justru lebih tinggi secara rata-rata di babak kedua, sebuah alarm bagi tim yang mengincar gelar.

Analisis Taktikal: Transisi Lemah, Finishing Buruk

Kekecewaan Treephan bisa dipahami bila mengacu pada peta panas (heatmap) pemain. Formasi 4-3-3 mereka gagal menciptakan penguasaan yang progresif di sepertiga akhir lapangan. Jarak antara gelandang tengah dan striker sering kali terlalu renggang, memaksa Thiago Cunha turun terlalu dalam untuk menjemput bola. Akibatnya, Port FC kehilangan kehadiran di kotak penalti saat transisi cepat. “Kami punya lebih dari 20 sentuhan di kotak penalti lawan, tapi hanya enam yang berakhir sebagai tembakan. Itu bukan standar kami,” ujar Treephan. Statistik turnover juga menjadi sorotan: 15 kali kehilangan bola di area yang mengundang serangan balik. PSMS Medan, yang hanya menguasai bola 33%, justru tampil lebih efisien secara defensif dengan catatan 40 clearance dan 5 blok tembakan di dalam kotak. Kartu kuning yang diterima bek PSMS, Aji Kusuma, pada menit ke-72 karena pelanggaran keras menjadi satu-satunya warna disiplin di laga ini. Tidak ada VAR intervensi berarti selain pengecekan cepat untuk kemungkinan offside sebelum gol pertama.

Reaksi Pelatih dan Pemain Pascapertandingan

“Saya tidak mencari alasan. Tim ini harus bekerja lebih keras. Kemenangan ini tidak boleh menutupi fakta bahwa kami bermain di bawah level yang seharusnya. Jika melawan tim yang lebih klinis, kami bisa dihukum. Saya kecewa dengan intensitas dan ketajaman kami di depan gawang. Dua gol dari 12 tembakan bukan statistik yang membanggakan,”

tegas Treephan dengan raut serius, menegaskan bahwa rotasi besar-besaran mungkin akan terjadi di laga berikutnya. Sementara itu, pencetak gol Thiago Cunha lebih diplomatis. “Tiga poin itu penting. Kami tahu ada yang harus diperbaiki, tapi tim ini punya karakter. Kami akan menampilkan yang lebih baik,” ucapnya singkat. Dari kubu PSMS, pelatih M. Yamin menyatakan puas dengan disiplin timnya meski kalah. “Kami kalah dari tim yang lebih mapan, tapi permainan kami di babak kedua memberi harapan. Transisi kami hampir sempurna, hanya penyelesaian akhir yang kurang beruntung,” tandasnya. PSMS Medan kini bersiap menghadapi laga hidup mati berikutnya, sementara Port FC duduk di puncak klasemen dengan tiga poin, namun dengan catatan evaluasi yang lebih panjang daripada perayaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User