Argentina Singkirkan Inggris 2-1, Lautaro Gembleng Tiket Final
Skor akhir 2-1! Argentina memastikan satu tempat di partai puncak Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Inggris dalam drama 90 menit di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Rabu (15/7/2026) waktu setempat....
Skor akhir 2-1! Argentina memastikan satu tempat di partai puncak Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Inggris dalam drama 90 menit di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Rabu (15/7/2026) waktu setempat. Lautaro Martinez kembali jadi pahlawan Albiceleste dengan gol penentu di babak kedua, menyusul pembuka dari Julian Alvarez yang membuat Three Lions terjebak dalam tekanan sepanjang laga. Kemenangan ini mengantar Lionel Scaloni dan pasukannya untuk bertemu Spanyol di final akbar pekan depan.
Babak Pertama: Alvarez Meledak, Penguasaan Bola Three Lions Tak Berguna
Menit ke-34, Julian Alvarez melepaskan tendangan deras dari inside the box usai menerima assist tajam Enzo Fernandez. Gol tersebut membuka keran bagi Argentina yang sebenarnya lebih banyak bertahan menghadapi gempuran awal Inggris. Starting XI Lionel Scaloni memang sengaja menurunkan formasi 4-3-3 yang fleksibel, dengan Lautaro Martinez sebagai false nine dan Alvarez mengisi sayap kanan yang rutin memotong ke tengah.
Di sisi lain, Gareth Southgate mempercayakan formasi 4-2-3-1 andalannya dengan Jude Bellingham sebagai attacking midfielder di belakang Harry Kane. Namun, meski penguasaan bola Inggris mencapai 54 persen dengan 7 shots on target di 45 menit pertama, mereka kesulitan menembus blok pertahanan rapat Argentina. Emiliano Martinez melakukan dua penyelamatan krusial dari tembakan Declan Rice dan Phil Foden sebelum jeda.
Wasit juga sempat mengeluarkan kartu kuning untuk Cristian Romero pada menit ke-28 setelah tekel keras terhadap Bukayo Saka. VAR memeriksa insiden tersebut selama dua menit, namun memutuskan tidak ada elemen kartu merah. Situasi memanas, tapi skor 1-0 untuk Argentina bertahan hingga whistel babak pertama.
Babak Kedua: Lautaro Martinez Dobrak Gawang, Kane Hanya Perkecil
Masuk babak kedua, Argentina tak menunggu lama. Menit ke-68, Lautaro Martinez menerima umpan terobosan Rodrigo De Paul di sisi kanan kotak penalti. Striker Inter Milan itu dengan dingin melepaskan tendangan rendah ke sudut bawah gawang Jordan Pickford, membawa Argentina unggul 2-0. Assist De Paul mencatatkan namanya di statistik krusial, membuktikan peran sentralnya sebagai motor serangan dari lini tengah.
Ketinggalan dua gol, Southgate langsung melakukan triple substitution: memasukkan Cole Palmer, Anthony Gordon, dan Ollie Watkins untuk memperkuat lini serang. Tekanan Inggris membuahkan hasil pada menit ke-79 ketika Harry Kane mencetak gol dari titik putih setelah VAR mengonfirmasi handball Nicolas Otamendi di dalam kotak penalti. Kane mengeksekusi dengan tenang, perkecil skor menjadi 2-1, dan membangkitkan harapan Three Lions.
Namun, kegembiraan Inggris sirna pada menit ke-84. Phil Foden memasukkan bola ke gawang Emiliano Martinez, namun garis offside digital menunjukkan posisi Foden sudah lebih dulu maju saat menerima umpan terakhir. Keputusan VAR yang kontroversial itu membatalkan gol penyama kedudukan. Hingga wasit meniup peluit panjang, Inggris gagal menambah gol meski total shots on target mereka mencapai 9 kali berbanding 6 milik Argentina.
Menuju Final: Data dan Taktik Scaloni yang Menyiksa Spanyol
Dari catatan statistik akhir, penguasaan bola Inggris memang lebih tinggi di angka 56 persen, namun Argentina jauh lebih efektif dengan 8 shots on target dari total 12 tembakan. Formasi 4-3-3 Scaloni berhasil memaksimalkan transisi cepat melalui trio Messi-Alvarez-Lautaro, sementara lini tengah Enzo-De Paul-Paredes bekerja ekstra untuk memutus aliran umpan ke Kane dan Bellingham. Clean sheet memang lepas di 11 menit akhir, namun organisasi bertahan Argentina tetap solid dalam menghadapi set piece ganas Inggris.
Lautaro Martinez kini mengemas dua gol krusial dalam dua laga knockout terakhir, sementara Julian Alvarez membuktikan dirinya predator andal di momen besar. Starting XI Argentina hanya melakukan dua pergantian pemain sepanjang laga, menandakan kebugaran dan disiplin taktis skuad Scaloni. Di sektor kanan, Nahuel Molina juga layak mendapat pujian setelah berhasil menetralkan ancaman Bukayo Saka yang akhirnya ditarik keluar pada menit ke-71.
Dengan kemenangan 2-1 ini, Argentina melangkah ke final untuk menghadapi Spanyol yang sehari sebelumnya menang dramatis. Laga puncak nanti akan jadi pertarungan dua generasi emas yang sama-sama mengandalkan permainan possession tinggi. Jika Scaloni ingin mengangkat trofi, konsistensi transisi cepat dan efisiensi shots on target harus dipertahankan selama 90 menit penuh. Satu langkah lagi, Albiceleste!
Comments (0)