Erick Thohir: FIFA ASEAN Cup 2026 Terbesar Setelah Piala Dunia
Ketua Umum PSSI Erick Thohir baru saja menekan tombol akselerasi sepak bola Asia Tenggara. Dalam pernyataan terbarunya, ia memproyeksikan FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai event sepak bola terbesar di dunia...
Ketua Umum PSSI Erick Thohir baru saja menekan tombol akselerasi sepak bola Asia Tenggara. Dalam pernyataan terbarunya, ia memproyeksikan FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai event sepak bola terbesar di dunia setelah Piala Dunia 2026 — klaim berani yang langsung memanaskan diskusi dari Jakarta hingga Bangkok, dari Hanoi sampai Kuala Lumpur.
Sebagai perbandingan skala, Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menjadi edisi terbesar dalam sejarah: 48 tim peserta, 104 pertandingan, dan 16 stadion yang tersebar di tiga negara. Menempatkan turnamen ASEAN tepat di belakang mesin komersial sebesar itu jelas bukan pernyataan sembarangan. Ini sinyal kuat bahwa FIFA memandang Asia Tenggara sebagai pasar pertumbuhan utama berikutnya dalam peta sepak bola global.
Skala Event: Bukan Sekadar Turnamen Regional
Angka demografinya memang mendukung narasi besar tersebut. Kawasan ASEAN menampung lebih dari 680 juta jiwa — hampir dua kali lipat populasi Amerika Serikat — dengan 11 negara anggota yang mayoritas menempatkan sepak bola sebagai olahraga nomor satu. Basis penonton sebesar ini adalah bahan bakar yang selama ini dicari FIFA untuk ekspansi di luar pasar tradisional Eropa dan Amerika Selatan.
Dari sisi infrastruktur, kawasan ini juga punya modal nyata. Stadion Utama Gelora Bung Karno berkapasitas sekitar 77 ribu penonton, Bukit Jalil di Kuala Lumpur menampung 87 ribu kursi, sementara Rajamangala di Bangkok rutin penuh saat laga timnas. Atmosfer tribun Asia Tenggara termasuk yang paling bergelora di Asia — aset yang sulit direplikasi kawasan lain.
Label FIFA yang melekat pada turnamen ini juga mengubah segalanya. Event resmi berarti laga dimainkan di jendela kalender internasional, klub wajib melepas pemain, dan setiap hasil berpotensi memengaruhi ranking FIFA. Itu perbedaan fundamental dibanding turnamen regional konvensional yang kerap bentrok dengan jadwal liga domestik dan tidak selalu diperkuat skuad terbaik.
Mengapa FIFA Melirik Asia Tenggara
Konsumsi sepak bola di kawasan ini termasuk yang paling agresif di dunia. Laga timnas Indonesia, Thailand, dan Vietnam rutin menembus jutaan penonton di televisi dan platform streaming, sementara akun media sosial para bintang ASEAN termasuk yang paling banyak diikuti di Asia. Dari kacamata bisnis, ini pasar raksasa yang belum tergarap maksimal oleh kompetisi berlabel FIFA.
Level kompetitifnya pun terus menanjak. Vietnam baru saja menjuarai ASEAN Championship 2024 setelah mengalahkan Thailand di final dua leg dengan agregat 5-3. Malaysia agresif memperkuat skuad lewat pemain diaspora, sementara Indonesia menembus ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia — pencapaian yang menegaskan ASEAN bukan lagi wilayah pinggiran dalam peta sepak bola dunia.
Ditambah alokasi 8,5 slot untuk Asia di Piala Dunia 2026, momentum sepak bola kawasan sedang berada di titik tertinggi. FIFA tentu membaca tren ini: investasi di ASEAN bukan lagi spekulasi, melainkan langkah strategis dengan potensi imbal hasil besar dari sisi hak siar, sponsor, dan pertumbuhan penonton baru.
Dampak Langsung untuk Timnas Indonesia
Bagi skuad Garuda, turnamen ini bisa menjadi panggung ideal. Indonesia kini diperkuat generasi pemain yang berkarier di Eropa, dan tren performa di kualifikasi Piala Dunia menunjukkan kurva menanjak. Tampil di event berlabel FIFA melawan rival regional dengan kekuatan penuh akan menjadi ujian sekaligus etalase kualitas starting XI Indonesia di hadapan audiens global.
Posisi Erick Thohir sendiri strategis untuk mengawal ambisi ini. Sebagai ketua federasi yang aktif di kancah internasional, ia memahami bahwa event besar bukan hanya soal trofi, melainkan juga soal hak siar, sponsor, dan eksposur yang bisa mengalir deras ke pembinaan usia muda serta peningkatan kualitas liga domestik.
Pekerjaan Rumah yang Menunggu
Namun klaim besar harus diikuti eksekusi besar pula. Standar lapangan, kualitas kepemimpinan wasit, manajemen pertandingan, hingga sinkronisasi kalender liga domestik di 11 negara harus diselaraskan agar turnamen benar-benar berkelas dunia. ASEAN perlu memastikan event ini bukan sekadar turnamen musiman, melainkan produk jangka panjang dengan format kompetisi yang jelas dan berkelanjutan.
Satu hal pasti: ketika ketua umum federasi sepak bola terbesar di Asia Tenggara melempar pernyataan sebesar ini, seluruh kawasan mendengarkan. FIFA ASEAN Cup 2026 kini bukan lagi wacana di atas kertas — ia adalah proyek raksasa yang tinggal menunggu pembuktian di lapangan hijau.
Comments (0)