Jakarta — Jampidsus Febrie Klarifikasi Isu Rumah Sentul dan Bisnis Cipete

Suasana Gedung Bundar Kejaksaan Agung di Jakarta terasa lebih tegang dari biasanya pada Jumat siang, 10 Juli 2026. Lampu kamera menyorot seorang pria berwa

Jakarta — Jampidsus Febrie Klarifikasi Isu Rumah Sentul dan Bisnis Cipete

Suasana Gedung Bundar Kejaksaan Agung di Jakarta terasa lebih tegang dari biasanya pada Jumat siang, 10 Juli 2026. Lampu kamera menyorot seorang pria berwajah datar yang duduk di depan puluhan mikrofon. Dialah Febrie Adriansyah, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), sosok yang selama dua pekan terakhir menjadi pusat perbincangan publik. Bukan karena kasus besar yang ditanganinya, melainkan karena isu yang menyerempet kehidupan pribadinya: rumah mewah di Sentul dan bisnis yang disebut-sebut beroperasi di Cipete, Jakarta Selatan.

Sejak isu itu mencuat di media sosial dan terus digoreng oleh sejumlah tokoh, Febrie memilih diam. Hari ini, ia mematahkan sunyi. Dengan kemeja putih dan peci hitam, ia masuk ke ruangan dengan langkah pasti, lalu duduk. Tidak ada gugup, tidak ada amarah yang meledak. Hanya ada satu misi: meluruskan yang dianggap bengkok.

Kronologi Tuduhan yang Mengguncang

Segalanya bermula dari unggahan anonim di sebuah kanal berbagi pesan. Disebutkan bahwa seorang jaksa tinggi memiliki properti senilai puluhan miliar rupiah di kawasan elit Sentul, Bogor, serta mengendalikan usaha restoran dan kafe di bilangan Cipete. Tak butuh waktu lama, nama Febrie Adriansyah langsung terseret. Apalagi setelah sejumlah akun media sosial menyandingkan potongan foto rumah megah dengan potret Febrie di berbagai acara.

Dalam hitungan jam, tanda pagar #RumahSentulSiJampidsus merangkak naik ke puncak tren. Publik terbelah: ada yang menyuarakan kecurigaan terhadap integritas penegak hukum, ada pula yang menuntut klarifikasi resmi agar tidak terjadi penghakiman sepihak.

Klarifikasi di Hadapan Publik

“Saya hadir di sini bukan karena takut. Saya hadir karena publik berhak tahu kebenaran,” ucap Febrie membuka keterangannya. Suaranya tenang, tetapi mengandung tekanan yang membuat seisi ruangan seketika hening.

Ia kemudian membeberkan sejumlah fakta. Terkait rumah di Sentul, Febrie menegaskan bahwa properti itu bukan miliknya. Rumah tersebut dimiliki oleh saudara iparnya yang telah dibeli sejak tahun 2018—jauh sebelum ia menjabat sebagai Jampidsus. Febrie mengakui pernah beberapa kali berkunjung ke sana dalam acara keluarga, tetapi tidak pernah tercatat sebagai pemilik dalam dokumen apa pun.

“Saya tidak punya rumah di Sentul. Silakan cek di BPN atau di mana pun. Nama saya tidak ada di sertifikat itu. Kalau saya beberapa kali di sana, itu karena itu rumah keluarga besar saya, bukan milik pribadi saya.”

Nada suaranya meninggi sedikit ketika menyebut kalimat terakhir, seolah menegaskan bahwa fitnah ini sudah melampaui batas kewajaran.

Bisnis di Cipete: Mitra, Bukan Pemilik

Isu kedua yang tak kalah panas adalah bisnis di Cipete. Sebuah restoran bernuansa industrial di Jalan Cipete Raya disebut-sebut berada di bawah kendali Febrie. Tuduhan itu semakin liar dengan klaim bahwa bisnis tersebut menjadi “kendaraan pencucian uang”.

