Final Piala Dunia 2022: Argentina Juara Usai Drama Adu Penalti

Skor akhir 3-3, dan Argentina keluar sebagai juara Piala Dunia 2022 setelah menang 4-2 dalam adu penalti melawan Prancis di Lusail Stadium, Minggu (18/12/2022) malam WIB. Lionel Messi mencetak gol pem...

Final Piala Dunia 2022: Argentina Juara Usai Drama Adu Penalti

Skor akhir 3-3, dan Argentina keluar sebagai juara Piala Dunia 2022 setelah menang 4-2 dalam adu penalti melawan Prancis di Lusail Stadium, Minggu (18/12/2022) malam WIB. Lionel Messi mencetak gol pembuka dari titik putih pada menit ke-23, sebelum Angel Di Maria menggandakan keunggulan pada menit ke-36. Namun, Kylian Mbappe mencuri perhatian dengan hat-trick pertamanya di final Piala Dunia, dua gol dalam dua menit pada babak kedua dan satu lagi di menit ke-118, sekaligus menjadi pemain pertama yang mencetak trigol di partai puncak sejak Geoff Hurst pada 1966.

Laga ini mempertemukan dua raksasa dengan gaya bertolak belakang. Argentina turun dengan formasi 4-3-3 dan starting XI yang mengandalkan Messi sebagai false nine, sementara Prancis memakai formasi yang sama namun mengandalkan kecepatan Mbappe di sisi kiri. Sejak peluit awal, skuad asuhan Lionel Scaloni tampil lebih agresif dalam tekanan, sedangkan pasukan Didier Deschamps memilih menunggu di blok tengah. Statistik babak pertama menunjukkan dominasi total La Albiceleste dengan 61 persen penguasaan bola berbanding 39 persen milik Les Bleus.

Babak Pertama: Penalti Messi dan Serangan Balik Kilat

Menit ke-23, wasit Szymon Marciniak menunjuk titik putih setelah Ousmane Dembele menjatuhkan Di Maria di kotak terlarang, dan keputusan itu dikuatkan oleh tinjauan VAR. Messi, yang bertindak sebagai kapten sekaligus eksekutor, menaklukkan Hugo Lloris dengan tembakan datar ke sisi kanan gawang. Gol ini terasa istimewa: pada 2014 di Maracana, Messi gagal membawa Argentina melewati final, dan delapan tahun kemudian ia kembali membuka skor di partai puncak.

Keunggulan bertambah pada menit ke-36 lewat skema serangan balik yang dieksekusi sempurna. Messi melepas umpan terobosan ke sisi kanan untuk Julian Alvarez, lalu bola dialihkan ke Di Maria yang berdiri bebas di tiang jauh. Sepakan first-time-nya memantul tipis dari kaki Lloris sebelum masuk. Di Maria, yang baru pulih dari cedera dan langsung diberi kepercayaan di starting XI, membalasnya dengan gol penting di partai final. Argentina menutup babak pertama dengan unggul 2-0, plus penguasaan bola 61-39 dan lima shots on target berbanding nol milik Prancis yang gagal menjaga clean sheet.

Babak Kedua: Dua Menit Ajaib Mbappe

Deschamps bereaksi cepat dengan menarik Giroud dan Dembele, lalu memasukkan Randal Kolo Muani serta Marcus Thuram di awal babak kedua. Rotasi itu mengubah wajah Prancis secara drastis. Menit ke-80, wasit kembali menunjuk titik putih setelah Otamendi menjatuhkan Kolo Muani di kotak penalti. Mbappe menjalankan tugasnya dengan eksekusi keras ke pojok kiri, dan Dibu Martinez yang terbang ke arah berlawanan hanya bisa menyaksikan bola masuk.

Kurang dari dua menit berselang, giliran Thuram dan Mbappe berkolaborasi dalam skema one-two di tepi kotak. Sepakan voli Mbappe dari jarak dekat memperdaya pertahanan Argentina dan menyamakan kedudukan 2-2. Dari tertinggal dua gol, Prancis bangkit hanya dalam 97 detik, laju balasan tercepat dalam sejarah final Piala Dunia. Babak kedua ditutup dengan intensitas gila-gilangan; kedua tim sama-sama berpeluang tetapi gagal menambah gol, sehingga laga berlanjut ke perpanjangan waktu dengan kedudukan 2-2.

Perpanjangan Waktu dan Hat-trick Bersejarah

Argentina kembali unggul pada menit ke-108. Lautaro Martinez melepaskan tembakan yang ditepis Lloris, dan Messi hadir di momen yang tepat untuk menyambar bola muntah dari jarak dekat. Gol itu menegaskan peran assist dan instingnya di kotak penalti, sekaligus membawa Argentina memimpin 3-2. Namun drama belum usai: menit ke-118, bola mengenai tangan Montiel di dalam kotak, VAR kembali menjadi pusat perhatian, dan wasit menghadiahi penalti kedua untuk Prancis. Mbappe mengonversinya menjadi gol ketiganya pada malam itu, hat-trick pertama di partai final sejak 1966, dan skor berubah 3-3.

Kedudukan bertahan hingga peluit panjang, memaksa pertandingan diselesaikan lewat adu penalti. Dalam tos-tosan, Dibu Martinez menjadi pahlawan dengan menepis eksekusi Coman, sementara Tchouameni gagal setelah tembakannya melenceng dari sasaran. Mbappe, Messi, Dybala, Paredes, dan Kolo Muani sukses menjalankan tugas, sebelum Montiel menuntaskan kemenangan 4-2 untuk Argentina pada eksekusi kelima. Messi akhirnya mengangkat trofi yang selama dua dekade terasa tak terjangkau.

Analisis: Kunci Kemenangan dan Catatan Statistik

Skor akhir 3-3 mencerminkan dua babak yang sangat berbeda. Data akhir mencatat penguasaan bola Argentina 53 persen berbanding 47 persen, total tembakan 10-14, dan shots on target 7-5. Prancis memang lebih banyak melepaskan percobaan, tetapi penyelesaian akhir Argentina lebih klinis pada momen krusial. Laga ini juga diwarnai kartu kuning bagi Di Maria, Montiel, dan Mbappe, serta beberapa keputusan offside dan tinjauan VAR yang membuat pertandingan berjalan hingga lebih dari 120 menit. Kedua kiper sama-sama gagal mencatat clean sheet, namun Martinez menebusnya dengan dua penyelamatan di adu penalti.

Kunci kemenangan Argentina ada pada manajemen tempo Scaloni: menekan tinggi di babak pertama, lalu bertahan terorganisir saat Prancis meningkatkan intensitas. Messi menutup turnamen dengan tujuh gol dan tiga assist, meraih Bola Emas sekaligus menuntaskan narasi final terakhirnya dengan cara paling manis. Di sisi lain, Mbappe memimpin daftar top skor dengan delapan gol, tetapi trofi tetap melenggang ke Buenos Aires.

"Ini adalah final terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Anak-anak kami dua kali dikejar lawan tetapi tidak pernah kehilangan fokus," ujar Scaloni dalam konferensi pers usai laga.

Bagi Prancis, kekalahan ini pahit, tetapi catatan Mbappe membuktikan bahwa generasi emas Les Bleus masih punya masa depan cerah. Bagi Argentina, gelar ketiga setelah 1978 dan 1986 mengunci status Messi sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang masa. Lusail Stadium menjadi saksi malam yang tak akan terlupakan: dua tim besar, 120 menit sengit, dan drama adu penalti yang mengakhiri salah satu final terhebat dalam sejarah turnamen.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User