FIFA Kembali Tegaskan Aturan Larangan Wasit Inggris Pimpin Argentina
FIFA kembali meneguhkan salah satu aturan paling sensitif dalam sepak bola internasional menjelang Piala Dunia 2026: wasit asal Inggris dilarang memimpin pertandingan apa pun yang melibatkan Timnas Ar...
FIFA kembali meneguhkan salah satu aturan paling sensitif dalam sepak bola internasional menjelang Piala Dunia 2026: wasit asal Inggris dilarang memimpin pertandingan apa pun yang melibatkan Timnas Argentina. Kebijakan ini bukan hal baru, namun kemunculannya kembali ke permukaan seiring lolosnya Argentina sebagai juara bertahan dan potensi Lionel Messi menjalani panggung Piala Dunia terakhirnya. Aturan tidak tertulis ini telah berlaku selama lebih dari dua dekade, memastikan tidak ada pengadil dari Inggris yang akan memegang peluit ketika La Albiceleste turun ke lapangan—termasuk di seluruh fase turnamen akbar mendatang.
Akar Sejarah Larangan: Dari 'Tangan Tuhan' hingga Ketegangan Geopolitik
Pangkal larangan ini bisa ditelusuri ke perempat final Piala Dunia 1986, saat kapten Argentina Diego Maradona mencetak gol kontroversial dengan tangan yang kemudian ia sebut 'Tangan Tuhan' ke gawang Inggris. Insiden itu menjadi luka abadi bagi sepak bola Inggris, diperparah oleh kekalahan 1-2 yang mengakhiri langkah mereka di Meksiko. Namun, ketegangan tidak hanya soal rivalitas lapangan hijau—Perang Falkland tahun 1982 antara kedua negara telah menciptakan permusuhan geopolitik yang mendalam. Bentrokan militer selama 10 pekan itu merenggut 649 tentara Argentina dan 255 tentara Inggris, menjadikan hubungan kedua bangsa tetap rapuh bahkan hingga kini. FIFA, demi menjaga netralitas dan menghindari dugaan bias emosional, diam-diam menerapkan larangan bagi wasit Inggris untuk menangani laga Argentina. Kebijakan ini diperkuat oleh permintaan dari Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) yang sejak awal meragukan objektivitas pengadil dari negara tersebut. Sejak era Maradona hingga generasi Messi, aturan itu tidak pernah dilanggar—bahkan ketika wasit Inggris seperti Howard Webb atau Michael Oliver mencapai puncak karier internasional mereka.
Dampak Terhadap Ketersediaan Wasit Elit untuk Piala Dunia 2026
Pada Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, aturan ini menimbulkan tantangan logistik bagi Komite Wasit FIFA yang kini dipimpin oleh Pierluigi Collina. Dari 36 wasit utama dan 69 asisten wasit yang akan bertugas, sejumlah nama berkualitas asal Inggris—seperti Anthony Taylor, Michael Oliver, dan Stuart Attwell—secara otomatis tidak dapat ditugaskan ke laga Argentina. Dengan format baru 48 tim dan total 104 pertandingan, blok besar ini membatasi opsi penugasan terutama jika Argentina melaju jauh sebagai unggulan. Meski demikian, insiders FIFA menyatakan bahwa penjadwalan telah mengakomodasi pembatasan ini sejak awal; tidak ada wasit Inggris yang akan masuk ke dalam pool petugas untuk pertandingan Argentina sejak undian grup dilakukan. Data dari Piala Dunia 2022 menunjukkan bahwa Argentina memainkan tujuh laga menuju trofi, dan seluruhnya dipimpin oleh wasit dari konfederasi non-UEFA atau dari negara yang tidak memiliki ketegangan historis dengan Amerika Selatan. Pola serupa akan berlanjut, dengan kemungkinan wasit-wasit dari Asia, Afrika, atau sesama zona CONMEBOL mendapat lebih banyak penugasan di laga Argentina.
Reaksi Publik dan Pandangan Netralitas Wasit Modern
Larangan ini menuai beragam reaksi. Mantan wasit Inggris yang kini menjadi analis, Mark Clattenburg, pernah menyatakan bahwa "profesionalisme wasit elit telah melampaui sentimen nasional," namun ia mengakui realitas politik sulit diabaikan. Sementara itu, media Argentina seperti Olé memandang aturan ini sebagai "kemenangan diplomasi sepak bola" yang melindungi tim dari tekanan eksternal. Di media sosial, tagar #NoEnglishRefsForArgentina kembali mencuat setiap kali polemik keputusan wasit muncul di laga Argentina melawan tim-tim Eropa. Survei internal FIFA pada 2018 menyebut 62% responden Argentina tidak percaya wasit Inggris bisa bersikap netral, angka tertinggi di antara semua kombinasi negara yang diteliti. Namun, di era teknologi VAR dan deteksi offside semi-otomatis, argumen bahwa wasit lapangan bisa secara sengaja mengubah hasil pertandingan semakin lemah. Tetap saja, FIFA memilih mempertahankan aturan tak tertulis ini untuk menghindari gangguan psikologis bagi pemain Argentina dan melindungi integritas turnamen. Para pemain seperti Messi, Di Maria, atau Julian Alvarez tidak akan menghadapi sosok berbahasa Inggris dengan seragam wasit yang bisa membangkitkan ingatan getir dari masa lalu.
Kemungkinan Pelonggaran di Masa Depan
Diskusi tentang melonggarkan larangan ini sempat muncul saat Gianni Infantino menjabat sebagai Presiden FIFA, terutama bersamaan dengan upaya modernisasi regulasi. AFA sendiri menunjukkan sikap ambigu; beberapa petinggi federasi tidak lagi secara terbuka menuntut larangan, tetapi juga tidak meminta penghapusannya. Hingga Maret 2025, Komite Eksekutif FIFA belum pernah membahas pencabutan larangan tersebut dalam agenda resmi, menjadikannya sebagai salah satu aturan diam-diam yang bertahan paling lama. Skenario yang mungkin terjadi adalah uji coba melalui pertandingan persahabatan tak resmi, tetapi dengan rivalitas yang masih sensitif dan kemungkinan pertemuan Inggris vs Argentina di fase gugur Piala Dunia 2026, setiap pelonggaran akan membutuhkan konsensus politik tingkat tinggi. Untuk saat ini, wasit Inggris harus terus menerima bahwa sehebat apa pun performa mereka, talenta mereka tak akan tersalurkan untuk memimpin Lionel Messi dan kawan-kawan di panggung terbesar. Aturan yang terlahir dari campuran sepak bola, sejarah perang, dan harga diri nasional ini tampaknya akan awet hingga generasi berikutnya.
Baca juga:
Comments (0)