Isyarat Claudio Tapia Sebelum Argentina Taklukkan Spanyol di Final 2026
Argentina 3–2 Spanyol (setelah perpanjangan waktu) — Di tengah gemuruh 82.000 pasang mata di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu dini hari WIB (20/7/2026), kamera menyorot Ketua AFA Claudio Tapia ...
Argentina 3–2 Spanyol (setelah perpanjangan waktu) — Di tengah gemuruh 82.000 pasang mata di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu dini hari WIB (20/7/2026), kamera menyorot Ketua AFA Claudio Tapia yang memberikan isyarat tenang dengan kedua telapak tangan terbuka ke arah timnya. Beberapa detik kemudian, Lionel Messi menaklukkan Unai Simón lewat penalti Panenka pada menit ke-117. Isyarat Tapia seakan menjadi penutup dari perjalanan epik La Albiceleste meraih trofi Piala Dunia keempat sekaligus yang kedua secara beruntun.
Isyarat di Tengah Tekanan
Tribune VIP dipenuhi ketegangan saat skor 2–2 bertahan hingga injury time babak kedua. Tapia, yang sepanjang turnamen duduk bersama delegasi FIFA, berdiri dan memberikan isyarat — bukan untuk pemain, melainkan kepada staf pelatih. Menurut saksi, gestur itu seperti kode untuk tetap bermain sabar. “Dia selalu percaya pada rencana Lionel Scaloni,” ujar seorang ofisial AFA. Gestur itu pun viral dalam hitungan menit, memantik diskusi soal peran figur federasi di momen-momen krusial.
Posisinya di kursi kepemimpinan AFA kerap menuai polemik, tapi kali ini ia menjadi bagian dari seremonial kemenangan Argentina yang tertunda setelah drama 120 menit. Barangkali ini jawaban bahwa sepak bola modern tak hanya soal taktik, tetapi juga presisi psikologis dari pinggir lapangan hingga ke ruang konferensi federasi.
Babak Pertama: Dua Gaya, Dua Gol
Spanyol memulai dengan 4-3-3 klasik khas Luis de la Fuente. Penguasaan bola langsung menyentuh 67 persen pada 15 menit awal, didominasi duet Pedri dan Gavi di lini tengah. Argentina tak gentar; mereka merapatkan blok tengah ala 4-4-2 dan menyerang balik cepat lewat Álvarez dan Messi. Menit ke-22, justru Argentina memimpin: umpan satu-dua Messi–Álvarez diakhiri sontekan kaki kiri Álvarez dari tepi kotak penalti. Skor 1–0, shots on target pertama Argentina kini berbuah gol.
Spanyol merespons. Menit ke-34, umpan silang Alex Baena menemui Álvaro Morata yang berada di antara dua bek. Morata menyundul keras, Emiliano Martínez menepis, namun bola muntah disambar Joselu menjadi gol. 1–1. Statistik tembakan pada babak pertama: Argentina 3 (2 on target), Spanyol 8 (4). Penguasaan bola: Spanyol 63%–37%.
Babak Kedua dan Adu Mental di Perpanjangan Waktu
Setelah turun minum, Scaloni melakukan perubahan krusial: memasukkan Nico Paz menggantikan Mac Allister. Argentina mengubah formasi ke 4-2-3-1. Hasilnya instan — menit ke-58, umpan terobosan Enzo Fernández disambut Messi yang menusuk dari sayap kanan, sepakan melengkungnya menjebol gawang. 2–1 untuk Argentina. Seluruh bangku cadangan, termasuk Tapia yang baru terlihat tenang, melompat serempak.
Tetapi Spanyol belum menyerah. Menit ke-81, tendangan bebas Mikel Merino dari jarak 25 meter meluncur ke pojok atas gawang tanpa bisa dijangkau Dibu Martínez. Skor imbang 2–2. Statistik menunjukkan Argentina hanya mencatatkan 34 persen penguasaan bola dan lima tembakan tepat sasaran berbanding 11 milik Spanyol hingga menit 90. Namun efisiensi tetap menjadi senjata utama skuat Tango.
Perpanjangan waktu menjadi panggung Messi. Menit ke-112, insiden VAR: handball Aymeric Laporte di dalam kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih setelah peninjauan monitor. Messi mengeksekusi dengan dingin — tendangan ala Panenka — yang mengoyak mental La Roja. Skor akhir 3–2 bertahan. Itu adalah gol ke-8 Messi sepanjang turnamen, sekaligus mengukuhkannya sebagai pencetak gol terbanyak di dua edisi akhir Piala Dunia.
Bukan Sekadar Sepak Bola
Kemenangan ini menegaskan dominasi Argentina di panggung global setelah meraih Copa América 2024 dan kini back-to-back Piala Dunia. Dari sudut statistik, sepanjang 2026 Argentina memenangi tujuh dari delapan laga, mencetak 19 gol, dan hanya kebobolan 5. Clean sheet hanya dua kali, tetapi mental baja saat tertinggal atau dikejar menjadi ciri khas era Scaloni.
Sementara itu, Claudio Tapia mengangkat trofi dari podium VIP bersama presiden FIFA Gianni Infantino — momen yang mungkin akan jadi cuplikan abadi. Isyaratnya di menit-menit krusial tak hanya lega, melainkan juga potret bahwa sepak bola tak lagi hanya dimenangkan di atas rumput, melainkan juga oleh ketenangan mereka yang berada di belakang layar.
Comments (0)