Mochamad Nur Arifin Pimpin Trenggalek dengan Inovasi Digital dan Desa Mandiri

<h2>Mochamad Nur Arifin Pimpin Trenggalek dengan Inovasi Digital dan Desa Mandiri</h2> <p>Mochamad Nur Arifin, atau yang akrab disapa Mas Ipin, menjabat sebagai Bupati Trenggalek sejak 26 Februari 2021. Pria kelahiran 8 Februari 1989 ini menjadi sala

Mochamad Nur Arifin Pimpin Trenggalek dengan Inovasi Digital dan Desa Mandiri

Mochamad Nur Arifin, atau yang akrab disapa Mas Ipin, menjabat sebagai Bupati Trenggalek sejak 26 Februari 2021. Pria kelahiran 8 Februari 1989 ini menjadi salah satu kepala daerah termuda di Indonesia. Sebelum definitif menjabat, ia sempat menjadi Pelaksana Tugas Bupati sejak 2019 menggantikan Emil Dardak yang diangkat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur. Arifin mengusung latar kader partai PDI Perjuangan dengan rekam jejak sebagai aktivis muda dan mantan anggota DPRD Kabupaten Trenggalek.

Profil dan Latar Belakang

Arifin menamatkan pendidikan sarjana di Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Airlangga Surabaya dan kemudian meraih gelar magister dari universitas yang sama. Karier politiknya dimulai sebagai anggota DPRD Trenggalek periode 2014-2015, sebelum terpilih sebagai wakil bupati mendampingi Emil Dardak pada Pilkada 2015. Sebagai kader PDI Perjuangan, ia dikenal dekat dengan akar rumput dan aktif dalam kegiatan kepemudaan serta pengembangan ekonomi kreatif. Perjalanannya ke tampuk kepemimpinan Trenggalek diwarnai dinamika transisi ketika Emil Dardak mundur untuk menjabat wagub, sebuah pengalaman yang memberinya waktu belajar memimpin daerah selama lebih dari dua tahun sebelum dilantik secara definitif.

Program Unggulan dan Kinerja

Salah satu terobosan menonjol adalah program Trenggalek Smart City yang mendorong digitalisasi pelayanan publik. Di bawah kepemimpinannya, seluruh desa di Trenggalek telah terhubung dengan jaringan internet dan memiliki command center desa. Sistem ini mengintegrasikan data kependudukan, layanan administrasi, hingga pengaduan warga secara real-time. Pada 2023, Kabupaten Trenggalek meraih penghargaan Smart City dari Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk kategori kota kecil, dengan Indeks SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) mencapai 3,51 poin, naik signifikan dari 2,8 pada awal jabatannya.

Program Desa Mandiri dan Ekonomi Kerakyatan juga menjadi andalan. Arifin meluncurkan inisiatif "Satu Desa Satu Produk Unggulan" yang mengolah potensi lokal seperti olahan singkong, kerajinan bambu, dan pariwisata berbasis alam. Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi Trenggalek membaik dari minus 2,36 persen pada 2020 menjadi plus 4,57 persen pada 2023. Tingkat kemiskinan berangsur turun dari 12,1 persen (2021) menjadi 10,8 persen (2023). Di sektor infrastruktur, program bedah rumah tidak layak huni telah menyentuh lebih dari 3.500 unit rumah warga miskin dalam tiga tahun anggaran.

Kontroversi dan Tantangan

Meskipun inovasinya diakui, kepemimpinan Arifin tidak lepas dari kritik. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat menyoroti lambannya penanganan jalan rusak di wilayah selatan seperti Kecamatan Panggul dan Munjungan, yang berdampak pada distribusi logistik dan akses wisatawan. Pada 2022, puluhan warga menggelar protes di depan kantor bupati menuntut perbaikan jalur penghubung yang mangkrak lebih dari setahun. Selain itu, program "Satu Desa Satu Produk" dikritik karena dinilai kurang melibatkan anak muda lokal secara langsung dalam rantai pemasaran digital, sehingga manfaat ekonominya belum merata. Pandemi COVID-19 juga menjadi ujian berat, di mana sektor pariwisata sebagai andalan Trenggalek sempat lumpuh dan pemulihannya berjalan lebih lambat dibandingkan daerah tetangga.

Penilaian dan Prospek

Secara umum, Arifin dianggap berhasil membawa modernisasi tata kelola pemerintahan di Trenggalek. Kemauannya merangkul teknologi dan memperkuat kemandirian desa mengundang apresiasi dari pemerintah pusat serta menjadikan Trenggalek sebagai percontohan kabupaten digital di Jawa Timur. Namun, tantangan struktural seperti ketimpangan infrastruktur antarwilayah dan regenerasi pelaku ekonomi kreatif masih menjadi pekerjaan rumah. Prospeknya ke depan cukup terbuka: ia disebut-sebut sebagai kader potensial untuk bursa pemilihan gubernur Jawa Timur 2028, sejalan dengan popularitasnya yang terus meningkat dan dukungan mesin partai yang solid. Apakah Arifin mampu menuntaskan janji politiknya dalam dua tahun tersisa akan menjadi penentu warisan kepemimpinannya di Trenggalek.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User