Trump Terima Jersey Infantino, Bahas Kesiapan Piala Dunia 2026
Panggung utama sepak bola dunia resmi mendapat jaminan politik tertinggi dari Amerika Serikat. Sebuah jersey timnas berpindah tangan di Oval Office, Gedung Putih, Selasa (28/8) — Presiden FIFA Giann...
Panggung utama sepak bola dunia resmi mendapat jaminan politik tertinggi dari Amerika Serikat. Sebuah jersey timnas berpindah tangan di Oval Office, Gedung Putih, Selasa (28/8) — Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkannya langsung kepada Presiden Donald Trump, yang berpose bangga dengan cenderamata tersebut. Namun ini bukan sekadar seremoni tukar hadiah. Agenda sesungguhnya jauh lebih besar: memastikan mesin persiapan Piala Dunia 2026 berjalan sesuai jadwal.
Infantino terbang ke Washington membawa misi yang jelas. Amerika Serikat akan menjadi pusat gravitasi turnamen dengan 60 dari total 80 pertandingan dimainkan di Negeri Paman Sam, sementara Kanada dan Meksiko masing-masing kebagian 10 laga. Bagi Trump, ini soal prestise negara di mata dunia. Bagi Infantino, ini soal memastikan proyek termahal dalam sejarah FIFA tidak menemui hambatan berarti dari sisi dukungan pemerintahan.
United 2026: Kemenangan Voting yang Mengubah Peta
Perjalanan menuju 2026 sendiri sudah menyerupai final yang dramatis. Pada Kongres FIFA di Moskow, Juni 2018, penawaran gabungan bertajuk United 2026 — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — membekuk Maroko dengan skor telak 134 suara berbanding 65. Hasil itu melahirkan sejarah baru: untuk pertama kalinya, Piala Dunia akan digelar di tiga negara sekaligus, sebuah eksperimen logistik lintas perbatasan yang belum pernah dicoba FIFA sebelumnya.
Angka-angkanya mencengangkan. Turnamen akan memainkan 80 pertandingan dalam 32 hari, melonjak dari 64 laga pada format sebelumnya. Laga puncak diproyeksikan berlangsung di stadion berkapasitas raksasa, dengan MetLife Stadium di New Jersey disebut-sebut sebagai kandidat terkuat tuan rumah final. Bagi zona Concacaf, ini adalah jackpot mutlak — kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Karibia mendapat alokasi slot peserta yang jauh lebih besar dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Format 48 Tim: Revolusi Terbesar Piala Dunia
Inilah statistik yang menjadi headline utama 2026: jumlah peserta melejit dari 32 menjadi 48 tim. Ekspansi 50 persen ini merupakan gagasan andalan Infantino sejak menjabat Presiden FIFA pada 2016. Format baru membuka pintu bagi negara-negara yang selama ini hanya menjadi penonton — Asia mendapat tambahan kuota signifikan, Afrika nyaris menggandakan wakilnya, dan Concacaf berpeluang mengirim hingga enam tim ke putaran final.
Kritik memang berdatangan dari berbagai penjuru. Sebagian analis menilai kualitas fase grup berpotensi menurun karena banjir tim debutan. Namun dari sisi bisnis, hitung-hitungannya sulit dibantah: lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak hak siar, lebih banyak tiket terjual, dan lebih banyak pemasukan sponsor. Penawaran United 2026 memproyeksikan pendapatan menembus angka 14 miliar dolar AS — nominal yang membuat mayoritas federasi anggota FIFA tak berpikir dua kali saat menjatuhkan pilihan di Moskow.
Warisan 1994 dan Pekerjaan Rumah Tuan Rumah
Amerika Serikat sesungguhnya punya modal sejarah yang kokoh. Piala Dunia 1994 — edisi pertama di tanah AS — hingga kini masih memegang rekor penonton dengan total 3,58 juta penonton dan rata-rata 68.991 penonton per pertandingan, padahal saat itu hanya ada 24 tim dan 52 laga. Dengan deretan stadion NFL berkapasitas 60.000 hingga 80.000 kursi yang sudah berdiri megah, infrastruktur bukanlah persoalan besar bagi tuan rumah.
Yang menjadi fokus pembahasan di Oval Office justru aspek di luar rumput lapangan: koordinasi keamanan lintas tiga negara, kebijakan visa bagi jutaan suporter mancanegara, serta sinkronisasi tiga pemerintahan berbeda dalam satu payung turnamen. Pertemuan Trump-Infantino menjadi sinyal kuat bahwa Gedung Putih menaruh perhatian penuh pada hajatan akbar ini. Hitung mundur menuju Juni 2026 resmi berjalan — dan sekarang, bola sepenuhnya berada di kaki tuan rumah.
Comments (0)