USSF Ikut Gerbong UEFA, Infantino Kian Tertekan di Puncak FIFA
Peluit panjang telah ditiup di arena politik sepak bola dunia, dan skor akhir babak ini terasa menyesakkan bagi Gianni Infantino: dua kekuatan besar kini berada di seberangnya. Federasi Sepak Bola Ame...
Peluit panjang telah ditiup di arena politik sepak bola dunia, dan skor akhir babak ini terasa menyesakkan bagi Gianni Infantino: dua kekuatan besar kini berada di seberangnya. Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (USSF) resmi mengambil sikap menentang Presiden FIFA tersebut, mengikuti jalur yang lebih dulu dibuka UEFA. Bagi Infantino, ini seperti kebobolan dua gol dalam waktu berdekatan — dan pertandingan belum selesai.
Langkah USSF ini bukan keputusan sembarangan. Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko, sekaligus penyelenggara Piala Dunia Antarklub 2025, Amerika Serikat seharusnya menjadi sekutu paling strategis FIFA. Namun yang terjadi justru sebaliknya: federasi negeri Paman Sam itu memilih masuk ke gerbong oposisi yang dikomandoi UEFA. Satu assist politik dari Eropa, satu penyelesaian dari Amerika — pertahanan Infantino robek.
Babak Pertama: Akar Konflik yang Memanas
Ketegangan antara badan sepak bola Eropa dan Infantino sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir. Titik didihnya muncul dari serangkaian keputusan FIFA yang dinilai sepihak: perluasan Piala Dunia Antarklub menjadi 32 tim dengan 63 pertandingan, penambahan peserta Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim dan 104 laga, hingga padatnya kalender internasional yang membuat pemain seperti dipaksa bermain tanpa jeda.
Data beban kerja pemain memang mengkhawatirkan. Sejumlah bintang top Eropa kini bisa menjalani lebih dari 70 pertandingan kompetitif dalam satu musim jika klubnya melaju jauh di semua kompetisi. FIFPRO, serikat pemain dunia, berulang kali mengibarkan kartu kuning soal risiko cedera dan kelelahan ekstrem. UEFA menangkap sinyal itu dan menekan FIFA agar lebih transparan serta melibatkan stakeholder dalam setiap keputusan besar.
Namun menit demi menit berlalu, komunikasi itu macet. UEFA merasa suaranya hanya menjadi statistik penguasaan bola tanpa shots on target — banyak menguasai diskusi, nol gol kebijakan. Dari sinilah perlawanan terbuka mulai dirancang, sebelum akhirnya menyeberangi Atlantik.
Data yang Bicara: Mengapa USSF Akhirnya Bergerak
Dari sisi finansial, FIFA sebenarnya sedang berada di performa puncak. Proyeksi pendapatan untuk siklus 2023-2026 menyentuh angka 11 miliar dolar AS, melonjak signifikan dibanding siklus sebelumnya yang berkisar 7,5 miliar dolar. Piala Dunia 2026 di Amerika Utara diprediksi menjadi mesin uang terbesar dalam sejarah turnamen empat tahunan itu.
Namun justru di sinilah letak ironinya. USSF, yang wilayahnya menjadi panggung utama dua turnamen raksasa FIFA, merasa tidak dilibatkan secara maksimal dalam pengambilan keputusan strategis. Isu pembagian hasil, pengelolaan komersial, hingga penjadwalan menjadi sumber gesekan yang terus membesar. Bagi federasi yang menanam investasi besar, posisi sebagai penonton di bangku cadangan jelas tidak bisa diterima.
Secara taktik, bergabungnya USSF dengan UEFA mengubah formasi politik secara keseluruhan. Jika sebelumnya oposisi terhadap Infantino berkutat di benua Eropa, kini perlawanan itu lintas konfederasi. Concacaf, rumah USSF, selama ini kerap dipandang sebagai basis dukungan sang presiden. Satu pemain kunci membelot dari starting XI, dan keseimbangan pertahanan Infantino mulai retak.
Babak Kedua: Peta Kekuatan di Kongres FIFA
Mari kita bedah statistik kekuasaan. FIFA memiliki 211 anggota asosiasi, dengan UEFA menyumbang 55 suara. Infantino, yang memimpin sejak 2016 dan dua kali terpilih kembali, membangun kekuasaannya lewat jaringan luas di Afrika, Asia, dan Concacaf. Sistem satu asosiasi satu suara membuat suara negara kecil setara dengan raksasa Eropa — dan di situlah kekuatan politiknya selama ini berakar.
Namun kehilangan dukungan federasi sekelas USSF bukan sekadar kehilangan satu suara. Ini soal legitimasi dan citra. Amerika Serikat adalah pasar komersial terbesar yang sedang dibidik FIFA, dan konflik terbuka dengan federasinya bisa mengganggu harmonisasi jelang dua turnamen akbar. Ibarat kapten tim yang kehilangan kepercayaan bek tengahnya sendiri jelang laga final.
Menit Akhir: Apa yang Menanti Infantino?
Beberapa skenario kini terbuka lebar. Pertama, Infantino membuka dialog dan melunak — opsi paling rasional untuk menjaga stabilitas jelang Piala Dunia Antarklub 2025. Kedua, ia bertahan dengan formasi defensif dan mengandalkan dukungan mayoritas asosiasi kecil. Ketiga, konflik ini menggelinding ke Kongres FIFA dan berubah menjadi pertarungan terbuka yang jauh lebih berisiko bagi semua pihak.
Yang pasti, papan skor politik saat ini tidak berpihak kepadanya. UEFA menekan dari Eropa, USSF menyerang dari Amerika, dan waktu terus berjalan tanpa menunggu. Dalam sepak bola, tim yang kebobolan dua gol masih bisa bangkit — tetapi butuh keberanian mengubah taktik di jeda babak. Pertanyaannya sekarang: apakah Infantino cukup jeli membaca permainan, atau ia akan terus tertekan hingga peluit akhir benar-benar berbunyi?
Comments (0)