Argentina Kuasai Tahta Dunia 2026 Lewat Drama 2-1 atas Spanyol

Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Spanyol di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, pada 20 Juli 2026 dini hari WIB, langsung mengubah raut para pemain yang tadinya tegang menjadi tangisan ha...

Argentina Kuasai Tahta Dunia 2026 Lewat Drama 2-1 atas Spanyol

Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Spanyol di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, pada 20 Juli 2026 dini hari WIB, langsung mengubah raut para pemain yang tadinya tegang menjadi tangisan haru saat upacara medali. Satu per satu dari starting XI hingga pemain cadangan menundukkan kepala menerima kalung emas, lalu secara serempak mengangkat tangan ke langit saat kapten Lionel Messi mencium trofi Piala Dunia ketiga dalam sejarah Argentina. Momen itu bukan sekadar seremoni, melainkan puncak laga 120 menit yang menguji daya tahan fisik, taktik, dan mental dua raksasa sepak bola dunia.

Di bawah guyuran confetti emas, nyanyian “Muchachos” membahana di tribun stadion berkapasitas 82.500 penonton itu. Para pemain Argentina berdiri tegap dengan medali yang sudah menggantung di dada, menyaksikan bendera Albiazul biru-putih perlahan naik diiringi lagu kebangsaan. Di belakang mereka, papan skor elektronik masih menampilkan angka final 2-1, seolah ingin terus mengingatkan betapa sengitnya 90 menit waktu normal plus babak tambahan yang baru saja usai.

Babak Pertama: Serangan Cepat Spanyol dan Balasan Klinis Argentina

Sejak peluit pertama wasit asal Inggris, Anthony Taylor, Spanyol langsung memainkan formasi 4-3-3 andalan Luis de la Fuente. Mereka berusaha mendominasi lini tengah dengan trio Pedri, Gavi, dan Rodri yang memutar bola lewat umpan-umpan pendek rapat. Statistik penguasaan bola di 20 menit awal menunjukkan angka 61,2% untuk La Roja, sementara Argentina hanya 38,8%. Namun, efektivitas serangan justru milik tim asuhan Lionel Scaloni.

Menit ke-23, serangan balik mematikan lahir dari kaki kiri Alejandro Garnacho yang menusuk dari sisi kiri. Ia melewati dua bek lalu mengirim umpan tarik rendah ke mulut gawang. Di sana, Julian Alvarez yang sudah lepas dari kawalan Aymeric Laporte langsung menyontek bola dengan satu sentuhan akurat ke pojok kanan bawah. Tembakan tepat sasaran pertama Argentina itu langsung berbuah gol, skor sementara 1-0. Gol tersebut adalah gol kelima Alvarez sepanjang turnamen, menjadikannya topskor Argentina di Piala Dunia 2026.

Spanyol tidak butuh waktu lama untuk merespons. Menit ke-31, sundulan Lamine Yamal hampir menyamakan kedudukan setelah memanfaatkan crossing Dani Olmo, tapi kiper Emiliano Martinez berhasil menepis dengan ujung jarinya. Skema sepak pojok pendek yang kerap dimainkan Spanyol pun mulai merepotkan pertahanan Argentina yang digalang Cristian Romero dan Lisandro Martinez. Meski begitu, hingga turun minum skor 1-0 bertahan. Shots on target babak pertama: Spanyol 3, Argentina 2.

Babak Kedua: Gol Penyeimbang, VAR, dan Drama Hingga Babak Tambahan

Memasuki babak kedua, Scaloni menginstruksikan timnya untuk bertahan lebih dalam dan mengandalkan transisi ofensif cepat. Namun, tekanan Spanyol semakin menggila. Menit ke-59, serangan dari sisi kanan yang diorkestrasi Yamal berujung tembakan keras Gavi di dalam kotak penalti. Bola membentur tangan Romero yang sedikit melebar. Taylor sempat mengecek VAR dan menunjuk titik putih. Kapten Alvaro Morata maju sebagai eksekutor. Dengan dingin, ia mengarahkan bola ke sudut kiri bawah, sementara Martinez sudah memilih sisi lain. Skor menjadi 1-1. Possession Spanyol pada menit 70 sudah menyentuh 67% dengan total 13 percobaan tembakan, 6 di antaranya mengarah ke gawang.

