Menteri Brexit David Frost Mundur, Kecam Langkah Covid yang 'Memaksa'
LONDON — Pemerintahan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kembali diguncang. David Frost, menteri yang selama ini menjadi arsitek utama negosiasi Brexit,
LONDON — Pemerintahan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kembali diguncang. David Frost, menteri yang selama ini menjadi arsitek utama negosiasi Brexit, resmi mengundurkan diri pada Sabtu (18/12) dengan meninggalkan pesan tajam: ia memperingatkan pemerintah agar tidak kembali menerapkan pembatasan Covid-19 yang bersifat "memaksa" terhadap rakyat Inggris.
Pengunduran diri Frost bukan sekadar perombakan kabinet biasa. Sosok yang dipercaya memimpin perundingan keluarnya Inggris dari Uni Eropa itu pergi tepat ketika Johnson menghadapi salah satu periode paling genting dalam kepemimpinannya — dihantam pemberontakan internal partai sekaligus skandal pesta Natal yang melanggar aturan kuncitara.
Kepergian yang Terpaksa Dipercepat
Kabar mundurnya Frost pertama kali diungkap oleh Mail on Sunday, yang menulis tentang tumbuhnya kekecewaan sang menteri terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah dalam beberapa bulan terakhir. Bocornya informasi itu justru mempercepat segalanya.
Dalam surat perpisahannya kepada Johnson, Frost mengungkapkan bahwa ia sebenarnya telah merencanakan mundur pada Januari mendatang demi memastikan transisi yang mulus. Namun, rencana itu buyar ketika bocor ke media. "Sungguh mengecewakan bahwa rencana ini telah menjadi konsumsi publik," tulis Frost, sebelum akhirnya memutuskan pergi lebih awal.
Peringatan Keras Soal Pembatasan Pandemi
Meski menegaskan bahwa "Brexit kini telah aman" dan dirinya serta Johnson "selalu berbagi pendekatan yang sama" terhadap isu tersebut, Frost tidak menyembunyikan frustrasinya. Ia secara terbuka mengkritik keputusan pemerintah yang kembali memberlakukan pembatasan terkait pandemi.
"Anda mengambil keputusan berani pada Juli, melawan penolakan yang besar, untuk membuka kembali negara ini. Sayangnya, itu terbukti tidak permanen, seperti yang saya harapkan — dan saya yakin Anda juga. Saya berharap kita bisa segera kembali ke jalur yang benar dan tidak tergoda oleh langkah-langkah memaksa seperti yang kita saksikan di tempat lain."
Pernyataan itu menjadi salah satu kritik paling menonjol dari dalam lingkaran pemerintah sendiri terhadap kebijakan pembatasan Covid-19, yang kembali diperketat menyusul penyebaran varian Omicron di Inggris.
Warisan Brexit dan Jawaban Johnson
Merespons pengunduran diri anak buahnya, Johnson menyampaikan terima kasih atas "kerja keras tanpa henti, keteguhan, dan visi" Frost selama perundingan yang alot dengan Uni Eropa. Sang perdana menteri menegaskan bahwa di bawah pengawasan Frost, Inggris berhasil menuntaskan keluarnya dari blok Eropa dan meneken kesepakatan dagang dengan Brussel — pencapaian yang menjadi tonggak sejarah politik modern negeri itu.
Krisis Berlapis Menerpa Downing Street
Kepergian Frost datang pada momen yang sangat tidak menguntungkan bagi Johnson. Awal pekan ini, hampir 100 anggota parlemen dari Partai Konservatif — partai Johnson sendiri — memberontak dengan memilih menentang rencana pemerintah soal pembatasan Covid-19 baru. Ini menjadi salah satu pembangkangan internal terbesar yang pernah dihadapi Johnson sejak menjabat.
Di saat yang sama, perdana menteri juga terus dihujani kritik menyusul terungkapnya sejumlah pertemuan dan acara Natal yang digelar pejabat pemerintah pada tahun lalu — acara-acara yang dilaporkan melanggar aturan kuncitara yang justru diberlakukan pemerintah sendiri kepada seluruh rakyat Inggris.
Dengan mundurnya salah satu sekutu paling tepercaya, tekanan terhadap Johnson kini semakin berlipat ganda. Pertanyaan besar pun menggantung di Westminster: mampukah sang perdana menteri bertahan di tengah badai yang datang dari segala arah?
[SOCIAL_TWEET]: Menteri Brexit David Frost mundur dari kabinet Boris Johnson, sambil memperingatkan agar Inggris tak tergoda "langkah memaksa" pembatasan Covid-19. Krisis Downing Street makin dalam. #DavidFrost #Brexit #BorisJohnson [SOCIAL_TG]: 🔴 Menteri Brexit David Frost mundur dari kabinet Inggris. Dalam suratnya, Frost mengecam kembalinya pembatasan Covid-19 dan memperingatkan agar Inggris tak tergoda "langkah memaksa". Johnson kini makin terjepit — dihantam pemberontakan 100 anggota parlemen Konservatif dan skandal pesta Natal. Selengkapnya di Beritainti.com
Comments (0)