Waketum PBNU Zulfa Mustofa Dorong Santri Jadi Pelaku Ekonomi Umat

JOMBANG — Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa menegaskan bahwa transformasi ekonomi pesantren harus menjadi prioritas u

Waketum PBNU Zulfa Mustofa Dorong Santri Jadi Pelaku Ekonomi Umat

JOMBANG — Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa menegaskan bahwa transformasi ekonomi pesantren harus menjadi prioritas utama di era modern. Hal itu disampaikan dalam forum “Penguatan Kemandirian Pesantren Se-Jawa Timur” yang digelar di Tebuireng, Jombang, Kamis (18/7/2024). Ratusan kiai, pengasuh pesantren, dan pelaku usaha santri hadir meramaikan acara yang berlangsung satu hari penuh itu.

Jalannya Forum Kemandirian Pesantren

Mengutip pantauan langsung Beritainti.com, forum tersebut berjalan dengan struktur yang sistematis. Berikut kronologi acara:

  1. Registrasi dan Coffee Morning (08.00–09.00 WIB) – Peserta dari berbagai kabupaten di Jawa Timur mulai memadati Aula KH Hasyim Asy’ari. Mereka disambut dengan pameran produk unggulan koperasi pesantren, mulai dari air minum kemasan hingga fesyen muslim.
  2. Pembukaan dan Pembacaan Ayat Suci (09.00–09.30 WIB) – Acara resmi dibuka oleh tuan rumah, KH Abdul Hakim Mahfudz, yang menyampaikan latar belakang perlunya penguatan ekonomi umat berbasis pesantren.
  3. Sesi Panel I: Tantangan Ekonomi Pesantren (09.30–11.00 WIB) – Menghadirkan akademisi dan praktisi koperasi yang membedah data ketimpangan aset wakaf dan potensi bisnis yang belum tergarap.
  4. Pidato Kunci KH Zulfa Mustofa (11.15–12.30 WIB) – Sebagai narasumber utama, Kiai Zulfa menyampaikan visi besar PBNU tentang kemandirian ekonomi pesantren. Pidatonya yang berdurasi lebih dari satu jam memicu diskusi hangat dari para peserta.
  5. Sesi Tanya Jawab dan Rencana Tindak Lanjut (13.00–14.30 WIB) – Forum melahirkan sejumlah poin rekomendasi yang akan dibawa ke Rapat Kerja Nasional PBNU mendatang.

Pesantren Harus Menjadi Pusat Produksi, Bukan Sekadar Konsumen

Dalam pidatonya, Kiai Zulfa menyampaikan keprihatinan mendalam bahwa sebagian besar pesantren masih bergantung pada donasi dan sumbangan pihak luar. Padahal, menurut data yang ia kutip dari Kementerian Agama, terdapat lebih dari 28.000 pesantren di Indonesia dengan total santri mencapai 4,5 juta jiwa — sebuah potensi ekonomi yang sangat besar jika dikelola dengan serius.

"Dulu koperasi pesantren hanya jual kopi dan sabun. Sekarang saatnya koperasi pesantren punya unit bisnis pabrik, punya ritel modern, punya marketplace sendiri. Santri jangan hanya pandai mengaji, tapi juga harus pandai mengelola neraca keuangan. Karena kemandirian ekonomi adalah bagian dari jihad kebangsaan kita," ujar Kiai Zulfa dengan penuh semangat.

Ia mengisahkan praktik Rasulullah SAW dan para sahabat yang mayoritas adalah pedagang dan pengusaha sukses. Menurutnya, stigma bahwa bisnis itu duniawi dan tidak mulia harus dihapus dari kalangan santri. Justru dengan kekuatan ekonomi, pesantren bisa membiayai dakwah dan pendidikan tanpa harus bergantung pada kekuatan politik atau kapital tertentu.

Lima Pilar Kemandirian Ekonomi Pesantren

Untuk mewujudkan visi tersebut, Kiai Zulfa memperkenalkan Lima Pilar Kemandirian Ekonomi Pesantren yang ia gagas bersama tim revitalisasi ekonomi PBNU:

  • Pilar Kelembagaan – Setiap pesantren harus memiliki badan usaha legal berbadan hukum koperasi atau PT yang transparan dan profesional.
  • Pilar Sumber Daya Manusia – Pelatihan intensif bagi santri tentang kewirausahaan, manajemen, dan keuangan syariah melalui kurikulum terintegrasi.
  • Pilar Permodalan – Sinergi dengan perbankan syariah, Lembaga Amil Zakat, dan skema wakaf produktif untuk permodalan awal unit usaha.
  • Pilar Pemasaran – Membangun jejaring pasar yang luas dengan memanfaatkan aplikasi digital dan kerja sama B2B dengan pelaku usaha nasional.
  • Pilar Keberlanjutan – Menerapkan prinsip green economy dan tata kelola lingkungan agar bisnis pesantren tidak merusak alam sekitar.
"Kalau semua pesantren punya unit usaha yang sehat, maka kemiskinan yang sering menjadi stigma umat Islam akan bisa kita patahkan. Kita tunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memuliakan kerja keras dan profesionalisme," jelasnya.

Antusiasme Peserta dan Komitmen Tindak Lanjut

Forum ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga menghasilkan komitmen nyata. Sebanyak 15 pesantren besar di Jawa Timur menandatangani nota kesepakatan untuk membentuk konsorsium bisnis pesantren di bawah pendampingan PBNU. Konsorsium ini rencananya akan merintis usaha di sektor air minum dalam kemasan, peternakan terintegrasi, dan industri halal fashion.

Ny Hj Nurul Faizah, pengelola unit usaha di Pondok Pesantren putri wilayah Kediri, mengaku sangat terinspirasi. "Selama ini kami hanya menjalankan koperasi secara tradisional. Setelah mendengar paparan Kiai Zulfa, kami jadi paham bahwa pesantren bisa naik kelas menjadi korporasi besar tanpa kehilangan ruh pesantren itu sendiri," katanya kepada Beritainti.com.

Di penghujung acara, Kiai Zulfa mengajak semua pihak untuk menjadikan momentum ini sebagai awal kebangkitan ekonomi umat yang digerakkan oleh pesantren. Ia mengingatkan bahwa perjuangan NU tidak hanya soal menjaga akidah dan tradisi, tetapi juga memberdayakan umat secara ekonomi agar memiliki martabat dan kedaulatan di negeri sendiri.

[SOCIAL_TWEET]: Pesantren harus jadi pusat produksi, bukan cuma konsumen! KH Zulfa Mustofa luncurkan 5 pilar kemandirian ekonomi pesantren agar santri tak lagi bergantung donasi. 15 pesantren Jatim langsung bentuk konsorsium bisnis. Keren! #EkonomiPesantren #NU #SantriEntrepreneur[SOCIAL_TG]: 🚀 *Kiai Zulfa Ajak Santri Jadi Pengusaha* : Lima pilar kemandirian ekonomi pesantren dilaunching di Tebuireng. 15 pesantren langsung siapkan konsorsium bisnis. Waktunya koperasi pesantren naik kelas! 📈

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User