Apple Gugat OpenAI atas Dugaan Pembajakan 400 Karyawan dan Pencurian Rahasia
Cupertino, California — Apple Inc. resmi melayangkan gugatan hukum terhadap OpenAI di Pengadilan Distrik Federal California Utara pada Kamis (8/4/2026). Da
Cupertino, California — Apple Inc. resmi melayangkan gugatan hukum terhadap OpenAI di Pengadilan Distrik Federal California Utara pada Kamis (8/4/2026). Dalam dokumen gugatan setebal 128 halaman, raksasa teknologi yang bermarkas di Cupertino itu menuding pembuat ChatGPT telah melakukan kampanye pembajakan karyawan secara sistematis yang melibatkan lebih dari 400 mantan insinyur dan eksekutif, dengan tujuan mencuri rahasia dagang bernilai miliaran dolar di bidang pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan prosesor kustom. Kasus ini menandai eskalasi besar dalam perang talenta dan properti intelektual antara dua pemain dominan di industri teknologi global.
Kronologi Eksodus Massal dan Dugaan Pencurian Rahasia Dagang
Berdasarkan dokumen pengadilan yang diperoleh tim redaksi, Apple merinci rangkaian peristiwa yang terjadi secara bertahap sejak awal 2024 hingga gugatan diajukan pada April 2026. Pihak Apple mengklaim memiliki bukti komunikasi internal, rekaman transfer data mencurigakan, dan kesaksian yang menunjukkan adanya pola rekrutmen agresif yang disertai instruksi untuk mengakses dan membawa informasi rahasia.- Januari–Maret 2024: Apple mulai mencatat lonjakan tingkat pengunduran diri di divisi Neural Engine & Custom Silicon. Sebanyak 47 insinyur kunci, termasuk tiga anggota inti tim arsitektur chip A-series dan M-series, mengajukan resign dalam waktu tiga bulan. Penyelidikan internal menemukan bahwa 39 di antaranya menerima tawaran dari OpenAI atau entitas afiliasi yang baru dibentuk.
- April–Agustus 2024: Jumlah karyawan yang hengkang meningkat menjadi 118 orang. Beberapa di antaranya adalah perancang senior yang memiliki akses ke cetak biru prosesor generasi berikutnya, termasuk arsitektur “NeuralCore X1” yang belum diumumkan ke publik. Tim keamanan Apple mendeteksi aktivitas unggahan data dalam jumlah besar ke penyimpanan cloud pribadi oleh tujuh mantan pegawai pada jam-jam terakhir sebelum mereka menyerahkan perangkat perusahaan.
- September 2024–Februari 2025: Eksodus berlanjut dengan total kumulatif mencapai 290 mantan karyawan. Apple mendokumentasikan bahwa setidaknya 200 di antaranya bergabung dengan OpenAI dalam berbagai peran strategis. Sisanya tersebar di startup AI yang didanai oleh investor yang sama dengan OpenAI, menimbulkan dugaan adanya jaringan rekrutmen terkoordinasi. Kerugian awal yang dihitung dari biaya pelatihan ulang dan penundaan proyek ditaksir mencapai US$ 1,2 miliar.
- Maret–Desember 2025: Jumlah eks karyawan yang direkrut OpenAI menembus angka 412 orang. Apple kemudian melakukan audit forensik mendalam dan menemukan bahwa 32% di antaranya masih memiliki akses tidak sah ke sistem internal hingga 90 hari setelah resign. Investigasi juga mengidentifikasi pola komunikasi terenkripsi antara para mantan karyawan dan perekrut OpenAI melalui aplikasi pesan yang sulit dilacak.
- Januari 2026: Apple mengirimkan somasi kepada OpenAI, menuntut penghentian penggunaan informasi rahasia dan pengembalian dokumen. OpenAI tidak memberikan respons substantif. Tim hukum Apple kemudian menemukan bahwa setidaknya dua paten yang diajukan OpenAI pada Desember 2025 memiliki kemiripan substansial dengan teknologi yang dikembangkan oleh tim Neural Engine Apple.
- 8 April 2026: Gugatan resmi diajukan ke pengadilan federal. Apple menuntut ganti rugi lebih dari US$ 5 miliar, perintah pengadilan untuk menghentikan penggunaan rahasia dagang, serta larangan bagi OpenAI untuk merekrut karyawan Apple selama 5 tahun ke depan.
Gugatan: Taktik Rekrutmen Agresif atau Spionase Korporasi?
Dalam gugatannya, Apple menyusun narasi yang jauh lebih serius dari sekadar persaingan memperebutkan talenta. Perusahaan yang dipimpin Tim Cook itu menuduh OpenAI menerapkan strategi “hack-and-hire”, yaitu merekrut karyawan bukan semata-mata karena keahlian mereka, melainkan demi mendapatkan akses langsung ke pengetahuan internal dan rahasia dagang yang melekat pada individu tersebut. Beberapa poin kunci dalam dakwaan Apple antara lain:- Paket kompensasi abnormal: OpenAI disebut menawarkan gaji pokok rata-rata 2,5 kali lipat dari standar Apple, dengan bonus penandatanganan kontrak mencapai US$ 3 juta untuk insinyur level senior. Beberapa mantan karyawan mengaku dijanjikan opsi saham yang akan bernilai besar jika OpenAI berhasil mengkomersialkan teknologi turunan dari pengetahuan yang mereka bawa.
- Pengabaian klausul non-kompetisi: Meskipun kontrak kerja di Apple memuat klausul larangan bekerja di perusahaan pesaing selama 18 bulan setelah pengunduran diri, OpenAI secara aktif mendorong para rekrutan baru untuk mengabaikan klausul tersebut dan menawarkan perlindungan hukum penuh jika digugat.
- Proyek rahasia "AcquireX": Apple mengklaim memiliki bukti dokumen internal OpenAI yang merujuk pada inisiatif bernama kode "AcquireX"—sebuah program yang diduga dirancang untuk mengidentifikasi dan merekrut insinyur Apple yang memegang informasi tentang arsitektur chip terbaru dan algoritma pembelajaran mesin milik Apple.
- Transfer data terstruktur: Forensik digital Apple mengungkap bahwa beberapa mantan karyawan menggunakan perangkat penyimpanan eksternal yang tidak terdaftar untuk mengunduh repositori kode lengkap sebelum meninggalkan perusahaan. Total volume data yang dicurigai bocor mencapai lebih dari 6 terabita, mencakup diagram skematik, kode sumber, dan dokumen spesifikasi teknis.
Comments (0)