Gunung Semeru Erupsi Jumat Pagi, Kolom Abu 1.500 Meter

Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Jumat pagi, 10 Juli 2026. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (

Gunung Semeru Erupsi Jumat Pagi, Kolom Abu 1.500 Meter

Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Jumat pagi, 10 Juli 2026. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi tepat pukul 07.39 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 1.500 meter di atas puncak kawah.

Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat daya. Masyarakat di sekitar lereng gunung diminta untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi hujan abu dan lahar dingin.

Kronologi dan Data Erupsi

Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi sekitar 127 detik. PVMBG menyatakan bahwa status Gunung Semeru masih berada pada Level III (Siaga) sejak tahun 2024 lalu. Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Mukdas Sofian, membenarkan kejadian tersebut.

“Benar, erupsi terjadi pukul 07.39 WIB. Tinggi kolom abu vulkanik teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak,” ujar Mukdas melalui pesan singkat.

Berdasarkan data historis, Semeru memang dikenal dengan tipe erupsi vulcanian dan strombolian yang kerap menghasilkan luncuran awan panas serta lontaran material pijar. Namun, pada erupsi kali ini, belum ada laporan awan panas guguran yang signifikan.

Dampak dan Rekomendasi

Meski belum ada korban jiwa, abu vulkanik dilaporkan turun di beberapa desa seperti Desa Sumberwuluh, Desa Supiturang, dan Desa Oro-oro Ombo di Kabupaten Lumajang. Warga diimbau menggunakan masker dan menghindari aktivitas di luar ruangan. Pemerintah daerah bersama BNPB telah menyiagakan posko darurat dan menyediakan masker gratis.

Status Gunung Semeru – Data PVMBG 10 Juli 2026
ParameterDetail
Tinggi Kolom Abu±1.500 m dari puncak
Warna AbuKelabu tebal
Arah AbuBarat daya
Amplitudo23 mm
Durasi127 detik
StatusSiaga (Level III)

Selain itu, PVMBG mengingatkan agar tidak ada aktivitas pendakian dalam radius 8 km dari puncak, dan mewaspadai potensi ancaman lahar dingin terutama di musim hujan. Masyarakat di aliran sungai yang berhulu di Semeru seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, dan Besuk Kembar diminta meningkatkan kewaspadaan.

Respons Cepat dan Antisipasi

Tim relawan, BPBD Lumajang, serta TNI/Polri langsung diterjunkan untuk melakukan pemantauan dan distribusi logistik. Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, menyampaikan bahwa situasi masih terkendali namun pihaknya tidak lengah.

“Kami sudah koordinasi dengan semua pihak. Stok masker dan logistik siap. Yang terpenting masyarakat tetap ikuti arahan,” tegas Patria.

Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes juga mengingatkan bahaya paparan abu vulkanik terhadap saluran pernapasan. Masyarakat dengan riwayat asma atau ISPA disarankan untuk segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala batuk berat atau sesak napas.

Gunung Semeru, dengan ketinggian 3.676 mdpl, merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Erupsi terakhir yang cukup besar terjadi pada Desember 2022, yang mengakibatkan puluhan korban jiwa. Kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga bagi sistem peringatan dini. Bagi masyarakat Tengger, Semeru bukan sekadar gunung, melainkan tempat bersemayamnya para dewa. Upacara Kasada yang rutin digelar tiap tahun menjadi wujud penghormatan dan permohonan keselamatan. Meski demikian, kepercayaan itu tidak mengurangi kewaspadaan mereka terhadap ancaman erupsi.

Peluang Wisata dan Larangan

Sementara itu, meski status Siaga, sejumlah wisatawan nekat mendekati kawasan terlarang demi mengabadikan momen erupsi. Pihak kepolisian dan TNI telah memperketat penjagaan di titik-titik rawan. Pelanggar akan dikenai sanksi tegas sesuai Perda setempat.

Pakar geologi dari Universitas Brawijaya, Dr. Rina Dwi Astuti, menjelaskan bahwa aktivitas Semeru masih fluktuatif dan potensi erupsi susulan tetap tinggi. “Berdasarkan pola kegempaan, dapur magma masih aktif. Masyarakat harus benar-benar mematuhi zona bahaya,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penutupan bandara, namun maskapai penerbangan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap sebaran abu vulkanik yang bisa mengganggu jalur penerbangan di selatan Jawa.

Langkah Mitigasi Berbasis Komunitas

Desa-desa di lereng Semeru telah membentuk tim siaga bencana yang sudah terlatih sejak pascaerupsi 2022. Mereka rutin menggelar simulasi evakuasi dan menyediakan jalur evakuasi yang jelas. Program Desa Tangguh Bencana (Destana) menjadi andalan dalam menekan risiko korban jiwa.

Warga Supiturang, Suparno (45), mengaku sudah terbiasa dengan aktivitas Semeru. “Kami hanya waspada, dengar informasi dari PVMBG, dan siap mengungsi jika disuruh. Sudah paham betul,” katanya. Adaptasi semacam ini diharapkan mampu meminimalkan kepanikan.

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan laporan resmi PVMBG dan wawancara langsung. Data akan diperbarui sesuai perkembangan.

[SOCIAL_TWEET]: BREAKING: Gunung Semeru erupsi pagi ini (10/7/2026) pukul 07.39 WIB. Kolom abu vulkanik mencapai 1.500 meter, arah barat daya. Status masih Siaga. Warga diimbau pakai masker dan hindari zona merah. #SemeruErupsi #PVMBG #MitigasiBencana[SOCIAL_TG]: 🌋 Gunung Semeru erupsi pagi ini, tinggi kolom abu 1.500 meter. Status Siaga, warga diminta waspada. #Semeru #Erupsi

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User