[BALI, ACEH] — Bendungan Sidan dan Keureuto Diresmikan untuk Perkuat Ketahanan Air-Pangan

Di hamparan lembah yang kini berubah menjadi genangan air raksasa, Presiden Prabowo Subianto menekan tombol sirine. Dengungan panjang itu menandai satu bab

[BALI, ACEH] — Bendungan Sidan dan Keureuto Diresmikan untuk Perkuat Ketahanan Air-Pangan

Di hamparan lembah yang kini berubah menjadi genangan air raksasa, Presiden Prabowo Subianto menekan tombol sirine. Dengungan panjang itu menandai satu babak baru dalam sejarah pengelolaan sumber daya air Indonesia. Dua bendungan strategis—Bendungan Sidan di Bali dan Bendungan Keureuto di Aceh—resmi beroperasi setelah melalui proses pembangunan yang menelan waktu hingga bertahun-tahun. Keduanya adalah bagian dari lima bendungan yang diresmikan secara serentak oleh kepala negara, menegaskan komitmen pemerintah memperkuat fondasi ketahanan air dan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata.

Peresmian yang berlangsung pada Senin pagi itu tidak hanya dihadiri deretan menteri dan pejabat tinggi negara, tetapi juga masyarakat sekitar yang sejak awal telah menaruh harapan besar pada mega proyek ini. Mata para petani lanjut usia tampak berkaca-kaca saat air pertama kali dialirkan melalui saluran irigasi yang menghubungkan bendungan dengan lahan-lahan pertanian yang puluhan tahun mengandalkan tadah hujan.

Upacara Khidmat dari Dua Penjuru Negeri

Momen peresmian dipusatkan di Bendungan Margatiga, Lampung, namun berkat teknologi video konferensi, suasana haru dari Bendungan Sidan di Kabupaten Badung, Bali, dan Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara dapat dirasakan secara langsung. Di Sidan, puluhan pemangku adat Bali memimpin doa bersama, mengiringi suara gemercik air yang mulai mengisi tampungan raksasa berkapasitas 50,6 juta meter kubik. Sementara di Keureuto, ribuan warga Aceh Utara melantunkan selawat, mensyukuri hadirnya bendungan berkapasitas 216,4 juta meter kubik yang kini menjadi salah satu terbesar di Pulau Sumatra.

Brantas Abipraya: Bahu-Membahu Wujudkan Visi Besar

Di balik kemegahan struktur beton yang membentang ratusan meter itu, PT Brantas Abipraya (Persero) memainkan peran sentral. Badan usaha milik negara yang telah malang melintang di sektor konstruksi bendungan ini menjadi kontraktor utama bagi kedua proyek. Direktur Utama Brantas Abipraya, Sugeng Rochadi (nama ilustratif), dalam wawancara eksklusifnya menegaskan bahwa perusahaan tidak sekadar membangun infrastruktur fisik, melainkan menanam asa bagi masa depan.

“Bendungan Sidan dan Keureuto adalah wujud nyata bagaimana kami menerjemahkan visi ketahanan air menjadi aksi konkret. Kami tidak hanya menghitung volume beton atau luas genangan, tetapi membayangkan anak-anak petani yang kelak bisa bersekolah lebih tinggi karena hasil panen yang membaik,”

Pernyataan itu menegaskan bahwa proyek ini bukan semata urusan teknik sipil, melainkan proyek kemanusiaan yang melibatkan ratusan tenaga kerja lokal selama masa konstruksi. Di Sidan, Brantas Abipraya memberdayakan lebih dari 800 pekerja asal Bali, sementara di Keureuto, angka itu mencapai 1.200 tenaga kerja dari Aceh dan sekitarnya. Transfer pengetahuan terjadi secara organik: tukang batu lokal kini mahir membaca gambar teknik, operator alat berat perempuan mulai bermunculan, dan pemuda desa mendapatkan sertifikasi keselamatan kerja yang membekali mereka untuk proyek-proyek selanjutnya.

Air Mengalir, Pangan Mengikuti

Manfaat paling kasatmata dari kedua bendungan ini adalah peningkatan luas lahan irigasi. Bendungan Sidan dirancang untuk mengairi 1.329 hektare lahan pertanian di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan), yang selama ini rentan mengalami defisit air di musim kemarau. Dengan pasokan air yang lebih terjamin, indeks pertanaman padi di Bali selatan diproyeksikan meningkat dari satu kali setahun menjadi dua hingga tiga kali panen.

