Tasyakuran dan Bedah Ilmiah Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa Digelar di Masjid Sunda Kelapa
Suasana khidmat dan intelektual menyelimuti Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat pekan ini. Pondok Pesantren Al-Raisiyah Sekarbela Matar
Suasana khidmat dan intelektual menyelimuti Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat pekan ini. Pondok Pesantren Al-Raisiyah Sekarbela Mataram bersama Yayasan Masjid Sunda Kelapa resmi meluncurkan dan membedah kitab monumental, Ithafu Ummati Al-Muqtafa bi Syarhi Kifayati al-Akhya’ fi Halli al-Istisyna’. Karya tulis ini merupakan sumbangsih akademik penting dari Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainuddin Atsani, Lc., M.H.I., yang berupaya merangkum khazanah mazhab Syafi’iyah dalam satu jilid ensiklopedis.
Acara yang digelar sejak pagi tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan. Tampak hadir para ulama, akademisi, santri, serta masyarakat umum yang antusias menyimak paparan seputar kitab yang membahas secara komprehensif problematika istitsna’ (pengecualian) dalam hukum Islam. Kehadiran Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama RI, Hj. Helmi Yenti Atsani, S.Ag., turut menambah syahdu seremoni peluncuran yang dibalut dengan nuansa tausiyah keilmuan ini.
Ketua Yayasan Masjid Sunda Kelapa, Agus Safei, dalam sambutannya menekankan bahwa pihaknya sangat antusias mentasyakuri kehadiran kitab ini. Menurutnya, langkah menjadikan masjid sebagai episentrum peradaban literasi merupakan upaya strategis untuk menghidupkan kembali fungsi tradisional masjid di era Nusantara dahulu. “Kita ingin mengembalikan kejayaan intelektual masjid. Bukan sekadar tempat salat, tapi juga pusat lahirnya karya-karya besar. Semoga kehadiran kitab ini menjadi pemantik bagi lahirnya karya serupa dari sudut-sudut masjid lain di Indonesia,” ujar Agus Safei dengan penuh optimisme di hadapan audiens. Senada dengan hal itu, takmir masjid berkomitmen untuk terus menjadi ruang inklusif bagi diskursus keislaman yang mendalam dan toleran.
Kitab setebal lebih dari 730 halaman ini bukanlah karya biasa. Sebagai syarah (komentar) dari mandzumah Kifayatu al-Akhya’, kitab ini membedah secara analitis persoalan istisna’ (pengecualian) dalam lingkup keimanan, akad, hingga transaksi muamalah kontemporer. Penulis, TGB Zainuddin Atsani, yang akrab disapa dengan panggilan kehormatan tersebut, melakukan penelitian secara runut dan penuh ketelitian, merujuk pada puluhan literatur klasik dalam disiplin fikih, ushul fikih, hingga kaidah tata bahasa Arab. Proses kreatif penulisan yang memakan waktu cukup panjang ini menghasilkan sebuah rujukan yang diharapkan mampu menjadi 'rujukan pamungkas' bagi para pengkaji hukum Islam, khususnya di lingkungan pesantren dan perguruan tinggi Islam.
“Kitab ini lahir dari keprihatinan akan langkanya literatur spesifik yang membahas pengecualian secara tuntas, padahal satu ‘pengecualian’ bisa mengubah total status hukum sebuah akad. Ini adalah pendakian intelektual yang tidak mudah, namun TGB berhasil menyajikannya secara sistematis,” ujar seorang panelis dalam sesi bedah kitab.
Analisis Signifikansi: Mengisi Kekosongan Pustaka Fikih Analitis
Peluncuran kitab ini menjadi angin segar di tengah tren kajian Islam populis. Di era di mana banyak kajian keislaman berkutat pada isu permukaan dan viral, kehadiran kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa menandai adanya resistensi intelektual dari otoritas pesantren. Kitab ini secara spesifik mengisi celah (gap) literatur dalam mazhab Syafi’i, di mana kajian tentang pengecualian sering kali terpencar di berbagai bab dalam kitab fikih besar seperti Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab atau Nihayah al-Muhtaj, tanpa ada pembahasan yang terfokus.
