Inggris Melaju ke Semifinal, Argentina Menanti dengan Sejarah Kelam
Skor akhir 2-1 atas Norwegia sudah cukup untuk mengantarkan Inggris ke semifinal Piala Dunia 2026. Namun laga di akhir pekan itu jauh dari kata mulus. The Three Lions harus berdarah-darah sebelum akhi...
Skor akhir 2-1 atas Norwegia sudah cukup untuk mengantarkan Inggris ke semifinal Piala Dunia 2026. Namun laga di akhir pekan itu jauh dari kata mulus. The Three Lions harus berdarah-darah sebelum akhirnya memastikan tempat di empat besar, dan kini mereka tahu persis siapa lawan berikutnya: Argentina—nama yang selalu membawa kenangan pahit, kontroversi, dan drama yang tak pernah padam.
Menit ke-14, gelombang serangan Inggris akhirnya berbuah. Berawal dari umpan silang terukur yang dilepaskan dari sisi kiri, bola meluncur deras ke dalam kotak penalti. Penyerang utama mereka, yang mencatatkan 32 gol musim ini di level klub, menyambar bola dengan sundulan keras yang menggetarkan mistar gawang sebelum bersarang di jala. Gol cepat ini sontak membakar semangat ribuan pendukung yang memadati tribun. Namun keunggulan itu tidak bertahan lama. Hanya berselang 11 menit, Norwegia membalas melalui serangan balik kilat. Sebuah skema tiga operan merobek lini tengah Inggris yang terlalu naik, dan penyelesaian dingin ke tiang jauh membuat kiper tak berkutik. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum, memaksa Gareth Southgate—atau siapa pun penerusnya di kursi pelatih—memutar otak di ruang ganti.
Perjuangan di Babak Kedua dan Statistik Kunci
Masuk ke paruh kedua, tensi pertandingan meningkat tajam. Inggris yang mengandalkan formasi 4-3-3 cair terus menekan dengan penguasaan bola mencapai 62 persen. Namun, rapatnya blok pertahanan rendah Norwegia membuat shots on target mereka hanya bertambah tiga kali hingga menit ke-75. Transisi dari bertahan ke menyerang menjadi masalah yang mencolok; dua gelandang bertahan terlalu lambat memutus serangan lawan, memaksa bek tengah beberapa kali melakukan intersepsi krusial. Di menit ke-78, momen penentu tiba. Sebuah tusukan dari bek kanan yang naik membantu serangan menghasilkan kemelut di depan gawang. Bola liar jatuh di kaki gelandang serang yang baru masuk sebagai pemain pengganti, dan dengan satu sentuhan ia menceploskan si kulit bundar melewati kerumunan pemain. Gol tersebut sempat dicek oleh VAR karena dugaan offside, namun tayangan ulang menunjukkan posisi si pencetak gol masih onside tipis. Gol dinyatakan sah, dan Inggris bertahan dengan gigih di 12 menit tambahan waktu untuk mengamankan tiket semifinal.
Dari sisi statistik, pertandingan ini menegaskan karakter Inggris yang pragmatis. Mereka mencatatkan 14 total tembakan dengan 6 on target, berbanding 8 tembakan dan 3 on target milik Norwegia. Jumlah pelanggaran yang hampir setara—masing-masing 12 dan 11—mencerminkan kerasnya duel di lini tengah. Satu hal yang patut dicatat: Inggris lagi-lagi kebobolan dari skema serangan balik, sebuah kelemahan struktural yang bisa dieksploitasi oleh lawan yang lebih tajam di fase berikutnya. Clean sheet kembali gagal diamankan, dan ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi lini belakang yang akan berhadapan dengan salah satu tim paling mematikan di dunia.
