Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Kalahkan Argentina di Final
East Rutherford, New Jersey – Tim nasional Spanyol akhirnya menuntaskan dahaga 16 tahun tanpa trofi Piala Dunia. Pada laga puncak yang berlangsung di MetLife Stadium, Senin (20/7/2026) dini hari WIB...
East Rutherford, New Jersey – Tim nasional Spanyol akhirnya menuntaskan dahaga 16 tahun tanpa trofi Piala Dunia. Pada laga puncak yang berlangsung di MetLife Stadium, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, La Roja mengandaskan perlawanan Argentina dengan skor tipis 2-1. Ferran Torres menjadi tokoh sentral kemenangan bersejarah ini berkat gol penentunya di menit ke-78, sekaligus memastikan malam itu menjadi milik Spanyol.
Babak Pertama: Taktik Canggih dan Kebuntuan
Sejak wasit meniup peluit tanda dimulainya pertandingan, tensi tinggi langsung terasa. Argentina yang mengandalkan formasi 4-3-3 dengan Lionel Messi sebagai poros serangan mencoba menggebrak lewat serangan balik cepat. Namun, lini belakang Spanyol yang dikawal Aymeric Laporte dan Pau Torres tampil solid, memaksa Messi kerap melebar. Di sisi lain, penguasaan bola khas Spanyol dengan gaya tiki-taka langsung diterapkan. Gelandang muda Pedri dan Gavi bekerja keras mengalirkan bola ke lini depan yang diisi Nico Williams dan Ferran Torres. Meski mencatatkan 63% penguasaan bola di 45 menit pertama, Spanyol kesulitan menembus rapatnya pertahanan Argentina yang dikomandoi Cristian Romero. Statistik menunjukkan La Roja hanya melepaskan dua tembakan tepat sasaran dari total delapan percobaan, sementara Argentina hanya mencatatkan satu shots on target lewat tendangan bebas Messi yang membentur tiang. Skor kacamata menutup babak pertama.
Gol Dramatis yang Mengubah Segalanya
Memasuki babak kedua, Argentina mengejutkan publik tepat pada menit ke-52. Sebuah kerja sama satu-dua antara Messi dan Julian Alvarez diakhiri dengan tembakan mendatar Alvarez yang tak bisa dijangkau kiper Unai Simon. Gol ini sempat dirayakan liar oleh para pendukung Argentina yang datang dari berbagai penjuru. Namun, Spanyol tidak kehilangan arah. Pelatih Luis de la Fuente memasukkan Dani Olmo untuk menambah kreativitas, dan hasilnya terlihat pada menit ke-67. Sebuah umpan tarik dari Olmo berhasil diselesaikan oleh Pedri dengan tendangan first-time yang meluncur deras ke sudut gawang Emiliano Martinez. Kedudukan imbang 1-1 membuat tempo permainan kian memanas.
Momen puncak terjadi pada menit ke-78. Berawal dari intersep brilian Rodri di lini tengah, bola dengan cepat dialirkan kepada Olmo. Dengan visi luar biasa, Olmo melepaskan umpan terobosan ke ruang kosong yang diisi Ferran Torres. Dengan satu sentuhan, Torres sukses mengecoh Martinez dan mencungkil bola ke gawang yang sudah telantar. Proses gol ini sempat melalui pengecekan VAR atas dugaan offside, namun akhirnya disahkan. MetLife Stadium bergemuruh. Torres pun berlari ke sudut lapangan dan merayakan dengan sujud syukur sebelum dikerubuti rekan-rekannya.
Statistik Kunci: Dominasi Spanyol yang Berbuah Manis
Berdasarkan data pertandingan, Spanyol benar-benar mengontrol jalannya laga. Penguasaan bola: Spanyol 58% - 42% Argentina. Total tembakan: Spanyol 19 (8 tepat sasaran) vs Argentina 9 (3 tepat sasaran). Umpan sukses: Spanyol 587 dari 641 operan (92%), sedangkan Argentina hanya 382 dari 449 (85%). Sepak pojok: Spanyol 9 - Argentina 2. Pelanggaran: Spanyol 14 (2 kartu kuning untuk Gavi dan Laporte) - Argentina 17 (3 kartu kuning untuk Romero, Enzo Fernandez, dan Alexis Mac Allister). Statistik ini menegaskan bahwa meski sempat tertinggal, pendekatan sabar dan penguasaan bola Spanyol akhirnya membuahkan hasil manis. Unai Simon yang sempat kebobolan mencatatkan tiga penyelamatan krusial, termasuk menepis sundulan Nicolas Otamendi pada menit-menit akhir.
Ferran Torres: Pahlawan La Roja di Malam Bersejarah
Meskipun tidak selalu menjadi pilihan utama di sepanjang turnamen, Ferran Torres membayar kepercayaan pelatih dengan gol paling penting dalam kariernya. Pemain Barcelona berusia 26 tahun ini tampil dengan determinasi tinggi, mencatatkan 4 tembakan, 3 dribel sukses, dan 2 umpan kunci sepanjang 90 menit. Gol ketiganya di Piala Dunia 2026 ini memastikan tempatnya dalam buku sejarah sepak bola Spanyol. “Saya tidak bisa berkata-kata. Saya hanya mengikuti insting untuk terus bergerak, dan umpan dari Dani sangat sempurna,” ujar Torres dengan mata berkaca-kaca setelah pertandingan.
Kutipan Pelatih: Kebanggaan Luis de la Fuente
“Ini bukan sekadar kemenangan, ini adalah penegasan identitas sepak bola Spanyol. Kami datang ke turnamen ini dengan filosofi yang jelas, dan para pemain menjalankannya dengan keberanian. Argentina tim yang luar biasa, tapi malam ini para pemain saya layak menjadi juara,” ujar Luis de la Fuente dalam konferensi pers usai laga.
Sementara itu, pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui keunggulan Spanyol. “Kami mencoba yang terbaik, tapi Spanyol terlalu kuat dalam penguasaan bola. Saya bangga dengan perjuangan anak-anak,” katanya singkat.
Perjalanan Menuju Takhta Dunia
Langkah Spanyol menuju final memang tidak mudah. Pada fase grup, mereka lolos sebagai juara grup setelah mengalahkan Serbia dan Kamerun serta bermain imbang dengan Korea Selatan. Di babak 16 besar, Spanyol menyingkirkan Uruguay dengan skor 3-1. Perempat final menghadirkan duel sengit kontra Jerman yang harus dituntaskan lewat adu penalti setelah bermain 1-1 hingga perpanjangan waktu. Semifinal, mereka menundukkan Brasil 2-0 melalui gol-gol cantik dari Nico Williams dan Alvaro Morata. Kini, di partai puncak, mereka mengalahkan juara bertahan Argentina untuk merebut gelar kedua dalam sejarah sepak bola Spanyol.
Dengan kemenangan ini, Spanyol mengukuhkan diri sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola global modern. Trofi Piala Dunia 2026 pun berpindah tangan dari Argentina ke Spanyol, dan East Rutherford menjadi saksi naiknya generasi emas baru La Roja di bawah asuhan Luis de la Fuente.
Comments (0)