Gol Inggris di Perempat Final 2026 Dituding Skandal Wasit Terbesar
London – Kemenangan Inggris atas Norwegia di perempat final Piala Dunia 2026 masih memantik api kontroversi. Skor akhir 2-1 di Wembley—yang mengantarkan Inggris ke semifinal—kini dipertanyakan s...
London – Kemenangan Inggris atas Norwegia di perempat final Piala Dunia 2026 masih memantik api kontroversi. Skor akhir 2-1 di Wembley—yang mengantarkan Inggris ke semifinal—kini dipertanyakan secara tajam oleh media dan publik Skandinavia, menyusul sebuah gol yang dinilai lahir dari keputusan wasit paling ganjal sepanjang turnamen.
Gol penentu kemenangan Inggris yang dicetak pada menit ke-78 oleh penyerang sayap Marcus Edwards menjadi pusat kemarahan. Prosesnya berawal dari serangan balik cepat yang diwarnai pelanggaran terhadap gelandang Norwegia, Andreas Schjelderup, tepat di depan kotak penalti Inggris. Wasit asal Meksiko, Marco Hernández, tak meniup peluit—bahkan setelah pemain Norwegia protes keras. Bola liar kemudian disambar Declan Rice, dikirim kepada Jude Bellingham yang melepaskan umpan terobosan menembus garis pertahanan tinggi Norwegia. Edwards yang lolos dari jeratan offside berhasil menaklukkan kiper Mathias Dyngeland dengan tembakan mendatar ke tiang jauh. Namun, tayangan ulang dari sudut belakang gawang menunjukkan bahwa saat bola dimainkan Bellingham, bahu kiri Edwards lebih maju dua sentimeter dari bek terakhir Norwegia, Leo Østigård. Garis biru dan merah VAR yang ditayangkan secara langsung di layar lebar stadion justru memperlihatkan posisi onside—sebuah representasi yang belakangan diklaim tidak akurat oleh pakar grafis televisi Norwegia.
Analisis Babak Pertama: Dominasi Tanpa Penyelesaian
Sejak peluit awal dibunyikan, Norwegia sebenarnya tampil dengan formasi 4-2-3-1 yang rapat, menahan gelombang serangan Inggris yang mengandalkan lebar lapangan. Penguasaan bola Inggris mencapai 64% di babak pertama, dengan 12 tembakan—namun hanya tiga yang mengarah tepat ke gawang. Statistik expected goals (xG) Inggris hanya 0,8, mencerminkan minimnya peluang matang. Norwegia justru unggul lewat sundulan Erling Haaland pada menit ke-54, memanfaatkan umpan silang sempurna Martin Ødegaard dari sisi kiri. Gol itu—gol ke-52 Haaland di level internasional—membuat Wembley senyap sesaat, sampai kemudian panggung berbalik.
Kartu Merah yang Mengubah Peta
Momen paling menentukan terjadi pada menit ke-62. Bek tengah Norwegia, Stian Gregersen, mendapat kartu kuning kedua akibat pelanggaran terhadap Harry Kane di sisi lapangan. Tayangan ulang menunjukkan kontak ringan antara lengan Gregersen dan punggung Kane, namun sang kapten Inggris terjatuh dengan dramatis. Keputusan wasit Hernández memicu kemarahan bangku cadangan Norwegia; asisten pelatih Brede Hangeland sampai menerobos area teknis dan diganjar kartu kuning. Dengan sepuluh pemain, Norwegia kehilangan struktur pertahanan. Pelatih Ståle Solbakken terpaksa menarik gelandang serang Ola Brynhildsen demi memasukkan bek tambahan, Sondre Langås. Inggris langsung memanfaatkan celah: hanya lima menit berselang, Bellingham menyamakan kedudukan lewat sundulan dari jarak dekat, memanfaatkan kebingungan lini belakang Norwegia yang belum rapi setelah pergantian pemain.
Gol Kedua: Garis Offside yang Dipertanyakan
Setelah gol penentu Edwards di menit ke-78, kapten Norwegia Ødegaard langsung mendekati wasit Hernández dan asisten VAR, Carlos Del Cerro Grande, yang bertugas di ruang kendali. Protes berlangsung hampir tiga menit, namun gol tetap disahkan. Pada konferensi pers pasca pertandingan, Solbakken menahan emosi saat menyebut keputusan itu sebagai "kesalahan fatal".
"Kami melihat gambar yang sama dengan semua orang. Ada selisih yang cukup jelas. Jika teknologi tidak bisa diandalkan di fase krusial begini, maka permainan ini sedang menuju masalah besar,"ujar Solbakken.
Media Norwegia tak kalah tajam. Tabloid Verdens Gang menulis tajuk utama yang menyebut malam itu "berpotensi menjadi skandal wasit terbesar dalam sejarah Piala Dunia". Analis sepak bola di saluran NRK, Lars Tjærnås, merinci bahwa perangkat Hawk-Eye yang digunakan untuk kalibrasi garis offside memiliki margin eror hingga 5 sentimeter, sehingga selisih dua sentimeter bisa jadi berada dalam "zona abu-abu" yang seharusnya menguntungkan penyerang. Dalam aturan IFAB terkini, setiap keraguan dalam penentuan offside oleh VAR seharusnya dikembalikan ke keputusan awal hakim garis. Namun, hakim garis sebenarnya sudah mengangkat bendera menandakan offside, lalu menurunkannya setelah instruksi dari wasit utama—sebuah prosedur yang kini dipertanyakan karena intervensi yang terlalu dini.
Statistik akhir pertandingan menunjukkan Inggris unggul 58% penguasaan bola, dengan total 18 tembakan (6 on target) berbanding 7 tembakan Norwegia (3 on target). Namun, superioritas itu tak sebanding dengan keputusan krusial yang mewarnai hasil. Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) dikabarkan telah mengirim surat resmi kepada FIFA, meminta klarifikasi atas protokol VAR yang digunakan, khususnya terkait kalibrasi garis dan komunikasi antara wasit tengah dan tim video. Sementara itu, Inggris melaju ke semifinal dengan catatan lima kemenangan beruntun—namun euforia itu kini dibayangi awan kecurigaan yang sulit dienyahkan.
Mampukah FIFA merespons tuntutan transparansi tanpa mengulangi trauma kontroversi masa lalu? Jawabannya akan menentukan tidak hanya reputasi Piala Dunia 2026, tetapi juga masa depan teknologi dalam olahraga yang kerap kali justru memperkeruh debat, alih-alih menghadirkan kepastian.
Baca juga:
Comments (0)