Sementara itu, Bendungan Keureuto menjadi jawaban atas jeritan petani di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe yang kerap bergulat dengan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Bendungan ini memiliki jaringan irigasi seluas 6.682 hektare, yang akan mengubah wajah pertanian pesisir timur Aceh. “Dulu kami menanam dengan doa, sekarang menanam dengan kepastian,” ujar seorang petani di Kecamatan Tanah Luas, saat menyaksikan pintu air intak bendungan dibuka.

Bukan Hanya untuk Sawah

Di luar fungsi irigasi, kedua bendungan juga menyediakan pasokan air baku bagi kebutuhan domestik dan industri. Sidan memikul tanggung jawab besar sebagai pemasok 1.750 liter air per detik untuk kawasan perkotaan Badung dan Denpasar yang terus berkembang pesat. Sementara Keureuto memasok 500 liter per detik air bersih bagi masyarakat Aceh Utara, sekaligus menjadi andalan Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe. Tak kalah penting, bendungan-bendungan ini berfungsi sebagai pengendali banjir. Keureuto, misalnya, sanggup mereduksi debit banjir hingga 1.047 meter kubik per detik—sebuah angka yang signifikan bagi wilayah yang kerap dilanda luapan Sungai Keureuto.

Rantai Ketahanan Pangan Nasional

Peresmian Bendungan Sidan dan Keureuto bukanlah episode terpisah, melainkan bagian dari rantai besar strategi ketahanan pangan nasional. Bersama Bendungan Margatiga di Lampung, Bendungan Leuwikeris di Jawa Barat, dan Bendungan Way Apu di Maluku yang juga diresmikan pada hari yang sama, total tambahan luas lahan irigasi dari lima bendungan itu mencapai puluhan ribu hektare. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menekankan bahwa air adalah urusan kedaulatan.

“Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada impor pangan jika air hujan dibiarkan mengalir begitu saja ke laut. Setiap bendungan yang kita resmikan hari ini adalah langkah mundurnya Indonesia dari ancaman krisis pangan global,”

Brantas Abipraya sendiri, sebagai kontraktor yang telah berkontribusi pada pembangunan lebih dari 60 bendungan di seluruh Indonesia, melihat momentum ini sebagai panggilan untuk terus berinovasi. Perusahaan kini mengembangkan teknologi bendungan yang tidak hanya menahan air, tetapi juga ramah lingkungan dan menjadi pusat konservasi keanekaragaman hayati. Kawasan hijau di sekitar genangan Sidan, misalnya, dirancang sebagai sabuk hijau yang menyerap karbon dan menjadi habitat burung endemik Bali.

Menatap Masa Depan dengan Optimisme Hati-Hati

Meski peresmian ini membawa angin segar, para ahli mengingatkan bahwa bendungan hanya satu mata rantai. Efektivitasnya sangat bergantung pada distribusi air yang adil, perawatan infrastruktur, dan kesiapan petani mengadopsi teknologi pertanian modern. Pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum, berjanji akan merampungkan jaringan irigasi tersier dan memberikan pendampingan agronomi secara berkelanjutan.

Di Dusun Blingoh, Desa Siki, Kecamatan Blang Pegayon, Gayo Lues, malam setelah peresmian, para petani berkumpul di meunasah. Mereka membicarakan jadwal tanam baru, jenis padi unggul, dan kemungkinan menjual gabah langsung ke koperasi. Ada harapan di mata mereka, harapan yang selama ini hanya muncul saat mendengar kumandang azan musim hujan. Kini, harapan itu mengalir bersama air Bendungan Keureuto.

Dari Bali hingga Aceh, dari sawah subak hingga persawahan pesisir, air menjadi saksi bahwa pembangunan adalah tentang menghidupkan, bukan sekadar mendirikan.

[SOCIAL_TWEET]: #Prabowo resmikan Bendungan Sidan dan Keureuto, dua infrastruktur air raksasa yang bikin petani di Bali dan Aceh tak lagi galau soal musim kemarau. #KetahananPangan #BrantasAbipraya [SOCIAL_TG]: 🔔 Bendungan Sidan & Keureuto Diresmikan! Dua bendungan strategis ini bakal jadi game-changer ketahanan pangan. Total irigasi 8.011 hektare, air baku 2.250 liter/detik. Salut buat Brantas Abipraya yang konsisten membangun bendungan berkualitas. #InfrastrukturIndonesia

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User