10 Momen Pengkhianatan Terbesar dalam Sejarah Sepak Bola Inggris

Menit ke-90+6 di Old Trafford, 20 September 2009, menjadi salah satu bingkai paling ikonik dalam sejarah derbi Manchester. Michael Owen — striker yang empat bulan sebelumnya pindah gratis ke Manches...

10 Momen Pengkhianatan Terbesar dalam Sejarah Sepak Bola Inggris

Menit ke-90+6 di Old Trafford, 20 September 2009, menjadi salah satu bingkai paling ikonik dalam sejarah derbi Manchester. Michael Owen — striker yang empat bulan sebelumnya pindah gratis ke Manchester United setelah lama membela Liverpool — menerima umpan dari Ryan Giggs lalu melepaskan penyelesaian kaki kanan yang menaklukkan Shay Given. Skor akhir 4-3 untuk tuan rumah, dan para suporter di kedua sisi kota langsung paham: di Inggris, kepindahan pemain ke musuh bebuyutan bukan sekadar transfer, melainkan deklarasi perang. Sepanjang era Premier League, setidaknya ada sepuluh kisah yang melegenda — sebagian berujung trofi, sebagian lagi berujung hujan ejekan, kostum terbakar, dan label pengkhianat yang menempel seumur hidup.

Kelas 2001–2006: Saat London Utara Terbelah

Pada Juli 2001, Sol Campbell menjadi nama paling dibenci di Tottenham Hotspur. Bek tengah berusia 26 tahun itu memilih hengkang secara gratis lewat aturan Bosman — dan tujuannya bukan Real Madrid, melainkan Arsenal, rival terbesar Spurs di London Utara. Tribun White Hart Lane sejak itu rutin meneriakkan kata “Judas” setiap ia kembali. Statistik membela pilihannya: di Arsenal, Campbell memenangkan dua gelar Premier League, tiga Piala FA, dan menjadi tembok utama skuad “Invincibles” musim 2003-04 yang menuntaskan liga tanpa kekalahan. Bagi suporter Spurs, angka-angka itu bukan penghiburan, melainkan bukti pengkhianatan paling menyakitkan.

Lima tahun kemudian giliran Ashley Cole yang pindah ke sisi berlawanan London. Ia menyeberang dari Arsenal ke Chelsea pada 2006 dalam paket pertukaran dengan William Gallas, dengan julukan “Cashley” yang melekat karena isu tawaran gaji. Statistiknya bicara: Cole memenangkan Premier League 2009-10 dan mencatatkan puncak karier di final Liga Champions 2012, ketika ia sukses mengeksekusi penalti dalam adu tos-tosan melawan Bayern Munich. Namun bagi fans Arsenal, dua gelar itu tak pernah menghapus rasa perih.

Derbi Manchester: Poster, Hat-trick, dan Gol di Menit Akhir

Wayne Rooney memulai semuanya pada 2004. Pindah dari Everton ke Manchester United di usia 18 tahun, ia langsung mencetak hat-trick pada debutnya melawan Fenerbahce di Liga Champions — laga yang dimenangkan 6-2, dengan United menurunkan formasi 4-4-2 dan nama Rooney di starting XI berdampingan dengan Ruud van Nistelrooy. Enam tahun kemudian cerita berubah arah: pada Oktober 2010 Rooney mengajukan permintaan transfer di tengah rumor tawaran besar dari Manchester City. Suporter Everton yang membakar kostumnya pada 2004 hanya bisa menggeleng — kali ini giliran fans United yang menahan napas sebelum sang striker meneken kontrak baru hanya berselang beberapa hari.

Carlos Tevez memilih jalur lebih terang-terangan. Setelah dua gelar liga dan final Liga Champions 2008 bersama United — ia turut mengeksekusi penalti dalam adu tos-tosan melawan Chelsea di Moskow — sang striker menyeberang ke Manchester City pada 2009. Poster raksasa “Welcome to Manchester” yang membelah kota menjadi biru dan merah langsung terpasang di jantung kota. Puncaknya di Wembley: final Piala FA 2011, nama Tevez menghiasi starting XI City, dan gol tunggalnya membawa trofi pertama klub dalam 35 tahun, dengan Joe Hart mencatatkan clean sheet.

Michael Owen, seperti Rooney, memilih klub merah. Pada 2009 ia pindah gratis ke United setelah kariernya meredup — dan membalas keraguan dengan gol penentu di menit ke-90+6 pada derbi melawan City, berkat assist Ryan Giggs. Dalam laga sengit itu, penguasaan bola sempat berganti-ganti dan shots on target kedua tim nyaris berimbang, tetapi naluri pembunuh Owen-lah yang memutus segalanya. Suporter Liverpool menyebutnya bab terburuk dari kisah “kuda Troya”.

Dari London ke Manchester: Dua Pemain Arsenal yang Berbalik Arah

Pada 12 September 2009, Emmanuel Adebayor menuliskan salah satu adegan paling kontroversial dalam sejarah Premier League. Menghadapi Arsenal — klub yang memberinya lebih dari 60 gol dalam 142 penampilan — striker asal Togo itu mencetak gol dalam kemenangan 4-2 Manchester City, lalu berlari sepanjang lapangan dan meluncur di depan suporter Arsenal. Ia bahkan menginjak wajah Robin van Persie dalam insiden yang lolos dari hukuman langsung; di laga yang diwarnai sejumlah kartu kuning itu, tanpa VAR, keputusan offside dan pelanggaran sepenuhnya berada di tangan wasit. Hukuman datang belakangan: tiga laga larangan bermain. Skor akhir 4-2 mungkin terlupakan, tetapi selebrasi itu abadi.

Robin van Persie menyusul pada 2012 dengan transfer senilai 24 juta pound ke Manchester United, dan langsung memenangkan Premier League di musim pertamanya dengan 26 gol dan Sepatu Emas. Ketika ia kembali ke Old Trafford melawan Arsenal, golnya pada menit ke-67 membawa skor akhir 2-1 — dan ia memilih tidak merayakan. Sikap itu dianggap penghormatan, tetapi fans Arsenal tetap merasakannya seperti pisau yang berputar dua kali.

Era VAR: Torres, Sterling, dan Kane

Fernando Torres menjadi contoh betapa mahalnya pengkhianatan. Liverpool menjualnya ke Chelsea seharga 50 juta pound pada Januari 2011, tetapi penampilannya merosot drastis — termasuk melewatkan peluang emas satu lawan satu melawan United pada Maret 2011. Gol pertamanya untuk Chelsea baru lahir pada April melawan West Ham. Meski akhirnya mengangkat trofi Liga Champions 2012 dan Liga Europa 2013, versi terbaik Torres tetap tertinggal di Anfield.

Raheem Sterling meninggalkan Liverpool menuju Manchester City pada 2017 dengan nilai 49 juta pound, dan memenangkan empat gelar Premier League beruntun dari 2018 hingga 2021 — statistik yang membuat kepindahannya tampak masuk akal, tetapi tidak bagi suporter yang pernah menyebutnya “generasi emas”. Harry Kane menutup daftar ini: setelah saga transfer ke Manchester City pada 2021 batal, ia akhirnya pindah ke Bayern Munich pada 2023 dengan 36 gol Bundesliga di musim pertamanya — tanpa satu trofi pun. Dalam sepak bola Inggris, terkadang statistik terbaik justru menjadi hukuman paling pedih: loyalitas memang tak pernah bisa dihitung dengan angka, tetapi ia selalu dihakimi oleh tribun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User