Menteri Brexit Lord Frost Mundur dari Kabinet Boris Johnson
LONDON, Beritainti.com – Pemerintahan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kembali diterpa guncangan politik. Menteri Kabinet sekaligus negosiator utama k
LONDON, Beritainti.com – Pemerintahan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kembali diterpa guncangan politik. Menteri Kabinet sekaligus negosiator utama keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), Lord David Frost, dilaporkan mengundurkan diri dari jabatannya karena kekecewaan terhadap arah kebijakan pemerintah.
Kabar pengunduran diri tersebut pertama kali diungkap oleh surat kabar Mail on Sunday, Minggu (19/12/2021), yang mengutip sejumlah sumber di dalam pemerintahan Inggris. Menurut laporan itu, Frost sebenarnya telah menyerahkan surat pengunduran dirinya sejak sepekan sebelumnya, namun ia diyakinkan untuk tetap bertahan di kabinet hingga Januari 2022.
Frost bukanlah sosok sembarangan di pemerintahan Johnson. Ia memimpin tim negosiasi Inggris dalam menyusun kesepakatan keluar dari blok Uni Eropa, sebelum akhirnya diangkat menjadi menteri kabinet yang bertanggung jawab atas hubungan London–Brussels pasca-Brexit. Kepergiannya pun disebut-sebut sebagai kehilangan besar bagi lingkaran dalam Johnson.
Kronologi Mundurnya Lord Frost
Berdasarkan laporan Mail on Sunday dan sejumlah media Inggris, berikut urutan peristiwa yang mengiringi mundurnya sang menteri Brexit:
- September 2021 – Pemerintahan Boris Johnson mengumumkan kenaikan pajak penghasilan untuk membiayai layanan kesehatan dan sosial, kebijakan yang menuai kritik dari kalangan konservatif.
- Awal Desember 2021 – Johnson memberlakukan pembatasan 'Plan B' untuk meredam penyebaran Covid-19, meliputi kewajiban masker di ruang tertutup, paspor vaksin untuk klub malam dan acara besar, serta tes harian bagi kontak erat pasien.
- Pertengahan Desember 2021 – Sekitar 100 anggota parlemen Partai Konservatif menolak mendukung sistem paspor vaksin, dan 40 di antaranya secara terbuka memilih menentang kebijakan pemerintah.
- Sepekan sebelum kabar tersiar – Frost diam-diam menyerahkan surat pengunduran diri, namun dibujuk agar tetap menjabat hingga Januari.
- Minggu, 19 Desember 2021 – Mail on Sunday mempublikasikan kabar pengunduran diri Frost ke publik.
Tiga Kebijakan Pemicu Kekecewaan Frost
Menurut sumber pemerintah yang dikutip Mail on Sunday, pengunduran diri Frost dipicu oleh "kekecewaan" (disillusionment) yang terus menumpuk terhadap pemerintahan Johnson. Setidaknya ada tiga kebijakan utama yang membuat sang menteri kehilangan kepercayaan.
Pertama, pemberlakuan pembatasan 'Plan B' Covid-19, yang dinilai Frost sebagai pendekatan keliru dalam menangani pandemi. Kedua, kenaikan pajak penghasilan yang diumumkan pada September, yang dipandang bertentangan dengan prinsip ekonomi kaum konservatif. Ketiga, tingginya biaya rencana ambisius Johnson untuk menurunkan emisi karbon ke level nol bersih (net zero) pada 2050.
Pembatasan Plan B Paling Memicu Kontroversi
Dari ketiga persoalan tersebut, pembatasan 'Plan B' menjadi isu paling panas bagi Johnson. Paket kebijakan yang diperkenalkan awal Desember ini mencakup kewajiban mengenakan masker di tempat umum dalam ruangan, kewajiban menunjukkan bukti vaksinasi untuk memasuki klub malam dan acara berskala besar, serta tes harian bagi kontak erat orang yang terinfeksi Covid-19.
Kebijakan itu tidak hanya menuai penolakan publik, tetapi juga memicu pemberontakan di internal Partai Konservatif. Sebanyak 100 anggota parlemen dari partai Johnson sendiri menolak memberikan suara bagi sistem paspor vaksin, dengan 40 orang di antaranya benar-benar memilih menentang mandat pemerintah. Angka tersebut tercatat sebagai salah satu perlawanan internal terbesar yang pernah dihadapi Johnson selama menjabat perdana menteri.
Situasi kian pelik karena sejumlah laporan menyebut para menteri kini tengah menyusun rencana pembatasan yang lebih ketat. Johnson bahkan dilaporkan akan segera diminta memperluas 'Plan B' menjadi penguncian wilayah (lockdown) penuh demi menahan laju penularan yang meningkat di seluruh Inggris.
Pukulan Telak bagi Boris Johnson
Kepergian Frost menjadi pukulan telak bagi Johnson. Sebagai negosiator Brexit, Frost bukan sekadar menteri biasa — ia adalah simbol keberhasilan Johnson menuntaskan janji membawa Inggris keluar dari Uni Eropa. Mundurnya Frost dengan alasan kekecewaan terhadap kebijakan domestik menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap sang perdana menteri telah merambat hingga ke lingkaran terdekatnya.
Pengunduran diri ini juga menyisakan pertanyaan besar mengenai kelanjutan hubungan Inggris–Uni Eropa pasca-Brexit, yang selama ini berada di bawah kendali Frost. Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai siapa yang akan mengambil alih portofolio strategis tersebut, sementara tekanan politik terhadap Johnson terus meningkat dari berbagai arah, termasuk dari partainya sendiri.
Dengan mundurnya salah satu sekutu paling menonjol di kabinet, masa depan kepemimpinan Boris Johnson kini berada dalam sorotan tajam, baik dari publik Inggris maupun dari barisan Partai Konservatif yang mulai terbelah.
[SOCIAL_TWEET]: Menteri Brexit Lord Frost mundur dari kabinet Boris Johnson. Kekecewaan terhadap pembatasan Plan B, kenaikan pajak, dan biaya net zero jadi pemicu. #Brexit #BorisJohnson #Inggris [SOCIAL_TG]: 🔴 Menteri Brexit Lord Frost MUNDUR dari kabinet Boris Johnson! Pemicunya: kekecewaan terhadap pembatasan 'Plan B', kenaikan pajak, dan biaya rencana net zero 2050. Frost disebut sudah menyerahkan surat pengunduran diri sejak sepekan lalu, namun ditahan hingga Januari. 📰 Baca laporan lengkapnya di Beritainti.com Lord Frost — arsitek utama Brexit — mundur dari pemerintahan Boris Johnson karena kecewa dengan arah kebijakan pemerintah. Yang memicu: pembatasan Plan B, kenaikan pajak, dan biaya net zero 2050. Sementara itu, 100 anggota parlemen Konservatif juga memberontak soal paspor vaksin. 🧵
Comments (0)