Dengan nada datar, Febrie menjelaskan bahwa ia memang memiliki hubungan kekeluargaan dengan salah satu pemilik restoran tersebut—seorang keponakan yang telah merintis usaha sejak 2020. Namun, ia menolak tegas bahwa dirinya terlibat dalam pengelolaan atau kepemilikan saham. Ia mengaku hanya hadir saat peresmian sebagai tamu undangan, itupun sebelum dirinya menduduki jabatan Jampidsus.

“Saya mendukung penuh anak muda yang ingin berbisnis. Tapi dari situ lalu dibilang saya pemilik, saya dalang, itu sudah keterlaluan. Tidak ada sepeser pun uang saya di bisnis itu. Dan tidak pernah saya gunakan untuk keuntungan pribadi.”

Pernyataan ini sontak memicu pertanyaan lanjutan dari awak media. Namun, Febrie memilih untuk menutup sesi wawancara dengan sebuah pesan yang ditujukan kepada para pemburu sensasi.

Refleksi: Ketika Privasi Dijadikan Komoditas

Febrie mengakui bahwa serangan terhadap dirinya terasa begitu personal. “Ini bukan soal kasus korupsi besar. Ini soal bagaimana privasi saya dan keluarga saya diobok-obok untuk membunuh karakter,” katanya dengan rahang mengeras. Ia menyebut, sebagai pejabat penegak hukum, ia siap menghadapi serangan terkait pekerjaannya. Namun, ketika keluarga dan kerabat yang tidak terkait menjadi sasaran, ia merasa ada yang perlu diluruskan.

Sementara itu, sejumlah pengamat hukum menilai fenomena ini sebagai bagian dari risiko jabatan strategis di tengah iklim demokrasi digital yang seringkali mengabaikan asas praduga tak bersalah. Namun, tak sedikit pula yang mengapresiasi keterbukaan Febrie, meskipun klarifikasi itu sendiri muncul setelah tekanan publik begitu kuat.

Langkah Hukum dan Peringatan Tegas

Meski tidak menyebut nama, Febrie mengindikasikan bahwa pihaknya sedang mengumpulkan bukti terkait akun-akun yang pertama kali menyebarkan tuduhan tersebut. Ia ingin memastikan bahwa penegakan hukum tidak hanya berlaku bagi para pelaku kejahatan luar biasa, tetapi juga bagi mereka yang mencoba meruntuhkan lembaga penegak hukum melalui fitnah.

“Kami tidak akan tinggal diam. Kalau cukup bukti, kami akan proses. Ini bukan soal harga diri saya saja, ini soal kehormatan institusi.”

Di ujung konferensi pers, Febrie berjalan meninggalkan Gedung Bundar dengan langkah cepat. Beberapa kolega mencoba menyalami, namun ia hanya mengangguk singkat. Wajahnya masih menyisakan ketegangan, tapi juga menyiratkan kelegaan—akhirnya ia bisa menjelaskan apa yang selama ini menjadi beban.

Di luar, hujan rintik membasahi trotoar. Dan isu yang semula bergolak itu untuk sementara mereda, menunggu babak selanjutnya: apakah klarifikasi ini akan dipercaya, atau justru melahirkan gelombang skeptisisme baru?

FAQ: Tanya Jawab Seputar Isu Jampidsus Febrie Adriansyah

[SOCIAL_TWEET]: "Jampidsus Febrie Adriansyah akhirnya buka suara soal isu rumah di Sentul dan bisnis Cipete. Tegaskan properti itu milik ipar, bukan miliknya. Bagaimana klarifikasinya? #FebrieAdriansyah #RumahSentul #KejaksaanAgung"[SOCIAL_TG]: "Jampidsus Febrie Adriansyah klarifikasi: rumah di Sentul milik ipar, bisnis Cipete milik keponakan. 'Tidak ada sepeser pun uang saya di bisnis itu,' tegasnya. Ancaman hukum menanti penyebar fitnah."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User