Setelah gol penyama, laga berubah menjadi pertarungan fisik. Tiga kartu kuning keluar dalam rentang 10 menit, masing-masing untuk Enzo Fernandez (pelanggaran taktis), Laporte (menjegal Alvarez), dan Yamal (protes berlebihan). Argentina nyaris mencetak gol di menit 78 lewat sundulan Messi yang memanfaatkan tendangan bebas, namun Varane (dalam skenario ini kita biarkan saja nama asli, sebut saja Unai Simon) melakukan penyelamatan gemilang. Hingga 90 menit usai, skor tetap 1-1 dan babak tambahan harus dimainkan.

Babak Tambahan: Gol Emas Lautaro Martinez dan Analisis Taktik

Kelelahan mulai terlihat di kedua kubu, tapi rotasi pemain yang dilakukan Scaloni terbukti menjadi kunci. Masuknya Lautaro Martinez menggantikan Alvarez di menit 98 menyegarkan lini depan. Hanya berselang 6 menit, tepatnya menit ke-104, Martinez mencetak gol yang akan diingat selamanya. Berawal dari tekel bersih Mac Allister di lini tengah, bola cepat didorong kepada Messi yang menarik tiga pemain Spanyol. Dengan visi super, Messi melepaskan through ball terobosan kepada Martinez yang berdiri di batas offside — VAR mengonfirmasi ia berada 2 cm lebih maju dari Dani Carvajal, namun asisten wasit awal menganggapnya sah dan review pun mengesahkannya. Lautaro kemudian dengan tenang mengecoh kiper sebelum menceploskan bola ke gawang kosong. Gol emas ini adalah assist ke-9 Messi dalam partai final sepanjang kariernya.

Spanyol yang tengah mengejar kembali melakukan pergantian agresif, memasukkan Nico Williams dan Joselu. Namun, blok rendah Argentina yang dijaga ketat Romero dan Lisandro tidak bisa ditembus. Hingga peluit panjang tanda berakhirnya babak tambahan, Spanyol hanya menambah satu shot on target dari sundulan Joselu yang melambung. Total shots on target laga berhenti di angka 7 untuk Spanyol dan 5 untuk Argentina, namun efektivitas Albiceleste yang 40% jauh melampaui akurasi 21% kubu lawan.

Kutipan: Scaloni Beri Penghormatan

“Ini bukan kemenangan saya atau Messi. Ini kemenangan 26 pemain yang tidak pernah lelah percaya. Lautaro adalah striker penentu yang kami butuhkan dalam momen terberat. Bagi saya, trofi ini adalah bukti bahwa Argentina bisa bertransformasi dari tim yang hanya mengandalkan satu bintang menjadi kolektif baja,” ujar pelatih Lionel Scaloni dalam konferensi pers pasca-pertandingan, dengan mata berkaca-kaca.

Di sisi lain, kubu Spanyol menolak menyalahkan keputusan VAR. Pelatih De la Fuente mengapresiasi kerja keras para pemainnya dan menegaskan bahwa tim muda ini akan kembali menantang di edisi 2030. Namun malam itu, sorotan tetap milik Argentina yang tidak hanya memenangkan laga, tetapi juga perang taktik: formasi 4-2-4 saat menyerang dan kembali ke 5-3-2 saat bertahan membuktikan fleksibilitas tinggi yang menjadi ciri khas juara.

Upacara medali yang sempat tertunda hujan confetti emas itu menjadi penutup sempurna. Setiap pemain — dari kiper Martinez yang meraih clean sheet di semifinal hingga pemain pengganti seperti Exequiel Palacios — dikalungi medali emas oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino. Trofi berbentuk dewi kemenangan diangkat Messi, lalu roket kembang api warna-warni menembus langit New Jersey. Statistik turnamen mencatat Argentina sebagai tim dengan defensive duel terbaik (73% duel dimenangkan) dan clearances terbanyak di fase gugur. Mereka pulang bukan hanya dengan medali, tetapi dengan kenangan yang akan terukir abadi di hati setiap pendukung di Buenos Aires hingga pelosok negeri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User