Messi Cetak Dua Assist, Argentina Lolos ke Final Piala Dunia 2026

Buenos Aires bergemuruh. Stadion Monumental berubah menjadi lautan biru-putih ketika Argentina memastikan tiket ke partai puncak Piala Dunia 2026. Skor akhir 3-2 atas Inggris di semifinal, Kamis malam...

Messi Cetak Dua Assist, Argentina Lolos ke Final Piala Dunia 2026

Buenos Aires bergemuruh. Stadion Monumental berubah menjadi lautan biru-putih ketika Argentina memastikan tiket ke partai puncak Piala Dunia 2026. Skor akhir 3-2 atas Inggris di semifinal, Kamis malam waktu setempat, menjadi bukti bahwa Lionel Messi belum selesai menuliskan legenda di usia 38 tahun.

Pertandingan berjalan alot sejak peluit pertama dibunyikan. Menit ke-23, Inggris unggul lebih dulu lewat Harry Kane yang menyelesaikan umpan silang Phil Foden dengan tendangan first-time di kotak penalti. Babak pertama menjadi mimpi buruk bagi tuan rumah. Penguasaan bola Argentina hanya 47 persen, shots on target cuma 3 dari total 12 attempts. Formasi 4-3-3 racikan Scaloni tampak buntu menghadapi pressing tinggi lini tengah Inggris.

Peran Berubah, Messi Turun Jadi Konduktor

Menit ke-58 menjadi titik balik pertandingan. Scaloni melakukan perubahan taktik krusial — Messi ditarik lebih ke belakang, beroperasi sebagai playmaker murni di belakang striker Julián Álvarez. Keputusan ini mengubah total dinamika laga.

Assist pertama Messi tercipta menit ke-64. Umpan terobosan memotong garis pertahanan Inggris, diterima Álvarez yang menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Assist kedua hadir menit ke-81 — kali ini berupa umpan silang rendah ke kotak penalti, disambar Enzo Fernández untuk gol penentu kemenangan 3-2.

Statistik kunci sang kapten: 2 assist, 87 persen akurasi umpan, 4 key passes, dan 1 dribble sukses. Dua gol Argentina lainnya dicetak Álvarez menit ke-64 serta Fernández menit ke-81, sementara gol balasan Inggris dicetak Jude Bellingham menit ke-74 lewat sundulan dari situasi sepak pojok.

Babak Kedua yang Menentukan Nasib

Starting XI Scaloni di babak kedua sebenarnya tidak berubah, hanya ada penyesuaian posisi. Messi dimainkan sebagai false nine yang turun untuk membangun serangan dari lini kedua. Inggris mencoba merespons lewat Bellingham dan Foden, namun lini belakang Argentina yang dikomandoi Cristian Romero tampil disiplin.

Menit ke-88, kiper Emiliano Martínez melakukan penyelamatan gemilang dari tendangan bebas Declan Rice. Clean sheet gagal karena gol Bellingham, tapi Martínez memastikan gawang Argentina tidak bobol lagi di menit-menit krusial. Kartu kuning diberikan kepada Lisandro Martínez menit ke-90+2 akibat protes keras terhadap keputusan wasit.

VAR sempat menganulir gol Álvarez di menit ke-70 karena posisi offside tipis hasil tayangan ulang. Keputusan ini memancing emosi pemain Argentina, namun Scaloni berhasil menenangkan anak asuhnya dari pinggir lapangan dengan gestur tenang.

Analisis Taktik Scaloni yang Brilian

Formasi awal 4-3-3 bertransformasi menjadi 4-2-3-1 di babak kedua. Messi bukan lagi finisher, melainkan kreator murni. Pergeseran ini membuat Inggris kehilangan referensi marking. Bek Inggris harus memilih: menjaga Messi di lini tengah atau membiarkan Álvarez bebas di kotak penalti. Akhirnya mereka gagal di keduanya.

Dua assist Messi membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Visi permainan sang kapten tetap tajam, bahkan ketika tubuhnya tidak lagi secepat dekade sebelumnya. Dia memilih peran berbeda dan tetap menjadi pembeda.

Argentina akan menghadapi pemenang semifinal lainnya di partai puncak akhir pekan ini. Lawan belum ditentukan, namun satu hal sudah pasti — Messi akan kembali menjadi pusat perhatian. Hat-trick assist di turnamen ini sudah di tangan, clean sheet di laga final akan menjadi bonus manis.

Reaksi Ruang Ganti dan Pelatih

Messi tidak perlu mencetak gol untuk menjadi pembeda. Dia mengubah tempo permainan hanya dengan satu operan. Itu pernyataan Scaloni dalam konferensi pers pasca pertandingan, sambil mengakui bahwa perubahan formasi adalah respons langsung terhadap dominasi Inggris di babak pertama.

Sementara itu, kapten Inggris Kane mengakui kelemahan timnya. Kami kehilangan kontrol di lini tengah setelah mereka mengubah formasi. Messi terlalu cerdas untuk kami, katanya dengan nada承认 kekalahan.

Argentina melangkah ke final dengan modal dua kemenangan comeback di fase gugur. Mentalitas juara sudah teruji, dan rekor tak terkalahkan di kualifikasi masih terjaga. Piala Dunia 2026 edisi pertama dengan format 48 tim akan segera menemukan rajanya.

Bagi Messi, ini mungkin menjadi kesempatan terakhir mengangkat trofi tertinggi. Tapi jika melihat cara dia mengubah peran dari pencetak gol menjadi ahli assist, satu hal menjadi jelas — sang maestro masih punya banyak halaman kosong untuk diisi di buku sejarahnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User