Dari Sol Campbell hingga Van Persie: Sepuluh Kisah Pengkhianatan Sepak Bola Inggris

Menit ke-90+6 di Old Trafford, 20 September 2009. Michael Owen — pemain yang baru beberapa bulan meninggalkan Liverpool demi berseragam merah Manchester United — menerima umpan terobosan Ryan Gigg...

Dari Sol Campbell hingga Van Persie: Sepuluh Kisah Pengkhianatan Sepak Bola Inggris

Menit ke-90+6 di Old Trafford, 20 September 2009. Michael Owen — pemain yang baru beberapa bulan meninggalkan Liverpool demi berseragam merah Manchester United — menerima umpan terobosan Ryan Giggs, menahan bola sejenak di kotak penalti, lalu melepaskan tembakan mendatar yang bersarang di pojok gawang Shay Given. Skor akhir 4-3 untuk tuan rumah dalam derbi Manchester yang gila. Namun angka itu hanya setengah cerita; separuh lainnya adalah soal nama-nama yang memilih pindah jalan, dan tribun yang membalas mereka dengan cemoohan "Judas".

Sepak bola Inggris dibangun di atas satu kata yang mahal: loyalitas. Sejak era starting XI legendaris hingga era transfer berdarah-darah, pindah ke klub rival dianggap setara menodai harga diri. Dari London Utara hingga Manchester, setidaknya ada sepuluh kisah pengkhianatan yang membekas — dan semuanya diukur bukan hanya lewat nominal pound, melainkan lewat menit-menit gol yang dirayakan di depan mantan pendukungnya sendiri.

Babak I: Luka yang Menganga di London Utara

Kisah ini bermula pada Juli 2001. Sol Campbell, sosok bek tengah yang menjadi andalan lini pertahanan Tottenham Hotspur, memilih hengkang secara gratis ke Arsenal — rival sekota yang paling dibenci pendukung Spurs. Padahal ia sempat menjadi bagian penting dari starting XI yang diharapkan membawa Tottenham bersaing di papan atas. Sejak hari itu, nama Campbell identik dengan kata "Judas", dan setiap derbi London Utara berubah menjadi konser caci maki dari tribun. Ironisnya, keputusan kontroversial itu justru membuahkan emas: Campbell menjadi pilar Arsenal yang tak terkalahkan sepanjang musim 2003-04 — 38 laga, 26 kemenangan, 12 imbang, tanpa satu pun kekalahan — yang lantas dijuluki The Invincibles.

Lima tahun berselang, giliran Ashley Cole yang berseberangan jalan. Bek kiri jebolan akademi Arsenal itu pindah ke Chelsea pada 2006 lewat paket 5 juta pound plus William Gallas, dan langsung dicap "Cashley" oleh pendukung The Gunners. Statistik mendukung kalkulasi Cole: ia menjadi satu-satunya pemain yang meraih double — gelar liga plus Piala FA — bersama dua klub berbeda, Arsenal 2002 dan Chelsea 2010.

Babak II: Revolusi di Manchester

Jika London punya luka lama, Manchester punya ledakan baru. Pertengahan 2009, Manchester City memasang spanduk raksasa "Welcome to Manchester" dengan wajah Carlos Tevez di dalamnya — ejekan langsung kepada tetangga yang baru saja melepas sang striker. Tevez yang sama, yang sebelumnya menjadi motor serangan United, membalas dengan aksi nyata. Dalam derbi September 2009, Rooney membuka keran gol di menit ke-2, Bellamy sempat membalas, dan Owen memastikan kemenangan lewat gol dramatis di menit ke-90+6 — sebuah laga panas yang dihiasi kartu kuning di kedua kubu, dengan Giggs tercatat sebagai pemberi assist untuk gol penentu itu.

Ferguson merespons kampanye City dengan kalimat yang kemudian dihapal seluruh Inggris: "Itu klub kecil dengan mentalitas kecil. Yang bisa mereka bicarakan hanyalah Manchester United."

Di musim yang sama, Emmanuel Adebayor melengkapi daftar pengkhianat. Pindah dari Arsenal ke City seharga 25 juta pound, striker asal Togo itu mencetak gol ke gawang mantan klubnya pada September 2009, lalu berlari sepanjang lapangan untuk meluncur di depan tribun pendukung Arsenal. Aksi itu memicu kemarahan, denda, dan banjir kritik — tetapi golnya tetap dihitung, dan skor akhir 4-2 untuk City.

Babak III: Era Mahalnya Harga Sebuah Kepindahan

Memasuki dekade 2010-an, pengkhianatan mulai dihitung dalam pound. Fernando Torres meninggalkan Liverpool menuju Chelsea pada Januari 2011 dengan rekor transfer Inggris 50 juta pound. Michael Owen lebih dulu melukai Liverpool dengan pindah gratis ke United pada 2009 — dan mencetak gol penentu di derbi 4-3 itu. Dimitar Berbatov hengkang dari Tottenham ke United di menit-menit terakhir bursa 2008 seharga 30,75 juta pound, setelah mogok latihan demi memaksa kepindahan. Dua tahun kemudian, hat-trick-nya ke gawang Liverpool membuktikan kualitas yang membuat Spurs gigit jari.

Puncaknya pada 2012. Robin van Persie, kapten Arsenal yang mengemas 30 gol di musim terakhirnya, memilih United. Di menit ke-3 laga Old Trafford November 2012, ia membobol gawang mantan klubnya dan menolak merayakan gol — sementara Evra menggandakan keunggulan sebelum Walcott memperkecil jarak di menit ke-90+5. Skor akhir 2-1 untuk United, dan di akhir musim Van Persie mempersembahkan gelar liga ke-20 bagi United dengan 26 gol dan Sepatu Emas. Arsenal? Kembali kehilangan kaptennya, kali ini dengan cara paling perih.

Babak Penutup: Ketika Data Tak Mampu Mengukur Loyalitas

Daftar itu belum lengkap tanpa nama Rio Ferdinand, yang meninggalkan Leeds ke United pada 2002 dengan rekor bek termahal Inggris 30 juta pound dan memicu pendukung Leeds merusak properti, serta Raheem Sterling yang menolak perpanjangan kontrak Liverpool demi City dengan nilai 49 juta pound pada 2015. Wayne Rooney bahkan sempat mengajukan transfer request ke United pada 2010 sebelum akhirnya mencabutnya dan menandatangani kontrak baru.

Dari kacamata taktik, keputusan-keputusan itu kerap masuk akal: formasi baru, peran baru, penguasaan bola yang lebih dominan, dan jumlah shots on target yang biasanya membaik setelah pindah ke tim yang lebih kaya. Namun sepak bola bukan sekadar matematika. Ketika penguasaan bola terbagi nyaris imbang dan duel berakhir dengan clean sheet yang ketat, yang diingat tribun adalah siapa yang berdiri di sisi mana saat derbi bergulir. Di era VAR yang memverifikasi setiap offside dan menganalisis setiap kartu, tak ada satu pun teknologi yang sanggup mengukur kadar pengkhianatan — hanya tribun, lagu cemoohan, dan kenangan menit ke-90+6 yang tersimpan selamanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User