UEFA, AFC, dan CONCACAF Kompak Tekan Presiden FIFA Gianni Infantino
Kick-off politik sepak bola dunia baru saja berubah panas. Tiga konfederasi raksasa — UEFA, AFC, dan CONCACAF — bergerak satu barisan menekan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam sebuah tekanan ...
Kick-off politik sepak bola dunia baru saja berubah panas. Tiga konfederasi raksasa — UEFA, AFC, dan CONCACAF — bergerak satu barisan menekan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam sebuah tekanan kolektif yang jarang terlihat di era modern. Jika ini sebuah pertandingan, papan skor sudah berbicara: tiga dari enam konfederasi kini berdiri berseberangan dengan orang nomor satu di federasi tertinggi sepak bola dunia.
Kekuatan barisan penekan ini tidak main-main. UEFA membawahi 55 asosiasi anggota, AFC memiliki 47 anggota, sementara CONCACAF mengoleksi 41 anggota. Gabungan ketiganya mengontrol lebih dari 130 suara dari total 211 asosiasi yang berhak memilih di Kongres FIFA — artinya, lebih dari separuh kekuatan voting sepak bola global kini berada di kubu penekan. Ini bukan sekadar protes biasa; ini penguasaan bola versi politik, dan Infantino sedang tertekan jauh di area pertahanannya sendiri.
Formasi Penekan: Siapa dan Seberapa Kuat
UEFA jelas menjadi ujung tombak. Konfederasi Eropa ini adalah mesin uang terbesar sepak bola dunia di luar FIFA, dengan Liga Champions dan Piala Eropa menghasilkan pendapatan miliaran dolar per siklus. Ketika UEFA berbicara, seluruh dunia mendengarkan — dan kali ini nadanya keras tanpa kompromi.
AFC, konfederasi Asia dengan pasar yang tumbuh paling cepat, membawa isu berbeda: distribusi dana pembangunan dan kalender internasional yang dinilai membebani federasi anggota. Sementara CONCACAF memegang kartu truf tersendiri — tiga anggotanya, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, adalah tuan rumah Piala Dunia 2026, turnamen terbesar dalam sejarah dengan 48 tim dan 104 pertandingan. Menekan FIFA di tengah persiapan turnamen akbar adalah langkah berani yang mengirim pesan tegas ke Zurich.
Akar Masalah: Kalender Padat dan Gaya Kepemimpinan
Gesekan ini tidak datang tiba-tiba. Sejak Infantino memimpin pada 2016, FIFA melakukan ekspansi agresif: Piala Dunia diperlebar dari 32 menjadi 48 tim, dan Piala Dunia Antarklub 2025 digelar dengan format baru 32 klub di Amerika Serikat. Pendapatan FIFA memang melesat — siklus 2019-2022 mencatat sekitar 7,5 miliar dolar AS, dan anggaran siklus 2023-2026 dipatok menembus 11 miliar dolar AS. Namun harga dari ekspansi itu adalah kalender yang kian sesak.
Pelatih klub-klub elite Eropa berulang kali mengeluhkan beban pemain yang berlipat ganda. Serikat pesepak bola dunia bahkan menempuh jalur hukum terkait kalender internasional yang dinilai mengabaikan kesehatan atlet. Bagi UEFA, ini soal melindungi produk dan pemainnya. Bagi AFC dan CONCACAF, ini soal ruang bernapas bagi kompetisi regional mereka yang makin tergencet agenda global FIFA.
Di luar lapangan, gaya kepemimpinan Infantino juga menjadi sorotan tajam. Kedekatannya dengan para pemimpin politik dunia serta proses penetapan tuan rumah Piala Dunia 2034 yang berjalan kilat menuju Arab Saudi memicu pertanyaan besar soal transparansi dan tata kelola organisasi.
Momen Kongres yang Menyalakan Api
Ketegangan mencapai puncaknya pada Kongres FIFA di Asunción, Paraguay. Infantino tiba terlambat setelah lawatan ke Timur Tengah, memaksa agenda kongres mundur berjam-jam. Delegasi-delegasi Eropa merespons dengan aksi yang jarang terjadi dalam sejarah badan sepak bola dunia: walk out dari ruang kongres. UEFA secara terbuka menilai penjadwalan ulang itu lebih mengakomodasi kepentingan politik pribadi ketimbang kepentingan sepak bola itu sendiri.
Momen itu menjadi titik balik. Apa yang sebelumnya hanya berupa bisik-bisik di koridor berubah menjadi tekanan terbuka lintas benua. AFC dan CONCACAF, yang selama ini cenderung memilih diam, mulai menyelaraskan suara dengan Eropa — dan di sinilah tekanan terhadap Infantino berubah skala menjadi krisis kepercayaan global.
Skenario Berikutnya: Jalan Menuju 2027
Semua mata kini mengarah ke pemilihan presiden FIFA 2027. Secara statuta, Infantino masih berpeluang maju untuk satu periode lagi berdasarkan interpretasi Dewan FIFA atas batas masa jabatan. Namun dengan tiga konfederasi menguasai mayoritas suara kongres, jalan menuju pemungutan suara itu dipastikan tidak akan mulus.
Beberapa skenario mulai mengemuka: reformasi kalender internasional sebagai kompromi, pembagian pendapatan yang lebih merata ke asosiasi anggota, hingga kemungkinan munculnya kandidat penantang yang diusung blok penekan. Yang pasti, penguasaan bola politik kini berada sepenuhnya di kaki konfederasi.
Sepak bola dunia sedang menyaksikan laga taktik paling menarik di luar lapangan hijau. Infantino, yang selama hampir satu dekade mengendalikan tempo permainan FIFA, kini menghadapi pressing tinggi dari tiga arah sekaligus. Peluit akhir belum ditiup — tetapi tekanannya sudah terasa hingga menit-menit akhir pertandingan.
Comments (0)