Tangis Perpisahan Roger Federer di Laver Cup 2022

London, 23 September 2022. O2 Arena bergemuruh, namun bukan karena kemenangan. Seluruh isi stadion serempak berdiri, menciptakan gelombang tepuk tangan yang tak terbendung saat Roger Federer menyeka a...

Tangis Perpisahan Roger Federer di Laver Cup 2022

London, 23 September 2022. O2 Arena bergemuruh, namun bukan karena kemenangan. Seluruh isi stadion serempak berdiri, menciptakan gelombang tepuk tangan yang tak terbendung saat Roger Federer menyeka air matanya di kursi pemain. Skor akhir 4-6, 7-6(2), 9-11 di super tiebreak antara dirinya dan Rafael Nadal melawan Jack Sock serta Frances Tiafoe hanyalah angka. Malam itu, tenis kehilangan salah satu penutur paling fasih, dan Federer menutup bab terakhir kariernya dengan isak tangis yang mengharu biru.

Laga Pamungkas yang Emosional

Berpasangan dengan Nadal dalam laga ganda Laver Cup 2022, Federer sebenarnya menunjukkan kilasan magis yang pernah membawanya ke 20 gelar Grand Slam. Ia membuka servis dengan presisi, dan pada game ketiga, sebuah drop volley khas dari net langsung memaksa error pasangan Amerika. Namun, Tiafoe dan Sock yang lebih muda dan eksplosif perlahan merebut kendali. Pada game kedelapan set pertama, servis Federer dua kali dipatahkan melalui pengembalian backhand Sock yang datar ke kaki Federer. Skor 4-6 menutup set pembuka.

Di set kedua, chemistry Federer-Nadal mulai menyala. Pada game kelima, Nadal melepaskan forehand passing shot menyilang yang tak terjangkau Tiafoe. Pasangan Eropa memaksakan tiebreak, dan Federer menutupnya dengan dua ace berturut-turut di kedudukan 6-2. Super tiebreak penentuan berjalan sengit. Federer bahkan sempat melakukan challenge yang berhasil di kedudukan 8-8. Namun, pada match point pertama, Sock meluncurkan return backhand rendah yang hanya bisa ditangkis setinggi net oleh Federer. Bola jatuh di sisi Eropa. Skor akhir 4-6, 7-6(2), [9-11] terpampang di papan skor.

Statistik laga mencatat pasangan Federer/Nadal membukukan 23 winner berbanding 27 milik Tiafoe/Sock. Federer sendiri mencetak 14 winner dan 12 unforced errors—termasuk dua pukulan voli yang meleset di momen krusial. Namun, angka tak sanggup merekam gemuruh emosi yang menyusul. Saat Sock merebut poin terakhir, seluruh anggota Tim Dunia justru mendatangi Federer untuk memberi penghormatan. Ia memeluk Nadal erat, lalu menangis tanpa suara di bangku pemain. Rekannya, Novak Djokovic dan Andy Murray, ikut berlinang air mata dari pinggir lapangan.

Era yang Berakhir dengan Air Mata

Federer gantung raket dengan catatan 1.251 kemenangan dari 1.526 pertandingan tunggal ATP sepanjang karier profesionalnya sejak 1998. Ia pensiun sebagai pemegang 20 gelar Grand Slam—sebuah rekor yang kemudian dilampaui Nadal dan Djokovic, namun tetap menempatkannya dalam trinitas tenis modern. Dengan 103 gelar level tur, Federer hanya kalah dari Jimmy Connors (109) dalam daftar peraih gelar terbanyak era Open. Total hadiah uang tunai yang ia kumpulkan menembus US$130 juta, belum termasuk ratusan juta dolar dari kontrak sponsor.

Lebih dari angka, Federer adalah ikon yang merevolusi tenis. One-handed backhand-nya yang anggun menjadi pembeda di tengah dominasi pukulan dua tangan. Selama 237 pekan berturut-turut ia menduduki peringkat satu dunia—sebuah pencapaian yang belum terpecahkan hingga kini. Pada usia 36 tahun, ia sempat kembali ke singgasana ranking ATP, menjadi petenis tertua yang melakukannya. Di lapangan rumput Wimbledon, ia meraih 8 gelar—terbanyak sepanjang sejarah. Semua itu ia lakukan dengan persentase poin servis pertama yang dimenangi mencapai 77% sepanjang karier, menandakan betapa dominannya pukulan pembukanya.

Perpisahan di Atas Kursi Roda Cedera

Federer tak datang ke London dalam kondisi prima. Lutut kanannya telah menjalani tiga kali operasi dalam dua tahun terakhir. Sejak Wimbledon 2021, ia tak lagi mampu menyelesaikan pertandingan lima set. Di O2 Arena, ia sadar betul bahwa tubuhnya tak lagi mendukung hasrat bermain. "Saya ingin bermain selamanya, tapi kenyataan berkata lain," ujarnya lirih dalam pidato perpisahan yang disiarkan langsung ke seluruh dunia. Air matanya kembali tumpah saat ia menambahkan, "Tenis telah memberi saya segalanya. Saya tidak bisa meminta lebih."

Di luar lapangan, Federer meninggalkan warisan kemanusiaan melalui yayasan yang telah menyekolahkan lebih dari 2,5 juta anak di Afrika dan Swiss. Gaya bermainnya yang all-court dan penuh perhitungan menjadi cetak biru bagi generasi berikutnya. Malam itu, ia bukan hanya kehilangan sebuah pertandingan tenis; ia menyudahi sebuah perjalanan yang menginspirasi miliaran pasang mata. Laver Cup 2022 pun mencatat rekor penonton langsung terbanyak dalam sejarah turnamen, sekaligus menjadi saksi bahwa legenda sejati tahu kapan waktunya berhenti—meski harus dengan air mata.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User