Bayang-Bayang Adu Penalti dan Luka Lama
Jika ada satu kutukan yang seolah abadi dalam sepak bola Inggris, itulah drama adu penalti. Dari tangan Stuart Pearce di 1990, cambukan Batistuta yang ironisnya bersinggungan dengan Argentina, hingga kegagalan di final EURO 2020, setiap langkah jauh di turnamen besar selalu diselimuti ketakutan akan 12 pas. Kemenangan atas Norwegia memang diraih dalam 90 menit, tetapi perjalanan belum selesai. Argentina, calon lawan di semifinal, bukan hanya tim dengan sejarah dua Piala Dunia, tetapi juga aktor utama dalam salah satu trauma terbesar Inggris: eliminasi lewat adu penalti di babak 16 besar Prancis 1998. Saat itu, David Beckham menerima kartu merah kontroversial, dan malam berakhir dengan Sol Campbell yang melihat golnya dianulir serta penalti Paul Ince dan David Batty yang gagal. Kenangan kelam itu masih terngiang kuat meski hampir tiga dekade berlalu.
Menariknya, Argentina sendiri bukan lagi tim yang seratus persen bergantung pada satu megabintang. Di Piala Dunia 2026, regenerasi mereka berjalan mulus. Meski kehilangan Lionel Messi yang pensiun dari panggung internasional, skuad Albiceleste kini diperkuat winger eksplosif berusia 23 tahun yang musim lalu membukukan 19 assist di liga top Eropa, serta seorang gelandang bertahan dengan rasio tekel sukses 4,1 per pertandingan. Di bawah asuhan pelatih yang meneruskan cetak biru Lionel Scaloni, mereka tetap memainkan sepak bola berbasis penguasaan bola vertikal yang menekan lewat overload di sisi lebar. Inggris tidak bisa lagi hanya bertahan dan berharap keberuntungan.
Argentina: Ujian Sejati di Empat Besar
Menatap laga semifinal, risiko adu penalti kembali menghantui. Inggris sebenarnya memiliki rekor tendangan penalti yang membaik di dua turnamen besar terakhir, termasuk kemenangan di perempat final Piala Dunia 2022 dan adu tos-tosan di Nations League. Namun, sejarah tidak pernah benar-benar lenyap. Argentina, dengan tradisi mental baja di momen-momen krusial, tetap difavoritkan dalam situasi tos-tosan. Starting XI kedua tim diprediksi akan kembali menampilkan susunan terbaik; Inggris kemungkinan besar tetap dengan trio gelandang dinamis yang digdaya dalam pressing, sementara Argentina akan mengandalkan seorang penyerang tengah yang musim ini sudah mengoleksi hat-trick di fase grup melawan salah satu unggulan Asia.
Faktor VAR juga dipastikan menjadi sorotan. Laga melawan Norwegia memperlihatkan bagaimana teknologi bisa menjadi pedang bermata dua. Gol kemenangan Inggris yang nyaris dianulir, ditambah sejumlah insiden tarik-menarik di kotak penalti yang tak digubris wasit, memunculkan pertanyaan tentang konsistensi keputusan. Jika semifinal berlangsung ketat, satu momen kontroversial bisa mengubah segalanya. Inggris harus lebih disiplin; kartu kuning yang diterima gelandang bertahan mereka di menit ke-65 adalah akumulasi kedua, dan satu langkah ceroboh lagi bisa berujung skorsing di partai puncak.
Akankah Inggris memutus kutukan abadi dan membalas sakit hati 1998? Atau Argentina kembali menjadi batu sandungan yang mengingatkan bahwa drama dan sepak bola adalah dua sisi koin yang tak terpisahkan? Satu hal yang pasti: 90 menit—atau bahkan lebih—di semifinal nanti akan menyajikan segala bumbu yang membuat Piala Dunia selalu dikenang. Dari gemerlap serangan, ketegangan menit akhir, hingga kemungkinan adu penalti yang menguji detak jantung, Inggris dan Argentina siap menulis babak baru rivalitas klasik mereka.
Baca juga:
Comments (0)