Frustrasi Mbappe Pecah, Prancis Tersingkir 0-2 oleh Spanyol

Skor akhir 0-2 memupus ambisi Les Bleus. Prancis tak berkutik di hadapan La Roja pada laga semifinal Piala Dunia 2026 yang digelar Rabu (15/7) dini hari WIB. Kapten Kylian Mbappe yang biasanya dingin ...

Frustrasi Mbappe Pecah, Prancis Tersingkir 0-2 oleh Spanyol

Skor akhir 0-2 memupus ambisi Les Bleus. Prancis tak berkutik di hadapan La Roja pada laga semifinal Piala Dunia 2026 yang digelar Rabu (15/7) dini hari WIB. Kapten Kylian Mbappe yang biasanya dingin dan klinis, kali ini terlihat kehilangan ketenangan. Puncaknya terjadi di menit ke-78 ketika ia tertangkap kamera menghampiri kiper Spanyol, Unai Simon, dengan gestur penuh emosi setelah sebuah duel udara di kotak penalti. Insiden itu menjadi simbol betapa tumpulnya lini serang Prancis sepanjang 90 menit.

Babak Pertama: Dominasi Steril dan Pukulan Telak

Prancis sebenarnya membuka laga dengan intensitas tinggi. Formasi 4-3-3 racikan Didier Deschamps menekan sejak menit awal. Penguasaan bola mencapai 58 persen sepanjang babak pertama. Mbappe yang diplot di sayap kiri beberapa kali menusuk ke jantung pertahanan Spanyol. Namun, penyelesaian akhir selalu mentok di tangan Unai Simon.

Menit ke-14, Mbappe melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Bola mengarah ke sudut kanan bawah, tetapi Simon berhasil menepis dengan ujung jarinya. Statistik mencatat, Prancis menciptakan empat shots on target dari delapan percobaan di 45 menit pertama. Angka yang seharusnya cukup untuk membuka keunggulan.

Nahas bagi Les Bleus, justru Spanyol yang memecah kebuntuan. Menit ke-32, Nico Williams menusuk dari sisi kiri. Umpan tariknya gagal dihalau William Saliba. Bola liar jatuh di kaki Pedri yang tanpa ragu melepaskan tendangan first-time dari jarak 16 meter. Mike Maignan terpaku. 1-0 untuk Spanyol. Gol tersebut tercipta dari serangan balik cepat yang hanya melibatkan empat sentuhan—ciri khas Spanyol era Luis de la Fuente yang memadukan penguasaan bola dengan transisi mematikan.

Momen paling kontroversial terjadi di menit ke-41. Antoine Griezmann mengirim umpan terobosan yang disambar Mbappe. Bola sempat mengenai lengan Aymeric Laporte di dalam kotak penalti. Wasit meniup peluit, tetapi setelah pengecekan VAR selama hampir dua menit, keputusan akhir: bukan handball. Tayangan ulang memperlihatkan posisi tangan Laporte yang rapat dengan tubuh. Mbappe terlihat menggelengkan kepala, gestur frustrasi pertama yang terekam kamera malam itu.

Babak Kedua: Kartu Merah dan Jeruji Besi Spanyol

Memasuki babak kedua, Deschamps memasukkan Ousmane Dembélé untuk menambah daya gedor. Namun, bencana justru datang lebih dulu. Menit ke-53, Eduardo Camavinga melakukan pelanggaran keras terhadap Rodri. Wasit semula mengeluarkan kartu kuning. Namun, VAR kembali turun tangan. Hasil peninjauan: kartu kuning berubah menjadi kartu merah. Telapak kaki Camavinga mengenai tulang kering Rodri—kontak berbahaya yang tak terbantahkan.

Bermain dengan sepuluh orang melawan Spanyol yang dikenal superior dalam penguasaan bola adalah resep bunuh diri. Benar saja, penguasaan bola Prancis anjlok ke 39 persen pasca kartu merah. Spanyol memegang kendali penuh. Umpan-umpan pendek mereka merajut 423 operan sukses sepanjang laga, nyaris dua kali lipat dari Prancis yang hanya mencatatkan 248 operan akurat.

Menit ke-67, pukulan pamungkas tiba. Dani Olmo menusuk ke kotak penalti dari sisi kanan. Ia mengecoh Jules Koundé dengan gerakan tipuan, lalu melepaskan tendangan melengkung ke tiang jauh. Maignan tak berdaya. Spanyol unggul 2-0. Assist dari Lamine Yamal yang tampil cemerlang dengan tiga dribel sukses dan dua umpan kunci sepanjang pertandingan.

Prancis praktis mati kutu. Dua pergantian pemain terakhir—Marcus Thuram dan Randal Kolo Muani—tak mampu mengubah dinamika. Lini tengah Spanyol yang digalang Rodri dan Pedri terlalu rapat ditembus. Shots on target Prancis nihil di babak kedua. Nol. Statistik yang sangat kontras dibandingkan performa mereka di perempat final saat menghancurkan Portugal 3-0.

Mbappe: Malam Kelam Sang Kapten

Kylian Mbappe datang ke semifinal ini dengan reputasi sebagai mesin gol paling ditakuti di planet sepak bola. Namun, malam itu ia hanya mencatatkan dua shots on target dari lima percobaan, tiga dribel sukses dari tujuh upaya, dan kehilangan penguasaan bola sebanyak 14 kali—terbanyak di antara semua pemain di lapangan. Angka expected goals (xG) miliknya hanya 0,28. Jauh dari standar seorang pemain yang biasanya mencatatkan xG di atas 0,8 per pertandingan.

Insiden dengan Unai Simon di menit ke-78 menjadi klimaks dari akumulasi frustrasi itu. Berawal dari umpan silang Dembélé, Mbappe melompat untuk menyundul bola. Simon keluar dari sarangnya dan menangkap bola dengan kedua tangan, tetapi dalam momentum tersebut terjadi kontak fisik. Mbappe yang terjatuh langsung berdiri, mendatangi Simon dengan wajah penuh kemarahan. Wasit langsung memisahkan keduanya dan memberikan kartu kuning kepada sang kapten Prancis.

Pertahanan Spanyol pantas mendapat kredit besar. Duet Laporte dan Pau Cubarsí tampil sebagai tembok kokoh. Cubarsí, di usia 19 tahun, mencatatkan lima sapuan, tiga intersep, dan dua tekel sukses—statistik yang membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan versi FIFA. Strategi De la Fuente dengan memasang dua gelandang bertahan (Rodri dan Martín Zubimendi) juga efektif memutus koneksi antara Griezmann dan Mbappe.

Kekalahan ini menjadi pil pahit bagi generasi emas Prancis yang baru dua tahun lalu menjuarai Euro 2024. Mbappe, yang kini berusia 27 tahun, akan berusia 31 saat Piala Dunia 2030 digelar. Jendela keemasan mungkin masih terbuka, tetapi kesempatan yang terbuang di semifinal edisi ini akan menjadi luka yang sulit disembuhkan. Spanyol melaju ke final dengan status tim paling produktif di turnamen—15 gol dalam enam pertandingan. Prancis pulang dengan tangan hampa dan satu pertanyaan besar: ke mana perginya ketajaman Mbappe di malam yang paling menentukan?

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User