Taklukkan Prancis, Spanyol Samai Rekor 37 Laga Tanpa Kalah Italia
Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Prancis di semifinal Piala Eropa 2024 bukan sekadar tiket ke final. Di Allianz Arena, Rabu dini hari WIB, La Roja menorehkan rekor tak terkalahkan ke-37 secara berunt...
Skor akhir 2-1 untuk Spanyol atas Prancis di semifinal Piala Eropa 2024 bukan sekadar tiket ke final. Di Allianz Arena, Rabu dini hari WIB, La Roja menorehkan rekor tak terkalahkan ke-37 secara beruntun, menyamai catatan mentereng Italia yang sempat bertahan antara 2018 hingga 2021. Lamine Yamal dan Dani Olmo menjadi pahlawan, sementara Randal Kolo Muani sempat membungkam publik Spanyol di menit-menit awal.
Ujian pertama Spanyol datang sangat cepat. Ketika pertandingan belum genap 10 menit, menit ke-9 sebuah skema umpan silang Kylian Mbappé dari sisi kiri berhasil ditanduk Kolo Muani di tiang dekat. Bola meluncur ke sudut bawah gawang Unai Simón yang tak mampu bergerak. Assist resmi milik Mbappé, sundulan itu sekaligus menjadi satu-satunya tembakan tepat sasaran Prancis di babak pertama. Les Bleus unggul cepat 1-0.
Babak Pertama: Dua Pukulan Mematikan dalam Empat Menit
Namun, respons Spanyol tak butuh waktu lama. Formasi 4-3-3 racikan Luis de la Fuente mulai mengalirkan bola dengan sabar—penguasaan bola menyentuh 62% pada 30 menit pertama—sebelum akhirnya gelombang serangan mengubah papan skor. Menit ke-21, Lamine Yamal yang baru berusia 16 tahun menerima bola hasil intersep Fabián Ruiz di sisi kanan. Dengan satu sentuhan untuk mengontrol, ia melepaskan tendangan melengkung kaki kiri dari luar kotak penalti. Bola melayang deras, menyentuh tiang dalam, dan bersarang di gawang Mike Maignan. Gol itu tercatat dengan xG hanya 0,03—salah satu gol paling spektakuler di turnamen.
Belum reda selebrasi, Spanyol menggandakan keunggulan empat menit berselang. Menit ke-25, Dani Olmo menusuk dari lini kedua, mengecoh Adrien Rabiot dengan gerak tipu di kotak penalti, lalu melepaskan tendangan yang mengenai kaki Jules Koundé dan berbelok masuk gawang. Gol resmi dianulir sebagai bunuh diri Koundé oleh UEFA, tetapi pergerakan Olmo-lah yang memecah konsentrasi pertahanan Prancis. Skor 2-1 bertahan hingga turun minum.
Statistik Kunci: Dominasi yang Tak Terbantahkan
Statistik akhir pertandingan menunjukkan superioritas La Roja dalam hampir semua aspek. Mereka membukukan penguasaan bola 56% berbanding 44%, dan yang lebih penting: shots on target 6 berbanding 4. Total tembakan Spanyol mencapai 14, sedangkan Prancis hanya 9. Akurasi umpan Spanyol pun unggul 88% berbanding 84%. Pertahanan Prancis yang digdaya sepanjang turnamen benar-benar diruntuhkan oleh mobilitas lini tengah Rodri-Pedri-Ruiz serta pergerakan liar Yamal dan Nico Williams dari sayap.
Kartu kuning pun tersebar merata. Wasit asal Slovenia Slavko Vinčić mengeluarkan tiga kartu: masing-masing untuk Aurélien Tchouaméni (menit 60), Robin Le Normand (menit 76), dan Eduardo Camavinga (menit 82). VAR sempat memeriksa potensi offside pada gol Yamal, tetapi tayangan ulang menunjukkan ia berada dalam posisi onside saat menerima bola.
Rekor Tak Terkalahkan: Kini Sejajar dengan Azzurri
Dengan kemenangan ini, Spanyol secara resmi mencatatkan 37 laga kompetitif tanpa kekalahan—sebuah rentang yang dimulai sejak November 2022. Terakhir kali mereka tumbang adalah di UEFA Nations League melawan Swiss. Kini, mereka menyamai rekor Italia yang sempat mendominasi di bawah asuhan Roberto Mancini, termasuk saat meraih trofi Euro 2020. Perbedaannya: rekor Spanyol digapai dengan 29 kemenangan dan 8 hasil imbang, sementara Italia kala itu mengoleksi 30 kemenangan dan 7 imbang.
“Kami bangga dengan raihan ini, tetapi tidak ada yang berhenti di sini. Kami ingin menulis sejarah sendiri dengan trofi di tangan. Final adalah segalanya,” ujar pelatih Luis de la Fuente seusai laga.
Kapten Álvaro Morata menambahkan: “Tim ini lapar. Rekor hanya angka, tapi yang penting trofi. Kami ingin membawa pulang Piala Eropa untuk rakyat Spanyol.”
Jalan Menuju Final: Kunci Kemenangan dan Taktik yang Berkembang
Keberhasilan Spanyol tak lepas dari fleksibilitas taktik De la Fuente. Berbeda dengan gaya tiki-taka murni di masa lalu, tim ini berani menusuk dengan transisi cepat melalui dua sayap. Data menunjukkan bahwa 43% serangan Spanyol dibangun dari sisi kanan, tempat Yamal beroperasi. Nico Williams di kiri juga tak kalah berbahaya—dua peluang emasnya di babak kedua hanya berhasil dimentahkan Maignan.
Prancis yang mengandalkan formasi 4-2-3-1 justru terjebak sendiri. Mereka gagal mencatat clean sheet meskipun di babak pertama hanya membiarkan dua tembakan tepat sasaran. Gol Kolo Muani menjadi satu-satunya momen berharga; sisanya, lini serang pimpinan Mbappé dan Griezmann tumpul oleh pressing tinggi Rodri serta disiplinnya duet Aymeric Laporte–Nacho di jantung pertahanan.
Kini, mata tertuju ke laga puncak. Spanyol tidak hanya membawa rekor, tetapi juga momentum sempurna. Jika mampu menjaga performa seperti babak semifinal, bukan mustahil mereka pulang sebagai juara dengan rekor tak terkalahkan yang lebih panjang—dan mungkin, melampaui Italia untuk selamanya.
Baca juga:
Comments (0)