Hulk Hogan Wafat di Usia 71: Sang Legenda WWE Tutup Usia

Dunia hiburan olahraga kehilangan salah satu ikon terbesarnya. Hulk Hogan, sosok yang melambungkan popularitas gulat profesional ke panggung global, mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis pagi (24/...

Hulk Hogan Wafat di Usia 71: Sang Legenda WWE Tutup Usia

Dunia hiburan olahraga kehilangan salah satu ikon terbesarnya. Hulk Hogan, sosok yang melambungkan popularitas gulat profesional ke panggung global, mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis pagi (24/7) di usia 71 tahun. Sang megabintang meninggal dengan tenang di kediamannya di Clearwater, Florida, akibat komplikasi kesehatan yang telah lama dihadapinya, meninggalkan duka mendalam bagi jutaan penggemar di seluruh penjuru dunia.

Kepergian Hogan bukan sekadar kehilangan seorang pegulat; ia adalah fenomena budaya yang wajahnya terpampang di kotak makan siang, kartun, dan layar lebar. 12 kali ia menjejak puncak sebagai juara dunia, angka yang menempatkannya dalam jajaran elite sepanjang masa, namun warisannya jauh melampaui deretan sabuk emas yang pernah dilingkarkan di pinggangnya.

Profil Sang Ikon

Terlahir dengan nama Terry Gene Bollea pada 11 Agustus 1953 di Augusta, Georgia, Hogan muda tak langsung menemukan panggilannya. Ia sempat bermain bass di band rock dan mencoba peruntungan di bisbol sebelum akhirnya menjejakkan kaki di ring gulat. Debut profesionalnya terjadi pada 1977, namun transformasi menjadi Hulk Hogan baru benar-benar melejit setelah ia bergabung dengan World Wrestling Federation (WWF, kini WWE) di awal dekade 1980-an.

Dengan tinggi 201 sentimeter dan berat puncak 137 kilogram, postur raksasanya dipadu kumis ikonis, bandana, dan kostum kuning-merah menciptakan citra pahlawan super yang hidup. Hulkamania, istilah yang ia ciptakan untuk menggambarkan demam penggemarnya, menyapu Amerika Serikat dan kemudian dunia, menjadikan gulat dari tontonan lokal menjadi hiburan arus utama.

Karier yang Mengubah Wajah Gulat Profesional

Momen paling menentukan dalam karier Hogan terjadi pada WrestleMania III di Pontiac Silverdome, 1987. Di hadapan lebih dari 93.000 pasang mata—rekor penonton dalam ruangan kala itu—ia membanting Andre the Giant, raksasa seberat 236 kilogram, dalam adegan yang selamanya terpatri dalam sejarah gulat. Teknik bodyslam yang tampak mustahil itu bukan hanya mengamankan kemenangan; ia menobatkan Hogan sebagai ikon lintas generasi.

Selama hampir empat dekade, Hogan menjadi lokomotif box office. Ia adalah bintang utama dalam delapan edisi pertama WrestleMania, membukukan kemenangan melawan Randy Savage, Ultimate Warrior, dan Sgt. Slaughter. Penguasaan mikrofonnya sama legendarisnya dengan kekuatan di ring: promonya yang meledak-ledak, janji untuk "berlatih, berdoa, dan memakan vitamin," menjadi mantra jutaan anak-anak yang memujanya.

Namun, karier Hogan tak hanya dihiasi sorotan heroik. Pada 1996, ia menggebrak dunia dengan menjadi villain saat membentuk New World Order (nWo) bersama Kevin Nash dan Scott Hall di World Championship Wrestling (WCW). "Hollywood" Hulk Hogan, dengan kostum hitam-putih dan sikap arogan, menciptakan gelombang kontroversi yang justru melahirkan era keemasan baru. Aliansi ini mendorong WCW mengalahkan WWE dalam perang rating selama 83 pekan berturut-turut, sebuah rekor yang masih sulit disamai.

Warisan Abadi dalam Budaya Populer

Hogan adalah gulat profesional pertama yang benar-benar menembus batas. Ia membintangi film seperti Rocky III sebagai Thunderlips, memiliki acara televisi realitas Hogan Knows Best, dan menjadi bintang tamu di berbagai program hiburan. Dari mempromosikan pasta kalengan hingga muncul di sampul majalah Sports Illustrated, pengaruhnya menjangkau audiens yang tak pernah sekalipun menonton pertandingan gulat.

Di era modern, pengakuannya tetap tak tergoyahkan. Ia dua kali dilantik ke dalam WWE Hall of Fame—kali pertama secara individu pada 2005, dan kedua sebagai anggota nWo pada 2020. Penampilannya yang menjadi host WrestleMania 37 pada 2021 membuktikan satu hal: setiap kali "Real American" berkumandang dan sosoknya muncul, stadion seketika meletup.

Namun, tak semua bab dalam kisah Hogan berkilau sempurna. Sejumlah kontroversi di luar ring, termasuk skandal rekaman pribadi dan pernyataan rasis yang sempat membuat WWE memutus hubungan pada 2015, turut mewarnai perjalanannya. Meski demikian, permintaan maafnya yang berulang dan upaya membangun jembatan dengan komunitas membuka jalan baginya untuk kembali diterima di WrestleMania 39. Publik perlahan melihat bahwa warisan seorang manusia tak sepenuhnya hitam-putih.

Dampak dan Penghormatan Terakhir

Kepergian Hogan memicu gelombang penghormatan dari rekan sejawat dan murid-muridnya. Para pegulat yang hari ini menjadi bintang—Roman Reigns, Seth Rollins, hingga Becky Lynch—kerap menyebut Hogan sebagai alasan mereka mengikat tali sepatu bot gulat. Filosofi "Hulkamania akan hidup selamanya" yang sering ia teriakkan kini menemukan makna baru: semangat dan pengaruhnya memang tak akan lekang oleh waktu.

Duka ini terasa hingga ke Indonesia, di mana gulat WWE telah menjadi bagian dari masa kecil generasi 1990-an dan 2000-an. Banyak yang mengingat bagaimana sosok Hogan dengan kaus sobeknya menjadi idola di layar kaca, mengajarkan bahwa kebaikan dan ketangguhan bisa berjalan beriringan.

Hogan meninggalkan seorang putri, Brooke, dan putra, Nick, serta jutaan Hulkamaniacs yang akan terus mengabadikan seruan ikonisnya. Malam ini, di seluruh jagat, mereka akan mengepalkan tangan sambil berbisik, "Whatcha gonna do, brother, when Hulkamania runs wild on you?" Sang legenda boleh pergi, tetapi Hulkamania—entitas yang ia ciptakan dari nol—benar-benar abadi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User