Messi Siap Ukir Rekor Baru dalam Duel Klasik Kontra Inggris
Stadion Lusail kembali menjadi panggung megah bagi salah satu rivalitas terpanas dalam sejarah Piala Dunia. Argentina dan Inggris akan saling bentrok di babak perempat final, menghidupkan memori perte...
Stadion Lusail kembali menjadi panggung megah bagi salah satu rivalitas terpanas dalam sejarah Piala Dunia. Argentina dan Inggris akan saling bentrok di babak perempat final, menghidupkan memori pertemuan-pertemuan kontroversial yang telah menjadi legenda. Laga ini bukan sekadar perebutan tiket semifinal, melainkan juga panggung pribadi bagi Lionel Messi untuk menulis ulang buku rekor, sementara Harry Kane dan Jude Bellingham siap menggagalkan misi La Pulga dengan ambisi mereka sendiri.
Sejarah Kelam yang Melegenda
Rivalitas Argentina dan Inggris tak bisa dilepaskan dari momen-momen dramatis. Dimulai dari ‘Gol Tangan Tuhan’ Maradona pada 1986 yang legendaris, dilanjutkan kartu merah David Beckham usai menendang Diego Simeone di 1998, hingga adu penalti penuh emosi pada 2022 yang dimenangi Argentina. Kini, pertaruhan lebih besar menanti: satu tempat di semifinal dan kesempatan untuk mengukir sejarah individu. Atmosfer panas dipastikan menyelimuti duel ini.
Peluang Messi Menambah Legenda
Lionel Messi berpeluang memecahkan beberapa rekor sekaligus. Koleksi 13 gol Piala Dunia miliknya hanya terpaut satu dari rekor sepanjang masa milik Miroslav Klose, dan laga melawan Inggris bisa menjadi momen penyamaan. Jika berhasil mencetak gol, Messi akan menjadi pemain pertama yang membobol gawang Inggris di tiga edisi Piala Dunia berbeda, setelah melakukannya pada 2014 dan 2022. Sang kapten juga tengah mengincar rekor assist terbanyak dalam satu turnamen—ia sudah mengoleksi empat assist, menyamai catatan legenda Brasil, Pelé. Satu assist tambahan akan menahbiskan Messi sebagai penyaji gol terbanyak dalam sejarah La Albiceleste di Piala Dunia, melewati delapan assist milik Maradona. Dengan usia 38 tahun 231 hari pada hari pertandingan, Messi juga berpeluang menjadi pencetak gol tertua Argentina di babak gugur, menggeser rekor Martín Palermo.
Kane dan Bellingham Siap Mencuri Panggung
Di kubu lawan, Harry Kane datang dengan motivasi berlapis. Bomber Bayern Munich itu hanya membutuhkan satu gol untuk melampaui Wayne Rooney sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Timnas Inggris dengan 54 gol. Kane juga bisa menjadi pemain Inggris pertama yang mencetak gol di tiga perempat final Piala Dunia beruntun. Sementara itu, Jude Bellingham mengancam menjadi momok bagi pertahanan Argentina. Gelandang Real Madrid ini telah mencatatkan 92% akurasi operan di sepertiga akhir lapangan sepanjang turnamen dan menjadi pemain termuda yang mencetak gol di babak gugur sejak 1998. Satu gol lagi akan menjadikan Bellingham sebagai pemain Inggris pertama yang mencetak gol di empat laga beruntun di satu edisi Piala Dunia.
Duel Taktik di Lapangan
Pelatih Lionel Scaloni diperkirakan akan kembali mengandalkan formasi 4-3-3 fleksibel yang bertransformasi menjadi 3-5-2 saat menyerang. Fokus utama adalah bagaimana meredam overlap dan umpan silang Kyle Walker yang sudah menciptakan 12 peluang dari sayap kanan. Di sisi lain, Gareth Southgate diprediksi menurunkan Jude Bellingham sebagai gelandang serang di belakang Kane, memanfaatkan celah antara lini tengah dan pertahanan Argentina yang kerap kedodoran saat menghadapi transisi cepat. Inggris unggul dalam penguasaan bola rata-rata 60,3% di turnamen ini, sementara Argentina lebih klinis dengan konversi tembakan tepat sasaran mencapai 38%. Duel udara juga akan krusial: kedua tim memiliki tinggi rata-rata pemain yang mirip, namun Inggris lebih produktif lewat skema bola mati dengan tiga gol hasil sundulan.
Statistik lain yang menarik adalah agresivitas tekel. Argentina tercatat melakukan rata-rata 14,5 tekel per laga, lebih banyak dari Inggris yang hanya 11,2. Namun, Inggris lebih unggul dalam intersepsi dengan 8,7 per pertandingan. Kartu kuning patut diwaspadai; bek tengah Cristian Romero sudah mengantongi satu kartu kuning dan satu pelanggaran lagi bisa membuatnya absen di semifinal. Kondisi serupa dialami Declan Rice di kubu lawan. Pertarungan di lini tengah antara Enzo Fernández dan Rice akan menjadi kunci penguasaan ritme permainan.
Dengan seluruh catatan sejarah dan statistik yang bertumpuk, laga ini bukan hanya tentang lolos ke babak selanjutnya. Ini tentang warisan. Bagi Messi, ini kesempatan terakhir untuk semakin menjauh dari bayang-bayang Maradona dan menempatkan dirinya di puncak tunggal sejarah Piala Dunia. Bagi Kane dan Bellingham, ini adalah momen untuk membawa Inggris menuju generasi emas yang sesungguhnya. Stadion Lusail menanti siapa yang akan menuliskan babak baru dalam rivalitas abadi ini.
Comments (0)