Pemilihan Masjid Sunda Kelapa sebagai lokasi peluncuran juga merupakan pilihan yang sarat simbol. Masjid bersejarah ini merupakan salah satu saksi bisu penyebaran Islam di Batavia. Dengan menghidupkan tradisi keilmuan di masjid, para inisiator acara tengah merevitalisasi memori kolektif umat Islam Indonesia bahwa peradaban Islam klasik dibangun di atas perpusatakaan dan halaqah masjid, bukan hanya di kampus atau lembaga formal. Ini adalah strategi kebudayaan yang cerdas dan perlu direplikasi.
Dari Halaqah Pesantren ke Panggung Nasional: Dampak Jangka Panjang
Dampak signifikan lainnya adalah terbukanya akses keilmuan yang lebih luas. Dengan memilih format syarah modern dan dicetak secara profesional, kitab ini menjembatani kesenjangan antara kitab kuning tradisional yang biasanya hanya dikaji di pesantren salaf dengan gaya studi Islam kontemporer. Ini memungkinkan para mahasiswa hukum Islam dan praktisi ekonomi syariah untuk mendalami seluk-beluk pengecualian tanpa harus kesulitan menelaah manuskrip kuno. Dari segi konten, analisis yang disajikan TGB Zainuddin Atsani bersifat aplikatif. Ini penting, mengingat sektor ekonomi syariah Indonesia bertumbuh pesat dan membutuhkan landasan fikih yang solid. Kesalahan dalam menempatkan istisna’ dalam kontrak, misalnya dalam akad pesanan, dapat berujung pada sengketa hukum yang serius.
“Ini bukan hanya karya ritual, ini adalah blueprint solusi. Ketika ekonomi syariah semakin kompleks, alat seperti istisna’ ini harus dipahami secara presisi. Kitab ini memberikan pegangan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan spiritual,” tegas Dr. Hasanuddin, pakar Hukum Ekonomi Syariah dari UIN Jakarta, di sela-sela acara.
Perbandingan Bobot Kajian: Sebelum dan Sesudah Kehadiran Kitab
| Aspek Kajian | Literatur Konvensional (Sebelum) | Kitab Ithafu Ummati (Sesudah) |
|---|---|---|
| Fokus Bahasan | Tersebar dan parsial dalam bab-bab umum fikih | Terintegrasi dan komprehensif dalam satu jilid khusus |
| Metode Analisis | Deskriptif normatif | Analitis, komparatif antar mazhab, dan kontekstual |
| Relevansi Kontemporer | Terbatas pada transaksi klasik | Menjangkau akad muamalah modern dan ekonomi digital |
| Aksesibilitas Bahasa | Kaku dan sulit dipahami pemula | Struktur sistematis, lugas, namun tetap ilmiah |
| Jangkauan Khazanah | Hanya rujukan Syafi’iyah dasar | 50+ kitab induk klasik lintas generasi dirujuk |
Acara ini diakhiri dengan doa bersama dan penyerahan simbolis kitab kepada perpustakaan masjid. Para peserta yang hadir berharap bahwa penerbitan ini dapat menjadi awal dari kebangkitan tradisi keilmuan masjid yang lebih sistematis dan berdampak luas. Sebuah langkah kecil dari Masjid Sunda Kelapa yang dapat menjadi lecutan bagi pusat-pusat studi Islam lain di penjuru Tanah Air untuk terus menulis, mengkaji, dan menyebarkan ilmu yang otentik.
[SOCIAL_FB]: Jumat berkah di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Bersama Yayasan Masjid Sunda Kelapa dan Pondok Pesantren Al-Raisiyah, kami mentasyakuri launching Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa. Sebuah mahakarya ilmiah setebal 730 halaman karya TGB M. Zainuddin Atsani yang mengupas tuntas hukum Istisna’. Ketua Yayasan, Agus Safei, menegaskan komitmen menjadikan masjid sebagai pusat peradaban literasi. Semoga menjadi amal jariyah dan rujukan umat. Mari hidupkan tradisi ilmu di rumah Allah! 🔍 Fokus: Problematika Istisna’ dalam Fikih Syafi’i. 📊 Karya ini merujuk pada 50+ kitab induk & menjawab tantangan ekonomi syariah modern. "Kita ingin mengembalikan kejayaan intelektual masjid," ujar Agus Safei. Sebuah langkah strategis menghidupkan halaqah ilmu di pusat kota. Menariknya, acara ini bukan sekadar seremonial, tapi upaya balik kanan untuk mengubah masjid jadi pusat peradaban literasi. Selamat untuk para inisiator! 🕌✨📚 #LiterasiMasjid #FikihSyafii
Comments (0)