Italia Kembali Terpuruk, Gagal ke Piala Dunia 2026 Usai Takluk di Penalti

Stadion Bilino Polje, Zenica, berubah menjadi kuburan mimpi bagi Gli Azzurri. Tim Nasional Italia untuk kedua kalinya secara beruntun harus menelan pil pahit gagal lolos ke putaran final Piala Dunia s...

Italia Kembali Terpuruk, Gagal ke Piala Dunia 2026 Usai Takluk di Penalti

Stadion Bilino Polje, Zenica, berubah menjadi kuburan mimpi bagi Gli Azzurri. Tim Nasional Italia untuk kedua kalinya secara beruntun harus menelan pil pahit gagal lolos ke putaran final Piala Dunia setelah takluk dari Bosnia-Herzegovina lewat drama adu penalti yang mencengangkan, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Skor akhir agregat 1-1 bertahan hingga 120 menit, memaksa laga final playoff ini ditentukan lewat duel tos-tosan, di mana Bosnia menang dengan skor 4-2.

Kekalahan ini menjadi catatan kelam bagi Italia yang sebelumnya juga absen di Piala Dunia 2022 di Qatar. Kini, mereka harus kembali menonton turnamen sepak bola paling akbar tersebut dari layar televisi.

Babak Pertama: Dominasi Tanpa Hasil

Pelatih Italia, Luciano Spalletti, menurunkan starting XI dengan formasi 3-4-2-1 yang mengandalkan Gianluca Scamacca sebagai ujung tombak, didukung oleh Nicolò Zaniolo dan Federico Chiesa di belakangnya. Italia langsung mengambil inisiatif serangan sejak menit pertama, mengurung pertahanan Bosnia yang bermain dengan blok rendah 5-3-2. Penguasaan bola mencapai 67 persen pada 15 menit awal, namun peluang emas pertama justru lahir dari kaki pemain Bosnia, Edin Džeko. Menerima umpan terobosan dari Miralem Pjanić, sundulan Džeko masih mampu ditepis oleh Gianluigi Donnarumma.

Italia terus menekan. Dua peluang Chiesa dari luar kotak penalti hanya membentur tiang gawang dan berbuah tendangan sudut. Statistik mencatat 9 tembakan Italia berbanding 2 milik Bosnia di babak pertama, namun skor kaca mata 0-0 tetap bertahan hingga turun minum.

Gol dan Ketegangan di Babak Kedua

Memasuki babak kedua, intensitas permainan meningkat. Bosch bermain lebih berani dan mulai keluar dari tekanan. Menit ke-58, sebuah kemelut di kotak penalti Italia berujung gol. Kesalahan antisipasi Alessandro Bastoni dimanfaatkan oleh Rade Krunić yang dengan tenang menceploskan bola ke gawang Donnarumma. Bilino Polje bergemuruh, Bosnia unggul 1-0.

Italia merespon dengan cepat. Spalletti memasukkan Moise Kean dan Lorenzo Pellegrini untuk menambah daya dobrak. Menit ke-73, umpan silang matang Giovanni Di Lorenzo disambut tandukan Scamacca yang menghujam deras ke sudut kiri gawang. Skor berubah 1-1, dan tensi pertandingan melonjak. Kedua tim saling jual beli serangan, namun tak ada gol tambahan tercipta meski Italia mencatatkan 4 shots on target di babak kedua, sementara Bosnia hanya satu namun cukup akurat. Laga pun berlanjut ke babak tambahan.

120 Menit Penuh Lelah dan Kartu Kuning

Perpanjangan waktu menyajikan permainan yang lebih terbuka. Kedua tim kelelahan namun terus mencoba mencetak gol kemenangan. Pelatih Bosnia, Sergej Jakirović, melakukan penyegaran di lini sayap, sementara Spalletti memainkan Destiny Udogie untuk menambah agresivitas. Namun, akurasi umpan menurun dan lebih banyak pelanggaran terjadi. Total tiga kartu kuning dikeluarkan wasit di sepanjang extra time, dua untuk pemain Italia dan satu untuk Bosnia. Beberapa kali VAR turun tangan memeriksa potensi handball di kotak penalti, namun tidak ada yang berujung tendangan 12 pas. Skor imbang 1-1 memaksa pertandingan ditentukan lewat adu penalti.

Adu Penalti: Donnarumma Tak Berdaya, Bosnia Ciptakan Sejarah

Drama adu penalti menjadi panggung bagi kiper Bosnia, Nikola Vasilj. Italia mendapat giliran menendang lebih dulu. Eksekutor pertama Jorginho yang biasanya dingin, kali ini tendangannya berhasil dimentahkan oleh Vasilj. Di sisi lain, Donnarumma gagal membaca arah bola eksekutor Bosnia yang menendang dengan tenang. Kegagalan Jorginho menjadi pukulan mental telak.

Setelah masing-masing tiga penendang, Bosnia unggul 3-2. Eksekutor keempat Italia, Moise Kean, yang seharusnya mengamankan harapan, justru melesatkan bola jauh di atas mistar. Kesalahan Kean menjadi penentu. Sementara itu, penendang keempat Bosnia, Amar Dedić, melepaskan sepakan keras yang tak mampu dijangkau Donnarumma. Skor 4-2 memastikan kemenangan dan tiket putaran final bagi Bosnia-Herzegovina. Para pemain Bosnia berlarian merayakan sejarah, sementara para pemain Italia tergeletak dan tertunduk lesu di lapangan.

Krisis Sepak Bola Italia yang Berkelanjutan

Ini adalah kali kedua berturut-turut Italia gagal melangkah ke final Piala Dunia, setelah sebelumnya absen di edisi 2022. Kegagalan di babak playoff kali ini memunculkan pertanyaan besar tentang kesehatan fundamental sepak bola Negeri Pizza. Statistik turnamen menunjukkan masalah kronis: meski mendominasi penguasaan bola (rata-rata 58% sepanjang kampanye), Italia hanya mencetak 12 gol dalam 8 laga playoff, ketajaman yang jauh dari standar tim elite Eropa. Efektivitas penyelesaian akhir menjadi sorotan utama.

Selain itu, kegagalan ini juga mencoreng reputasi Gianluigi Donnarumma yang kariernya diwarnai inkonsistensi. Di level klub bersama Paris Saint-Germain ia gemilang, namun statistik penyelamatan tendangan penalti bersama tim nasional hanya 18%, sebuah angka yang sangat rendah untuk penjaga gawang sekelasnya. Namun, kritik juga mengarah ke federasi yang dianggap gagal melakukan regenerasi secara menyeluruh dan berkelanjutan, masih bergantung pada pemain-pemain senior yang mulai menua.

Implikasi dan Masa Depan Gli Azzurri

Dengan kegagalan ini, suara-suara agar Spalletti mundur semakin kencang, meski kontraknya baru berjalan dua tahun. Publik Italia menuntut evaluasi total. Di sisi lain, Bosnia menciptakan kisah gemilang. Negara dengan populasi sekitar 3 juta jiwa ini berhasil mematahkan dominasi raksasa Eropa sekaligus mengamankan tiket putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah sebagai negara merdeka. Dari sisi penguasaan bola, Bosnia hanya memiliki 41% sepanjang laga, namun efektivitas dan ketangguhan mental mereka patut diacungi jempol.

Sementara Stadion Bilino Polje berpesta hingga subuh, para pemain Italia harus menjalani perjalanan pulang yang panjang dan sunyi. Piala Dunia sekali lagi menjadi kemewahan yang tak bisa mereka sentuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User