Pau Cubarsi Kecam Komentar Rasis Rajoy Usai Spanyol Tekuk Prancis 3-1
Sevilla — Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Spanyol atas Prancis di semifinal UEFA Nations League 2025 di Estadio de la Cartuja, Rabu (11/6) malam, seharusnya menjadi selebrasi taktikal yang sempurna....
Sevilla — Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Spanyol atas Prancis di semifinal UEFA Nations League 2025 di Estadio de la Cartuja, Rabu (11/6) malam, seharusnya menjadi selebrasi taktikal yang sempurna. Namun, euforia itu ternodai oleh cuitan bernada rasial mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, yang menyasar pemain Prancis. Di tengah gemuruh kontroversi, bek muda Barcelona, Pau Cubarsi, tampil sebagai suara paling lantang membela integritas lawan dan membalas komentar Rajoy dengan tegas: 'Di sepak bola, warna kulit adalah keindahan, bukan topik ejekan.'
Menit ke-17, Alvaro Morata membuka skor melalui penyelesaian klinis memanfaatkan umpan terukur Dani Olmo dari sisi kanan. Formasi 4-3-3 racikan Luis de la Fuente mendominasi lini tengah dengan penguasaan bola 58 persen dan shots on target 6 berbanding 2. Blok pertahanan Cubarsi bersama Robin Le Normand tampil solid hingga turun minum, memenangi sembilan duel udara dan mencatat nol kesalahan antisipasi.
Gol Perdana Cubarsi dan Reaksi Prancis
Menit ke-51, Cubarsi mencuri perhatian lewat gol internasional pertamanya. Berawal dari sepak pojok Alex Baena, bek 18 tahun itu naik melewati kawalan William Saliba dan menyundul bola ke pojok kanan gawang Mike Maignan. Selebrasi penuh emosi ia daratkan ke arah tribun keluarga. Prancis merespons cepat: Kylian Mbappe memperkecil ketertinggalan di menit ke-73 lewat skema serangan balik tiga operan — assist dari Eduardo Camavinga — yang menembus garis pertahanan tinggi Spanyol. Namun, harapan Les Bleus padam ketika Olmo menggandakan keunggulan di menit ke-88 melalui sepakan datar dari luar kotak penalti, memanfaatkan kemelut hasil sapuan tak sempurna Jules Kounde.
Kontroversi dan Pembelaan Cubarsi
Sekitar satu jam setelah peluit panjang, Mariano Rajoy mencuit di platform X, menyebut pemain Prancis dengan istilah rasis yang merujuk pada warna kulit. Cuitan itu langsung menjadi viral dan menuai kecaman global, termasuk dari UEFA dan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF). Cubarsi, yang sedang menjalani sesi pendinginan, mengambil inisiatif untuk merespons langsung. Dalam konferensi pers dadakan, ia berkata: 'Saya tidak akan mendiamkan ucapan yang merendahkan rekan-rekan saya dari Prancis. Kami bertarung 90 menit dengan rasa hormat, dan seharusnya semua orang, apalagi mantan pemimpin, menjaga martabat olahraga ini. Komentar rasis tidak memiliki tempat di stadion maupun di luar.'
Pernyataan Cubarsi menggema karena sang bek juga menyoroti ironi: Rajoy, yang pernah memimpin Spanyol, justru mencederai semangat kebersamaan yang dibangun tim nasional — yang sejak era Vicente del Bosque dikenal multikultural. Data dari observatorium diskriminasi mencatat, insiden komentar rasis di media sosial oleh figur publik meningkat 34 persen dibanding tahun sebelumnya, sehingga respons langsung seperti yang dilakukan Cubarsi dinilai penting untuk memutus normalisasi ujaran kebencian.
Reaksi Pelatih dan Analisis Taktik
Luis de la Fuente memuji keberanian anak asuhnya. 'Pau bukan hanya pemain hebat, tapi juga manusia dengan karakter. Dia menyampaikan apa yang kami semua rasakan di ruang ganti — kebanggaan terhadap keragaman yang memperkuat sepak bola,' ujarnya. Secara taktik, performa Cubarsi mencerminkan kematangan di luar usianya: 89 persen akurasi operan progresif, empat pemotongan, dan satu gol vital. Duetnya dengan Le Normand membatasi kreator Prancis hanya menghasilkan satu umpan kunci dari open play.
Di sisi lain, kegagalan Prancis mendongkrak intensitas di sepertiga akhir tak lepas dari disiplin pressing garis tengah Spanyol yang dipimpin Rodri dan Mikel Merino. Prancis hanya mencatatkan dua shots on target sepanjang laga — terendah mereka dalam kompetisi resmi sejak Euro 2024. Statistik ini menegaskan bahwa kemenangan Spanyol bukan sekadar momentum, melainkan hasil dari eksekusi rencana permainan yang superior.
Keputusan Cubarsi untuk bersuara turut memantik diskusi di kalangan pengamat: apakah pesepakbola profesional wajib merespons isu di luar lapangan? Beberapa jam setelahnya, kapten Alvaro Morata dan gelandang Pedri turut mengunggah dukungan dengan tagar #RespectTheGame, menandakan solidaritas tim yang utuh. RFEF juga telah melayangkan surat resmi ke UEFA untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rajoy, meskipun ia bukan bagian dari federasi olahraga.
Dengan kemenangan ini, Spanyol melaju ke final Nations League menghadapi Italia. Namun, lebih dari trofi, momen Sevilla akan dikenang sebagai titik di mana seorang remaja 18 tahun menolak bungkam dan menggunakan pengaruhnya untuk menjaga harga diri olahraga yang konon menjadi alat pemersatu. Cubarsi mungkin baru awal karier, tetapi keberaniannya malam ini melampaui statistik apa pun.
Baca juga:
Comments (0)