Argentina Singkirkan Swiss 2-1 di Perempat Final Dramatis
Stadion MetLife, New Jersey, menjadi saksi pertarungan sengit antara Argentina dan Swiss di babak perempat final Piala Dunia 2026. Skor akhir 2-1 memastikan langkah La Albiceleste ke semifinal, namun ...
Stadion MetLife, New Jersey, menjadi saksi pertarungan sengit antara Argentina dan Swiss di babak perempat final Piala Dunia 2026. Skor akhir 2-1 memastikan langkah La Albiceleste ke semifinal, namun perjuangan mereka jauh dari kata mudah. Gol cepat, kartu merah kontroversial, dan tekanan tanpa henti dari Swiss mewarnai 90 menit penuh drama.
Babak Pertama: Kejutan dan Gol Cepat
Belum genap dua menit pertandingan berjalan, Argentina sudah membuka keunggulan. Julián Álvarez memanfaatkan umpan terobosan brilian dari Enzo Fernández untuk melepaskan tembakan mendatar yang tak mampu dijangkau kiper Gregor Kobel. Gol tersebut tercatat sebagai gol tercepat Argentina sepanjang sejarah perempat final Piala Dunia, sekaligus pukulan telak bagi Swiss yang baru saja menyelesaikan pemanasan mental mereka.
Namun, respons Swiss sungguh mengejutkan. Alih-alih terpukul, tim asuhan Murat Yakin justru meningkatkan intensitas serangan. Penguasaan bola pada 15 menit pertama menunjukkan dominasi mengejutkan: Swiss unggul 58% berbanding 42%. Formasi 3-4-3 andalan Yakin terbukti efektif mempersempit ruang gerak Lionel Messi yang dipasang sebagai false nine dalam starting XI Argentina.
Menit ke-18, petaka bagi Argentina. Bek tengah Cristian Romero menerima kartu kuning kedua setelah melanggar Noah Okafor di tepi kotak penalti. Wasit asal Prancis, Clément Turpin, tak ragu mengeluarkan kartu merah setelah meninjau tayangan VAR. Argentina harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-19, memaksa pelatih Lionel Scaloni menarik keluar Nico González dan memasukkan Lisandro Martínez untuk memperkuat lini belakang.
Swiss memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dengan cerdik. Menit ke-34, umpan silang matang Ruben Vargas dari sisi kanan berhasil ditanduk Breel Embolo ke sudut jauh gawang Emiliano Martínez. Skor 1-1. Embolo, yang tampil sebagai target man tunggal, menunjukkan naluri predatornya dengan pergerakan tanpa bola yang sulit diantisipasi barisan pertahanan Argentina. Babak pertama ditutup dengan statistik shots on target 4-2 untuk keunggulan Swiss.
Babak Kedua: Momen Ajaib di Tengah Tekanan
Memasuki babak kedua, Swiss melanjutkan dominasi mereka. Tercatat, 15 menit pertama paruh kedua, Swiss mencatatkan lima attempts ke gawang Emiliano Martínez, dua di antaranya memaksa kiper Aston Villa itu melakukan penyelamatan gemilang. Penguasaan bola Swiss mencapai 62% hingga menit ke-70, menunjukkan betapa superiornya mereka dalam penguasaan lini tengah berkat trio Granit Xhaka, Denis Zakaria, dan Fabian Rieder.
Argentina, yang terpaksa bermain lebih defensif, mengandalkan serangan balik cepat. Messi, meski minim sentuhan bola, tetap menjadi ancaman serius setiap kali berhasil lolos dari kawalan bek Swiss. Menit ke-72, sebuah momen yang mengubah segalanya terjadi. Bermula dari intersep brilian Rodrigo De Paul di lini tengah, bola dialirkan ke Messi yang langsung mengirim umpan terobosan kepada Ángel Di María. Sayap veteran itu menusuk dari sisi kiri, melewati satu bek, dan melepaskan tembakan melengkung yang menghujam sudut atas gawang Kobel. Gol. Argentina unggul 2-1.
Swiss merespons dengan meningkatkan tekanan hingga level maksimal. Yakin memasukkan dua penyerang tambahan: Zeki Amdouni dan Andi Zeqiri, mengubah formasi menjadi 3-3-4 yang sangat ofensif. Sepuluh menit terakhir menjadi neraka bagi pertahanan Argentina. Total shots Swiss mencapai 18, dengan 8 di antaranya tepat sasaran. Sementara Argentina hanya mencatatkan 3 shots on target sepanjang laga, namun dua di antaranya berbuah gol — efisiensi yang mematikan.
Menit ke-88, keajaiban terjadi. Sebuah kemelut di depan gawang Argentina menghasilkan tembakan Xhaka yang membentur mistar gawang. Bola muntah disambar Embolo, tetapi Emiliano Martínez melakukan penyelamatan refleks menggunakan ujung jari. Aksi heroik ini mengingatkan publik pada performa gemilangnya di final Piala Dunia 2022 melawan Prancis.
"Kami tahu Swiss adalah tim yang sangat terorganisir dan berbahaya. Bermain dengan 10 pemain melawan mereka adalah ujian terberat. Tapi semangat dan karakter pemain saya luar biasa. Emiliano Martínez? Dia alien. Dia bukan manusia," ujar Scaloni dalam konferensi pers pasca pertandingan.
Statistik Kunci dan Jalan Menuju Semifinal
Pertandingan ini menghasilkan catatan menarik dari sisi data dan statistik. Argentina hanya mencatatkan penguasaan bola 37%, terendah sepanjang partisipasi mereka di Piala Dunia 2026. Namun, akurasi operan mereka mencapai 84%, menunjukkan kualitas teknis tinggi meski berada di bawah tekanan konstan. Swiss, sebaliknya, mencatatkan 521 operan sukses berbanding 289 milik Argentina — dominasi yang tak berbuah kemenangan.
Lionel Messi, yang tampil dalam 90 menit penuh, hanya mencatatkan 43 sentuhan bola. Namun, kontribusinya tak terbantahkan: satu assist krusial, dua key passes, dan akurasi dribel 100% dari empat percobaan. Sementara Di María, pencetak gol kemenangan, membuktikan dirinya masih menjadi pemain besar di momen-momen krusial meski kini berusia 38 tahun.
Kemenangan ini membawa Argentina melaju ke semifinal, menunggu pemenang laga antara Brasil dan Jerman. Dengan performa heroik dan mental baja yang ditunjukkan melawan Swiss, La Albiceleste semakin meyakinkan diri sebagai kandidat kuat juara. Namun, absennya Romero di laga semifinal akibat akumulasi kartu merah menjadi kerugian besar yang harus segera dicarikan solusi oleh Scaloni.
Bagi Swiss, kekalahan ini menjadi akhir dari perjalanan impresif mereka. Yakin telah membangun tim yang tak hanya solid secara defensif, tetapi juga berani dan efektif dalam menyerang. Kegagalan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain akan menjadi penyesalan abadi, namun penampilan mereka layak mendapatkan standing ovation dari para pendukung yang memadati MetLife Stadium malam itu.
Comments (0)