Israel Tuduh Turki Buntut Serangan ke Pangkalan Udara Suriah

TEL AVIV — Israel pada Selasa (waktu setempat) secara terbuka menuduh Turki sebagai ancaman regional setelah negara tersebut mempersiapkan pengiriman pasuk

Israel Tuduh Turki Buntut Serangan ke Pangkalan Udara Suriah

TEL AVIV — Israel pada Selasa (waktu setempat) secara terbuka menuduh Turki sebagai ancaman regional setelah negara tersebut mempersiapkan pengiriman pasukan ke sebuah pangkalan udara di Suriah. Tuduhan itu disampaikan pasca serangan udara yang menghantam instalasi militer tersebut, sebuah aksi yang mendapat kecaman keras dari Amerika Serikat (AS) dan menandai defiansi yang luar biasa dari sekutu historis Washington di Timur Tengah.

Serangan terhadap pangkalan di Suriah tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik AS untuk membangun hubungan dengan pemerintahan baru Suriah yang dipimpin oleh tokoh mantan jihadis. Tokoh tersebut, yang kini memegang kendali pasca jatuhnya rezim Bashar al-Assad, diketahui memiliki aliansi yang semakin erat dengan Ankara. Dari sudut pandang Israel, kehadiran militer Turki di pangkalan strategis Suriah dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan perbatasannya, terutama mengingat retorika anti-Israel yang pernah digaungkan oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan ideologi jihadis di wilayah tersebut.

Dalam pernyataannya, Israel tidak menyebut secara rinci jumlah korban atau kerusakan material akibat serangan tersebut. Namun, langkah Tel Aviv dalam menyalahkan Turki menunjukkan pergeseran narasi konflik yang semula berfokus pada perlawanan terhadap Iran dan sekutunya, kini mulai memasukkan Ankara sebagai aktor sentral yang harus diwaspadai. “Ini adalah sinyal bahwa Israel tidak lagi melihat Turki sekadar sebagai rival diplomatik, melainkan sebagai potensi target militer jika kepentingannya di Suriah terganggu,” ujar seorang analis keamanan internasional yang mengamati dinamika konflik Suriah.

Kecaman AS terhadap serangan Israel menciptakan celah yang jarang terlihat dalam hubungan bilateral kedua negara. Washington, yang secara konsisten telah menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi Israel, kali ini justru menyalahkan sekutunya sendiri. Sumber dari lingkaran pemerintahan AS menyebut bahwa serangan tersebut berpotensi mengganggu transisi politik di Damaskus dan merusak upaya membujuk komunitas internasional untuk menerima pemerintahan baru Suriah. “Langkah Israel ini bisa diartikan sebagai tamparan bagi diplomasi AS yang sedang berusaha menstabilkan Suriah pasca-Assad,” tambah analis tersebut.

Dinamika Baru di Suriah Pasca-Assad

Jatuhnya rezim Assad pada akhir 2024 membuka babak baru dalam perang saudara Suriah yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Pemerintahan transisi yang kini berkuasa, meski dipimpin oleh tokoh yang pernah tergabung dalam kelompok jihadis, telah berupaya menunjukkan wajah yang lebih moderat kepada dunia internasional. AS dan sejumlah negara Barat secara hati-hati membuka saluran komunikasi, berharap stabilitas dapat tercipta di tengah kehancuran ekonomi dan infrastruktur Suriah.

Namun, keberpihakan pemerintahan baru Suriah kepada Turki membuat Israel waspada. Ankara telah lama mendukung kelompok-kelompok oposisi Suriah dan kini tampak memperluas pengaruhnya dengan rencana penempatan pasukan di pangkalan-pangkalan strategis. Bagi Israel, ekspansi pengaruh Turki di selatan wilayah tersebut—yang berbatasan langsung dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel—merupakan garis merah yang tidak bisa ditoleransi. Tel Aviv khawatir bahwa pangkalan tersebut bisa digunakan untuk menyalurkan senjata kepada kelompok-kelompok militan yang beroperasi di dekat perbatasannya.

Kontradiksi dalam Kebijakan AS

Posisi Washington dalam konflik ini tampak penuh kontradiksi. Di satu sisi, AS ingin mempertahankan Israel sebagai sekutu utama di Timur Tengah yang bertugas mengontrol pengaruh Iran. Di sisi lain, Washington juga berupaya merangkul pemerintahan baru Suriah untuk mencegah kekacauan lebih lanjut dan meminimalisir ruang gerak kelompok-kelompok teroris. Ketika Israel memilih untuk menyerang pangkalan yang diduga akan ditempati pasukan Turki, langkah tersebut secara tidak langsung merusak strategi AS dalam membentuk tatanan baru di Suriah.

Aktor Posisi terhadap Serangan Kepentingan Utama di Suriah
Israel Mendukung serangan; menyalahkan Turki Mencegah kehadiran militer musuh di perbatasan utara
Amerika Serikat Mengutuk serangan dan menyalahkan Israel Stabilisasi pemerintahan baru; mengurangi pengaruh Iran
Turki Belum merespons secara terbuka Memperluas zona pengaruh dan mengamankan perbatasan selatan
Suriah (Pemerintahan Baru) Mengecam pelanggaran kedaulatan Mendapatkan legitimasi internasional dan bantuan rekonstruksi

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa setiap aktor membawa agenda yang saling bertabrakan. Israel mengutamakan keamanan perbatasan dengan pendekatan militer yang preemptif, sementara AS berusaha menyeimbangkan dukungan kepada Israel dengan kebutuhan akan stabilitas regional. Turki, sebagai anggota NATO, berada dalam posisi unik di mana hubungannya dengan Barat tetap terjalin namun ambisinya di Suriah seringkali berbenturan dengan kepentingan Israel.

Serangan terbaru ini juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana Israel bersedia mengabaikan tekanan Washington demi mempertahankan doktrin keamanannya sendiri. Dalam beberapa dekade terakhir, jarang sekali Israel menunjukkan defiansi terbuka terhadap AS dalam skala yang signifikan. Namun, dengan semakin kompleksnya peta politik Suriah dan munculnya pemerintahan yang berafiliasi dengan Turki, Tel Aviv tampak semakin tidak sabar terhadap pendekatan diplomatik yang dianggap lamban oleh Washington.

Kondisi ini memperburuk ketegangan segitiga antara Tel Aviv, Ankara, dan Washington. Turki sendiri, di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, telah beberapa kali mengkritik Israel terkait konflik Gaza dan hubungan bilateral kedua negara memang tengah mengalami titik nadir. Penambahan friksi di Suriah bisa memicu eskalasi yang lebih luas, terutama jika pasukan Turki benar-benar dikerahkan ke pangkalan yang menjadi target Israel dan mengakibatkan korban jiwa di pihak Ankara.

Ke depan, komunitas internasional akan mengamati apakah AS mampu menekan Israel untuk menahan diri dari serangan-serangan mendatang, atau apakah Tel Aviv akan terus mengambil jalur unilateral dalam menentukan ancaman di Suriah. Sementara itu, pemerintahan baru di Damaskus berada dalam posisi yang sangat rapuh; setiap serangan ke wilayahnya berisiko melemahkan legitimasi mereka di

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User