Dortmund Gilas Celtic 7-1, Kudeta Puncak Klasemen Liga Champions
Gelora Signal Iduna Park meledak dalam ingar bingar kemenangan telak Borussia Dortmund 7-1 atas Celtic, Kamis dini hari WIB, yang sekaligus mengantarkan Die Borussen merebut takhta klasemen sementara ...
Gelora Signal Iduna Park meledak dalam ingar bingar kemenangan telak Borussia Dortmund 7-1 atas Celtic, Kamis dini hari WIB, yang sekaligus mengantarkan Die Borussen merebut takhta klasemen sementara Liga Champions 2024/2025. Hujan gol yang membasahi markas klub Bundesliga ini bukan sekadar pesta tiga poin, melainkan deklarasi kekuatan menakutkan dari skuad racikan Nuri Şahin.
Sejak peluit awal dibunyikan, intensitas tinggi langsung diperagakan oleh tuan rumah. Formasi 4-3-3 yang diusung Dortmund berubah menjadi mesin penekan tanpa henti. Menit ke-8, umpan terobosan Julian Brandt dari lini tengah berhasil dituntaskan oleh Karim Adeyemi melalui sepakan mendatar yang tak mampu dihalau Joe Hart. Gol pembuka ini membakar semangat anak-anak Dortmund untuk terus mengurung pertahanan Celtic.
Belum genap seperempat jam pertandingan berjalan, papan skor kembali bergetar. Menit ke-15, Niclas Füllkrug menunjukkan insting predatornya di kotak penalti. Menerima umpan silang dari Donyell Malen, bomber jangkung itu menanduk bola ke sudut kiri gawang. Skor 2-0 membuat tempo permainan kian menjadi milik tuan rumah. Celtic yang mencoba merespons melalui skema serangan balik cepat justru kerap terjebak offside. Hingga menit ke-20, tercatat dua kali Kyogo Furuhashi terperangkap garis pertahanan tinggi Dortmund.
Penderitaan tamu dari Skotlandia belum berakhir. Menit ke-23, Adeyemi kembali mencatatkan namanya di papan skor lewat eksekusi penalti setelah ia sendiri dilanggar oleh Cameron Carter-Vickers di area terlarang. Tanpa ragu, Adeyemi mengirim bola ke sisi kanan, mengecoh Hart yang bergerak ke arah berlawanan. Hat-trick di babak pertama pun di depan mata. Namun, Celtic sempat memberikan hiburan. Menit ke-32, kesalahan komunikasi antara Nico Schlotterbeck dan kiper Gregor Kobel dimanfaatkan oleh Daizen Maeda untuk memperkecil kedudukan menjadi 3-1.
Gol balasan itu justru seperti membangunkan singa yang sempat terlena. Dortmund bereaksi dengan derasnya gelombang serangan. Tiga menit jelang turun minum, tepatnya menit ke-42, Malen akhirnya membayar tuntas assist yang gagal dimaksimalkan sebelumnya. Sebuah aksi individu melewati dua pemain bertahan Celtic diselesaikan dengan tembakan melengkung dari luar kotak penalti. Babak pertama ditutup dengan keunggulan telak 4-1.
Dominasi Mutlak dalam Angka dan Taktik
Statistik babak pertama berbicara sangat gamblang tentang jurang kelas antara kedua tim. Penguasaan bola Dortmund mencapai 62 persen berbanding 38 persen milik Celtic. Lebih tajam lagi, dari total 14 tembakan yang dilepaskan tuan rumah, 8 di antaranya tepat sasaran. Sementara itu, Celtic hanya mampu mencatatkan 4 percobaan dengan 2 shots on target. Pressing tinggi yang diinstruksikan Şahin membuat para pemain Celtic kesulitan membangun serangan dari area pertahanan sendiri. Gelandang kapten Callum McGregor dibuat mati kutu oleh pergerakan tanpa bola Marcel Sabitzer dan Emre Can.
Şahin tampaknya tidak ingin mengendurkan intensitas. Memasuki babak kedua, ia justru memasukkan Felix Nmecha menggantikan Sabitzer untuk menambah daya dobrak dari lini kedua. Hasilnya instan. Menit ke-52, umpan tarik Nmecha disambar oleh Brandt yang berdiri bebas di muka gawang. Gol kelima ini seakan menjadi lonceng kematian bagi ambisi Celtic mencuri poin di Jerman.
Nmecha Sang Supersub dan Banjir Gol Penutup
Füllkrug melengkapi brace-nya pada menit ke-61 melalui skema sepak pojok. Bola liar hasil tandukan Mats Hummels—yang masuk menggantikan Süle—disodok oleh Füllkrug dari jarak dua meter. Skor menjadi 6-1 dan pesta belum usai. Momentum terbaik tersaji pada menit ke-79. Felix Nmecha menutup pesta gol dengan gol spektakuler. Dari luar kotak penalti, ia melepaskan tendangan melengkung yang bersarang manis di pojok atas gawang Hart. Gol tersebut menjadi penegasan sempurna performa impresif pemain pengganti ini.
Celtic benar-benar dibuat tidak berkutik. Sepanjang 90 menit, tim asuhan Brendan Rodgers itu hanya mampu mencatatkan 3 shots on target dari 7 percobaan. Jumlah pelanggaran mereka pun lebih tinggi, 12 berbanding 9, menunjukkan frustrasi yang memuncak. Dua kartu kuning untuk Johnston dan Scales menjadi bukti kerasnya tekanan yang mereka hadapi.
Puncak Klasemen dan Pesan Keras untuk Eropa
Kemenangan ini tidak hanya soal tiga poin. Dengan agregat gol fantastis, Dortmund kini bertengger di puncak klasemen sementara fase grup, mengungguli tim-tim raksasa lain yang baru akan berlaga. Penguasaan bola total Dortmund dalam laga ini mencapai 65 persen, dengan 21 total tembakan dan 12 di antaranya tepat sasaran—efektivitas yang sangat jarang terjadi di level Liga Champions.
"Ini adalah malam yang sempurna. Kami menunjukkan intensitas tinggi sejak menit pertama dan tidak memberi Celtic kesempatan untuk bernapas. Saya sangat puas dengan mentalitas tim," ujar Nuri Şahin dalam konferensi pers usai pertandingan.
Hasil ini menjadi modal berharga bagi Dortmund yang dalam beberapa musim terakhir kerap inkonsisten di panggung Eropa. Dengan kedalaman skuad yang mumpuni dan taktik fleksibel ala Şahin, Die Borussen kini menjelma menjadi kuda hitam yang patut diperhitungkan dalam perburuan trofi Si Kuping Besar musim ini.
Baca juga:
Comments (0)